MDMC Jateng Kerahkan Semua Potensi Respon Tanggap Darurat Bencana

0
358

KEBUMEN – Bencana Banjir dan Longsor menimpa 16 Kabupaten di Jawa Tengah sejak tanggal 18 Juni 2016. Merespon bencana tersebut, Lembaga Penanggulangan Bencana (MDMC-Muhammadiyah Disaster Management Center) Jawa Tengah mengerahkan potensi Muhammadiyah untuk memberikan bantuan darurat.
Menurut Naibul Umam, ketua MDMC Jateng, pihaknya telah membuka posko induk di Kantor Muhammadiyah Surakarta guna mengendalikan semua pos lapangan yang ada di Cilacap, Banyumas, Kendal, Kebumen, Banjarnegara, Purworejo, Surakarta, Sukoharjo dan Sragen. Jumlah pos lapangan akan kami tambah jika kondisi darurat ini berlanjut. Saat ditanya soal jumlah personil yang diterjunkan, Umam menjelaskan bahwa sejak tanggal 18 Juni hingga saat ini kami telah memobilisasi potensi Muhammadiyah yang terdiri dari relawan SAR, Medis, dan Dapur Umum mencapai 323 personil. Jumlah ini akan terus kami tambah tergantung kebutuhan di lapangan.
Sementara itu menurut koordinator posko induk MDMC Jateng di Surakarta, Istanto menyebutkan bahwa penetapan posko induk dan pos lapangan merupakan strategi dalam mengelola seluruh potensi Muhammadiyah agar lebih efektif. Membantu warga terdampak bencana harus dikelola dengan baik dan tidak asal asalan karena saat ini kami masih menilai ancaman bencana lain seperti gelombang pasang dan rob yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Berdasarkan pengalaman tersebut, kami mengkonsentrasikan pengerahan personil ke lokasi bencana dari potensi Muhammadiyah yang terdekat sesuai dengan besar kecilnya dampak dan luasan bencana yang harus ditangani. Misalnya, untuk merespon bencana di Purworejo, maka tim yang kami kirimkan berasal dari wilayah terdekat seperti Magelang, Temanggung dan Wonosobo.
Sebagaimana diketahui bahwa bencana banjir dan longsor kali ini menimpa Jateng dan DIY. Genangan banjir bervariasi dari 30 cm – 150 cm. Di Jawa Tengah bagian selatan, bencana terjadi di wilayah Kabupaten Kebumen, Purworejo, Solo, Banjarnegara dan Banyumas, Banjir meluas di wilayah kebumen, Purworejo dan Solo, Sedangkan Longsor Terjadi di Banyumas, banjarnegara, dan Purworejo. Jumlah korban akibat banjir dan longsor di Jawa Tengah adalah 35 orang tewas, 25 orang hilang, 14 orang luka-luka, ratusan rumah rusak dan kerugian ekonomi mencapai miliaran rupiah.
Daerah yang paling parah mengalami longsor adalah Kabupaten Purworejo. Longsor dengan korban jiwa terjadi 5 lokasi. Di Desa Karangrejo Kecamatan Loano terdapat 9 tewas, 6 hilang dan 1 luka-luka, sedangkan akibat banjir 4 tewas, 2 hilang dan 7 luka-luka. Di Desa Pacekelan Kecamatan Purworejo terdapat 1 tewas dan 1 luka-luka. Di Desa Jelog Kecamatan Kaligesing ada 2 oang hilang, di Desa Sidomulyo Kecamatan Purworejo ada 1 tewas dan 4 hilang, sedangkan di Desa Donorati Kecamatan Purworejo terdapat 4 tewas, 11 hilang dan 2 luka-luka.
Hingga saat ini (21/06/2016) operasi pencarian korban hilang masih terus dilakukan tim SAR Muhammadiyah Jawa Tengah. Salah satu kesulitan adalah aksesibilitas menuju lokasi longsor cukup sulit dijangkau, khususnya jalan menuju Desa Dorowati kondisinya rusak dan terdampak longsor. Status Siaga Banjir sesuai dengan peringatan dini BMKG masih berlangsung untuk 3 (tiga) hari ke depan dengan curah hujan sedang, merata diwilayah Kebumen, Purworejo, Kulonprogo, Bantul, Klaten, Sukoharjo, Surakarta. Warga terdampak sebagian besar masih bertahan di rumah masing-masing, adapun bagi warga terdampak yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana longsor rata-rata mereka mengungsi di tempat sanak saudara terdekat. (Naibul Umam)