Matematika Detik: Menghadirkan “Ilmu Dharuri” pada Pembelajaran Matematika

0
1320
Penemu Matematika Detik berfose bersama PDM Kab Tegal dan AMM usai belajar matematika.

PWMJATENG.COM, TEGAL – Sudah lama Matematika Detik (MD) menjadi sorotan masyarakat khususnya di Tegal dan sekitarnya, terutama sejak terbit pada pertengahan Maret 2017. Saat ini ribuan siswa telah mencicipi TOSM (Test of Second Mathematics), yakni sebagian kecil instrumen Matematika Detik. Termasuk sejumlah sekolah ternama

Apa sih Matematika Detik? Di tulisan ini saya tidak bermaksud menjelaskan TOSM. Sebaliknya, tulisan singkat ini berfokus pada gambar besar dan fondasi Matematika Detik. Seperti kaidah man jahilal ashla lam yushibil far’a abadan (siapa yang tidak tahu masalah pokok, tidak akan pernah tepat pada masalah cabang selamanya).

2 (dua) Serangkai Masalah

‘Kanker dunia pendidikan’ yang segera terjabarkan berikut ini telah menyerang sejak dahulu kala dan seolah terabaikan begitu saja, sehingga ia semakin menguat dan menjalar luas. Hingga saat ini terapi yang diterapkan tidak banyak mengubah situasi, karena hanya bergumul dengan bayangan dan tidak mengatasi masalah yang sesungguhnya. Apa itu?

Pertama, matematika dianggap susah. Matematika dipelajari oleh semua, dari masa prasekolah hingga kuliah, tapi faktanya dipahami hanya oleh segelintir. Itu sebuah ironi besar. Apakah ribuan jam milik puluhan hingga ratusan juta siswa menjadi sia-sia?

Kedua, matematika dianggap berseberangan dan bahkan bertentangan dengan kreativitas. Matematika, dipersepsikan sebagai perwujudan kerja ‘otak kiri’, berperan pada pemikiran logis, sekuensial, rasional, analitis, dan objektif. Sebaliknya kreativitas, yang didominasi otak kanan, bekerja secara acak, intuitif, holistik dan subjektif.
Ini masalah serius. Ketika di dalam sekolah siswa belajar matematika, di luar sekolah—yakni di dunia nyata yang tengah memasuki era digital—justru sangat menuntut kreativitas. Tentu saja, kemampuan berpikir kreatif lebih penting daripada kemampuan menghafal puluhan rumus trigonometri.

Lalu bagaimana? Bagaimana caranya kita memecahkan kedua situasi kontradiktif tersebut sekaligus?

Albert Einstein memberi petunjuk, “We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them.” Di balik situasi kontradiktif tersebut di atas pasti ada gugusan pemikiran yang menciptakannya. Apapun itu, kita harus meninggalkan pola pikir lama dan selanjutnya menggunakan sudut pandang baru. Yaitu, sesegera dan sekokoh mungkin kita menempatkan dan menegaskan pembelajaran matematika ke dalam bingkai besar kegiatan membudayakan inovasi, yakni berpikir dan mencip. Jadi, kegiatan pembelajaran matematika bertujuan bukan sekadar memahami matematika, tetapi lebih pada berpikir melalui matematika.

Berpikir, Cepat dan Lambat

Daniel Kahneman menyadarkan bahwa berpikir terdiri 2 (dua) jenis: cepat dan lambat. Temuan psikologi tersebut telah diterapkan secara luas di bidang ekonomi. Dampaknya revolusioner. Alhasil, pada 2001, sang psikolog diganjar dengan hadiah di bidang ekonomi. Seharusnya temuan itu bisa diterapkan di bidang pembelajaran. Mengapa tidak kita coba?

Sebenarnya jauh sebelum Kahneman, ilmu manthiq telah menyebutkan secara lugas. An-nazhariyyu mahtaja lit taammuli, wa ‘aksuhu huwa adh-dharuriyyul jali (ilmu nazhari adalah yang menghendaki perenungan, kebalikannya jelaslah ilmu dharuri). Bila dikaitkan dengan temuan Kahneman, ilmu dharuri berkaitan dengan berpikir cepat, ilmu nazhari dengan berpikir lambat.

Sama dengan ilmu ekonomi yang sudah usang, pembelajaran matematika pun tidak mengakui dan mengelola berpikir cepat (ilmu dharuri). Akibatnya pembelajaran matematika menjadi kegiatan mengumpulkan dan menerapkan rumus. Mekanistis dan tidak manusiawi. Nah, Matematika Detik berupaya berupaya menghadirkan ilmu dharuri di pembelajaran.(Hendra Apriyadi)