Majelis Ta’lim Sabtu Pahing Ranting Purwodadi Temanggung. Bukti Mengakarnya Pengajian Muhammadiyah

0
347

Temanggung – Pimpinan Ranting Muhammadiyah beberapa waktu lalu menggelar Majelis Ta`lim Sabtu Pahing yang kemudian lebih akrab dengan sebutan Selapanan Sabtu Pahing, dan dihadiri para warga disekitar Desa Purwodadi. Majelis Ta`lim ini disebut selapanan karena diadakan setiap 35 hari sekali menurut perhitungan hari pasaran jawa.
Desa Purwodadi yang terletak di Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung, terdiri atas 13 dusun besar dan kecil, yaitu Bangsri 1, Bangsri 2, Tangkah, Sikepan, Kuwaton, Gowongan, Krajegan, Gembongan, Kemiri, Temanggungan, Krandahan, Tinebah dan Kuwarakan. Selapanan Sabtu Pahing kala itu bertempat di dusun Temanggungan, tepatnya di Masjid Ponpes Al-Mu`min Muhammadiyah Tembarak. Meskipun hujan terus megguyur, namun tidak menyurutkan hasrat para warganya untuk tetap berdatangan. Majelis ta`lim tersebut dihadiri oleh sekitar 50 jama’ah putra dan 150 jama’ah puti serta 25 anak-anak usia SD baik laki-laki maupun perempuan.
Pembicara pengajian tersebut, Drs. H. Asy`ari Muhadi, M.Ag, dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Temanggung, yang menyampaikan tentang Kemusyrikan. Menurutnya, kemusyikan (menyekutukan Allah) menjadi pokok pembahasan yang urgen, mengingat seringkali manusia melakukan praktek kemusyikan tetapi tidak menyadarinya. Menyembah berhala ataupun mengagung-agungkan selain Allah termasuk syirik besar, begitupula dengan mempercayai dukun (peramal nasib). Ketika kesyirikan tersebut telah meraja lela, maka perbuatan riya’ (sombong) yang seringkali tidak terasa dalam praktek keseharian, dapat menjadi salah satu praktek musyrik (musyrik kecil). Membanggakan diri sendiri yang kadang tidak terasa sebagai perbuatan tercela, nyatanya termasuk salah satu perbuatan musyrik kecil. Asy`ari Muhadi mengibaratkan perbuatan membanggakan diri dengan ucapan “Jika tidak ada saya, akan bagaimana jadinya!”.
Salah satu peserta Majelis Ta`lim, Yuntofi`ah, S.Pd, mengatakan peran Majelis Ta’lim tersebut sangatlah penting untuk masyarakat. Siraman rohani tersebut menjadi hal yang mendasar untuk menjaga kesejukan hati. “Menjaga keharmonisan masyarakat tentunya dimulai dengan menjaga keharmonisan dalam qalbu tiap-tiap insan”, paparnya. (Riza Fitroh Kurniasih/editor: Fakhrudin)