Mahtum: Setiap Pribadi Muslim Wajib Merasakan Hidup Bahagia Dunia dan Akhirat

0
679
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kendal, Ustadz H. Mahtum Ali Samhari, BA saat menyampaikan tausiah di masjid An nur Kedonsari, Penyangkringan, Weleri

PWMJATENG.COM, KENDAL – Kebahagiaan hidup adalah dambaan setiap manusia. Siapapun orangnya, kebahagiaan selalu ingin diburu, namun kebahagiaan yang haqiqi adalah di dunia dan akhirat, seirama dengan do’a yang sering kita panjatkan “Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar”. Demikian dikatakan Ustadz Mahtum Ali Samhari dalam tausiah subuh ceria masjid An nuur Kedonsari, Penyangkringan, Weleri Sabtu (25/2) . Menurut beliau, Rasulullah pernah memberi nasehat kepada para sahabatnya, dan apabila kita cermati juga menuju tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat,

Mahtum yang juga ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kendal menguraikan konsep hidup bahagia dunia akhirat diawali dengan menjaga diri sendiri dari yang haram “ menolak segala yang diharamkan Allah diwujudkan dengan bentuk menghindari uang, makanan, minuman, perbuatan dan segala sesuatu yang diharamkan oleh Islam. Jagalah dirimu dari segala yang haram, niscaya kamu menjadi orang yang paling ahli ibadah “ tegas beliau mengutip ayat Al qur’an Surat Al baqarah : 168 “ Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang ada di bumi, dan janganlah mengikuti langkah – langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu “ .

Kebahagiaan dunia dan akhirat juga bisa diperoleh dengan menerima pemberian dari Allah dengan rela, “ apapun yang datangnya dari Allah kita terima dengan rela, ikhlas “ ujarnya “ karena tidak ada segala sesuatu yang ada di bumi dan langit, kecuali dari Allah “.

2502-pengajian-2

Tetangga adalah orang yang terdekat setelah anggota keluarga, “ maka berbuat baiklah kepada tetangga, karena mereka yang mudah untuk kita berbagi dalam kesulitan, kesusahan maupun kegembiraan “ katanya lagi.

Dihadapan ratusan anggota jamaah subuh Mahtum memberi syarat, kebahagiaan bisa dirasakan apabila seseorang muslim bisa mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri, “ cintailah untuk orang lain seperti cinta pada diri sendiri “ ujarnya, kali ini beliau mengutip hadits Nabi ‘ tidaklah salah seseorang dari kalian beriman sehingga hingga ia mencintai untuk saudaranya, atau dia mengatakan, ‘ untuk tetangganya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya sendiri ‘

Di bagian akhir tausiah, Mahtum mengingatkan kepada jamaah tentang tertawa dalam Islam. Menurutnya, tertawa adalah perbuatan yang sering dilakukan manusia untuk menghilangkan stress dan penat setelah bekerja seharian “ tertawa dalam Islam diperbolehkan, tetapi jangan banyak tertawa yang kita sebut antagha, atau tertawa dengan terbahak – bahak “ saran beliau. “ Tertawa yang berlebihan “ sambungnya “ berakibat mematikan hati “ pungkas Mahtum ( A. Ghofur/MPI Kendal )