Kokam UMP Siap Mengawal Aset dan Penegakkan Dakwah Muhammadiyah

0
515

PWMJATENG.COM, PURWOKERTO – Markas Besar Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda (KOKAM) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menyatakan siap mengawal Muhammadiyah terkait dengan rangkaian kejadian penyerangan terhadap tokoh-tokoh agama dan ulama Islam. Khususnya, insiden yang menimpa KH Hakam Mubarok di Lamongan.

Terkait hal itu, Komandan KOKAM UMP, Iwan Fakhruddin SE., M.Si., Ak., CA., mengatakan, KOKAM adalah garda terdepan pengawal panji-panji Muhammadiyah. “Jika ada oknum yang mengusik dan mencederai Muhammadiyah, maka KOKAM UMP harus hadir dan siap Mengawal demi menegakkan dakwah amar maruf nahi munkar,” tandasnya.

Iwan menambahkan, KOKAM UMP telah meningkatkan kewaspadaan dan mengupayakan pengawalan atau pengamanan terhadap aset Amal Usaha Muhammadiyah. Khususnya, pondok pesantren dan Majelis Talim beserta seluruh tokoh-tokoh dan ulama Muhammadiyah dan Aisyiyah yang ada disekitaran Banyumas Raya.

“Semua anggota KOKAM agar melakukan komunikasi dengan aparat penegak hukum jika menemukan dan atau mendapatkan laporan hal-hal yang mencurigakan di wilayah daerah masing-masing.

Seperti apa yang terjadi di Panti Asuhan Muhammadiyah Ajibarang dalam penjagaan polisi, karena ada orang gila mondar mandir sekitar panti, kemarin,” katanya saat memimpin rapat diklat sar di Ruang Sidang UMP, Rabu (21/2).

Selain itu, seluruh kader KOKAM UMP juga dihimbau untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan Memohon perlindungan-Nya di setiap aktivitas. Khususnya, dalam melakukan pengawalan dan pengamanan.

“Para kader KOKAM agar saling bersinergi dengan stakeholder yang ada dalam lingkungan masyarakat dengan mengedepankan ukhuwah dan persatuan umat dan bangsa,” tandasnya.

Para kader itu juga diminta untuk bertindak cepat dan tegas dalam merespons kejadian-kejadian yang meresahkan masyarakat, menjaga akhlak yang baik, dan mencegah tindakan main hakim sendiri. Mereka juga diimbau untuk mengupayakan koordinasi dan komunikasi dengan aparat penegak hukum, jika menemukan hal-hal yang mecurigakan dan meresahkan masyarakat.

“Aksi penyerangan terhadap ulama bukan kali pertama ini terjadi. Sebelumnya, penyerangan yang dilakukan oleh orang gila telah menewaskan seorang Ustaz Persatuan Islam (Persis) di Bandung dan melukai Kiai Umar Basyri (pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah di Tenjolaya, Cicalengka, Bandung),” pungkasnya. (tgr)