Kisah Nila, Anak Penjual Jamu yang Jadi Dokter di UMP

0
25

PWMJATENG.COM, PURWOKERTO – Mimpi Nila Munaya, gadis kelahiran Brebes, Jawa Tengah, 10 Maret 1995, menjadi dokter akhirnya terwujud. Nila menyelesaikan S1 Pendidikan Dokter di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, tahun 2017 pada 23 september 2019 lalu.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang Profesi Dokter (koas) di Rumah Sakit jejaring dan utama (1 tahun di RS dr.Soeselo Slawi, selanjutnya ke Puskesmas di Kab.Banyumas, yaitu Puskesmas Jatilawang, RSUD Salatiga, dan B2P2TOOT Tawangmangu utk stase herbal. Setelah melewati perjuangan panjang, Nila akhirnya melaksanakan sumpah dokter, Senin (13/1/2020).

Namun, di balik capaian itu, Nila anak dari pasangan keluarga Sofwan Moh Ishom dan Nur Aeni ini harus melalui perjuangan berat untuk menggapai cita-citanya. Tujuannya satu, anak sulung dari dua bersaudara ini ingin mengangkat derajat kedua orangtuanya.

Nila terlahir dari keluarga sangat sederhana. Ayahnya bekerja sebagai penjual jamu, sedangkan ibunya sebagai guru, mengabdi sebagai guru honorer 10 tahun yang diangkat menjadi ASN tahun 2006 lalu.

Meski demikian, profesi orangtuanya tidak membuat Nila berkecil hati. “Saya dari kecil ketika ditanya mau jadi apa? Saya jawab ingin menjadi dokter. Meskipun awalnya orangtua ragu dan khawatir tidak mampu membiayai kuliah saya. Tapi berkat dukungan dari semua pihak, kami percaya Allah akan memberikan rezeki dan memberi pertolonganNya, sehingga Insya Allah bisa menjalani semuanya sampai akhir,” kata Nila.

Nila sempat patah semangat, saat usianya masih duduk di Sekolah Dasar. Saat berdialog dengan guru pembimbing yang menginspirasinya. “Saking sayangnya beliau (guru pembimbing) bilang kepada teman gurunya bahwa, kasihan ya, orang tuanya mungkin tidak bisa menyekolahkan untuk menjadi dokter. Tapi dari keluarga saya memang hanya memiliki keinginan dan tekad yang kuat modal bismillah untuk memiliki harapan salah satu dari keluarga kami ada yang di bidang kesehatan, khususnya menjadi dokter,” urai Nila.

Orangtua Nila saat itu tidak punya pilihan lain selain niat dan tekad yang kuat untuk menguliahkan anaknya menjadi seorang dokter. “Nila sejak kecil sudah memiliki cita-cita menjadi dokter. Dan waktu itu saya bilang, untuk menjadi dokter itu uangnya harus banyak. Dan itu uangnya darimana? Namun keluarga semua mengatakan yang penting punya niat dan cita-cita yang kuat,” tutur Nur Aeni.(tgr)