Ketua Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah: “Pemilih Kian Pragmatis”

0
341

Semarang – Perilaku masyarakat dalam menentukan pilihan politiknya semakin banyak pertimbangan pragmatis, bukan lagi berdasarkan kedekatan ideologinya dengan partai, kata Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah, Rohmat Suprapto, S. Ag, M. Si.
“Perjalanan Reformasi selama 15 tahun terahir ini semakin menguatkan kebenaran tesis Cak Nur (Nurcholish Madjid) yang dulu menyatakan bahwa ‘Islam Yes, Partai Islam No’,” kata Rohmat.
Dosen Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) itu memberi contoh aktual bagaimana perilaku warga Muhammadiyah dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah pada 26 Mei 2013.
Mayoritas warga Muhammadiyah, terutama kalangan muda, menurut Rahmat memilih duet Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko yang diusung PDI Perjuangan. Kalau ikatan ideologis memang dianggap masih kuat, katanya lagi, warga Muhammadiyah mungkin memilih pasangan Bibit Waluyo-Sudijono yang dijagokan Partai Demokrat, Golkar, dan PAN atau mencoblos Hadi Prabowo-Don Murdono yang dicalonkan PKS, PPP, PKB, PKNU, Hanura, dan Gerindra. Kemenangan Ganjar, menurut dia, juga dominan di kantong-kantong Nahdlatul Ulama, seperti di daerah pesisir utara Jawa Tengah hingga Keresidenan Kedu. “Itu menunjukkan bahwa ikatan ideologi pemilih dengan yang dipilih tak lagi paralel. Pertimbangan pragmatisnya lebih dominan,” ucapnya seraya menambahkan bahwa pemilih pragmatis itu kelak menangih Ganjar atas janji-janji politiknya.
Oleh karena itu, tipologi masyarakat Jawa menurut antropolog Clifford Geertz yang populer hingga tahun 1980-an, menurut Rahmat, saat ini dan mungkin di masa mendatang tidak relevan lagi untuk menjelaskan hubungan ikatan partai dengan kultur santri-abangan.
Ia menjelaskan pada Pemilu 1955 hingga 1971, misalnya, pilihan politik seseorang lebih mudah dibaca berdasarkan latar belakang kulturnya, apakah mereka dari kalangan santri atau abangan. Kalangan santri cenderung memilih Partai Masyumi, sedangkan abangan cenderung preferensinya ke PNI.
Warga Muhammadiyah hari ini, menurut Rahmat, tidak memandang PAN sebagai saluran politik satu-satunya. “Warga Muhammadiyah itu bersemboyan: “sami’na wa analisa”. Kami mendengar, kami menganalisa. Silakan bicara, kami akan menganalisis untuk menentukan pilihan,” demikian Rahmat. (Fakhrudin/antara-jateng)