Ketua PDPM Kota Semarang Kembangkan Rumah Kos Menjadi Pondok Karakter

0
336

SEMARANG – Keberadaan usaha sewa rumah kos selalu tumbuh dan berkembang setiap tahunnya, terutama di kota besar yang dekat dengan posisi perguruan tinggi, pabrik maupun perkantoran. Banyak orang menilai bahwa jenis usaha sewa rumah kos hampir sama dengan jenis usaha sewa rumah kontrakan, yaitu dinilai sebagai investasi yang tepat dengan pertimbangan kemudahan yang didapat yaitu cukup menerima pembayaran uang sewa dari penyewa rumah kos tanpa harus melakukan aktivitas lainnya.
Maraknya pembangunan rumah kos menjadi salah satu parameter kontrol bagi pemerintah tiap kota untuk menghitung jumlah pendatang di kota tersebut. Mobilitas penduduk yang tinggi, faktor pariwisata, budaya, pendidikan dan perdagangan menjadi faktor terbesar yang menyebabkan jumlah pendatang di suatu kota mengalami peningkatan tajam.
Di Kota Semarang, terdapat banyak perguruan tinggi yang besar sehingga lebih dari 60% mahasiswa adalah dari luar kota dan akhir pilihannya adalah menggunakan jasa sewa rumah kos.
Ada tiga komponen yang tidak bisa dipisahkan bagi kehidupan mahasiswa, yaitu kampus, lingkungan masyarakat dan rumah kos, bila anak tersebut menggunakan jasa sewa rumah kos. Hal tersebut ditangkap oleh para pemilik rumah kos, salah satunya adalah yang berada di area kampus IKIP PGRI Semarang.
Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Semarang, Amruddin Mahfudh Juma’i, SE, MM, yang juga memiliki rumah kos tersebut tidak hanya sekedar menyediakan tempat kos sebagai tempat tinggal saja. Namun, rumah kos tersebut didesain sebagai “Pondok Karakter”.
Direktur Pondok Karakter, Wiwik Dwi Haryono,S.Pd, menjelaskan bahwa Pondok Karakter adalah program kerjasama pemilik Kos dengan IKIP PGRI Semarang yang memiliki visi mencetak kader pendidikan yang beretika, memiliki kompetensi kepemimpinan dan pemberdayaan masyarakat. Adapun pelayanan yang diberikan para pengguna jasa rumah kos melalui pondok karakter adalah pelatihan kepribadian, pelatihan spiritual, pelatihan soft skill dan pelatihan kepedulian sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Gagasan Pondok Karakter tersebut merupakan hal yang baru ada di Semarang, yang dibina langsung oleh IKIP PGRI Semarang. Pembukaan pondok karakter sendiri sudah dilaksanakan hampir enam bulan yang lalu di Sasana Tinju HM.Sutan Rambing dan dibuka langsung oleh Rektor IKIP PGRI Semarang, Dr. H. Muhdi, SH, M.Hum, dan dihadiri pengurus Yayasan PGRI, Dr. H. Sudarto,MA, H. Widadi,SH, dan jajaran IKIP PGRI lainnya serta ratusan mahasiswa yang kos di sekitar IKIP PGRI Semarang.
Rektor IKIP PGRI Semarang, Dr. H. Muhdi, SH, M.Hum, menyatakan trobosan tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi pembentukan karakter mahasiswa sehingga mahasiswa tidak hanya sekedar memiliki kemampuan prestasi akademik belaka. Namun, kemampuan pengendalian diri yang membentuk jiwa kepemimpinan sangat diperlukan. Disamping itu, pemilik kos tidak hanya sekedar menikmati uang sewa rumah kos saja. Pembinaan terhadap anak kos juga harus dilakukan karena pemilik rumah kos adalah pengganti dari para orang tua mahasiswa yang kos.
Hal senada disampaikan Ketua yayasan IKIP PGRI, Dr. Sudharto, yang menyambut baik program tersebut dan agar dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan dari dibentuknya program Pondok karakter.
Juma’i selalu pemilik kos juga bertekad dari penghasilan usaha rumah kos tersebut disisihkan 2,5 % untuk kemaslahatan ummat melalui Lazis. Juma’i berharap semoga para pemilik kos lainnya dapat mengikuti langkah-langkahnya sehingga dapat mengurangi tindakan-tindakan yang tidak diinginkan dari para penghuni kos. Juma’i juga berharap agar Pemerintah Kota Semarang harus menata keberadaan rumah kos melalui perda, sehingga kenyamanan akan senantiasa terwujud baik bagi pemilik kos maupun warga setempat. (Fakhrudin)