Jejak Pencerahan Kyai Hasyim Tokoh Muhamadiyah Jepara

0
84

“Jika sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga” itu kata Bang Rhoma.

Kalimat itu juga yang kami rasakan saat ini,ketika beliau sudah tidak ada. Eksistensi Muhammadiyah di Desa Blimbingrejo diawali dari keberanian beliau untuk berusaha memurnikan ajaran Islam yang saat itu sudah melenceng jauh dari syariat Islam. Beliau adalah Bapak *Umar Hasyim*.

Dalam beberapa literasi yang saya dapatkan dari Ijazah dan Surat Keterangan dari Universitas yang pernah beliau belajar didalamnya,beliau lahir pada tanggal 30 Oktober 1943, dua tahun sebelum Indonesia merdeka. Lahir dari 3 saudara,namun kakak tertua meninggal saat masih balita,beliau adalah putra kedua dari Bapak *Mitra Sawiyan*.

Pendidikan beliau, yang Penulis lihat dari Surat Keterangan Lulus beliau, pernah di SR (Sekolah Rakyat-setingkat SD) Mayong II (lulus tahun 1956), Beliau juga sempat sekolah di MI 6 Tahun Ma’ahid Kudus (tahun 1965), PGAN 4 Tahun (tahun 1980), PGAN 6 Tahun Kudus (tahun 1973), IKIP Muhammadiyah Surakarta (tahun 1978). Namun beliau juga pernah belajar di IKIP Muhammadiyah Kudus Tahun 1975.

Salah Satu Buku Karangan Umar Hasyim

Pekerjaan beliau adalah Guru PNS Pendidikan Agama Islam diangkat tahun 1970-an, awalnya bertugas di SD Negeri Blimbingrejo, kemudian berpindah (melimpah) ke SMP Negeri Mayong, kemudian berpindah lagi ke SMA. Disamping itu beliau juga sebagai seorang penulis buku.

Perjuangannya dimulai dari tahun 1963 (2 tahun sebelum meletus G-30 S PKI) dengan mengumpulkan para pemuda untuk belajar Agama Islam yang lurus, jauh dari ajaran “Kejawen”. Dari beberapa pemuda itulah muncul keberanian untuk mengajak semakin banyak teman. Bahkan banyak juga pemuda dari luar desa yang ikut ngaji, hal ini saya ketahui dari orang yang saya temui dibeberapa desa mengaku pernah belajar bareng dengan beliau.

Hal besar yang dilakukan pada awal2 perjuangan Pak Umar Hasyim adalah dengan memanfaatkan “Masjid Wali” yang ada di desa Blimbingrejo menjadi tempat ibadah bagi para pemuda. Masjid yang awalnya angker dan sebagai tempat persembahan2 (karena letaknya didekat makam) dirubah menjadi tempat ibadah yang bersih. Namun pada tahun 1980-an Masjid Wali harus dibongkar karena terkena proyek pembuatan sungai (tepat ditengah sungai). Sebagai ganti tanah Masjid Wali,maka pemerintah memberikan tanah di sebelah utara sungai. Di tanah itulah akhirnya didirikan Masjid Baitul Muttaqin.

Di awal2 perjuangan Bapak Umar Hasyim banyak rintangan,bahkan usaha pembunuhan terhadap beliau beberapa kali terjadi,sampai kaca rumah beliau pecah dilempar seseorang yang sampai sekarang masih bisa kita lihat dirumah beliau. Pembangunan Musholla Al-Falah yang berada di lantai 2 dianggap gila oleh masyarakat,karena dianggap “kurang empyak gegedhen cagak”,mungkin satu2nya bangunan tingkat saat itu di desa Blimbingrejo.

Pak Umar Hasyim adala pribadi yang suka membaca,penulis mendapati majalah dan surat kabar tahun 1960-an. Segala buku dan tabloit sempat ditemukan dirumah beliau.

Pak Umar Hasyim bukan hanya pandai dalam berpidato,tapi juga beliau pandai dalam menorehkan pena dalam sebuah buku. Kepandaian beliau dalam berdiplomasi menjadikan beliau sebagai salah satu penasehat Bapak Bupati saat itu,setiap Bupati berkeinginan untuk menetapkan sebuah keputusan besar maka meliau memanggil beberapa tokoh. Diantaranya adalah Bapak Umar Hasyim. Berkat kepandaian beliau dalam diplomasi juga, SD Muhammadiyah Blimbingrejo (yang didirikan pada tahun 1971), pada saat penulis sekolah, terdapat 5 guru PNS.

Kepandaian menulis Pak Umar Hasim dimulai sejak usia SD. Sejak SD beliau sudah menulis buku Diary hingga beliau meninggal. Buku catatan kecil yang Penulis temukan di kantor Madin mendokumentasikan kejadian yang terjadi pada hasil rapat dan kejadian2 yang terjadi di desa Blimbingrejo. Diantara hasil karya beliau berupa Buku antara lain : Muhammadiyah Jalan Lurus, Syetan Sebagai Tertuduh, Cara Mendidik Anak Dalam Islam Jilid I dan Jilid II, Mencari Takdir, Sunan Muria Antara Fakta dan Legenda, Mencari Ulama’, Apakah Anda Termasuk Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Dan beberapa tulisan beliau tentang Wali Sanga, serta Pancasila, UUD ’45 dan Islam. Namun buku Pancasila, UUD ’45 dan Islam tidak jadi beredar karena dilarang oleh Pemerintah. Selain itu masih banyak karya beliau yang tidak diketahui oleh penulis.

Diantara pemasaran hasil karyanya adalah dibawa ke arena Muktamar Muhammadiyah,seperti yang diceritakan oleh Pak Syukri Abdul Wahab,para pemuda diajak kearena Muktamar untuk menjualkan buku karya beliau. Muktamar Muhammadiyah terakhir yang beliau ikuti sebelum beliau meninggal adalah pada tahun 1990 di Yogyakarta.

Diantara jasa2 beliau diluar desa Blimbingrejo adalah dengan ikut pendirian SMA Muhammadiyah Mayong dan PKU Muhammadiyah Mayong, saat itu Kecamatan Nalumsari dan Mayong belum dipisah. Namun setelah Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta beliau mengalami kecelakaan,kemudian beliau juga terkena penyakit Hepatitis (penyakit kuning) yang saat itu sedang marak. Penyakit tersebut sempat diberobatkan di RS Kariyadi Semarang,namun akhirnya beliau dipanggil oleh Allah pada tahun 1992.

Salah satu buku karangan Imas Hasyim

Yang lebih menyenangkan adalah beliau diberi Piagam Penghargaan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jepara pada tahun 2018 sebagai Tokoh yang mengembangkan Muhammadiyah di Jepara.

Sejak ditinggal beliau,belum ada yang meneruskan karya2 beliau. Namun Muhammadiyah berkembang di desa Blimbingrejo. Saat ini AUM yang sudah dimiliki oleh Ranting Blimbingrejo antara lain :
1. TPA (Taman Pengasuhan Anak) Aisyiyah Qurrota A’yun
2. SPS (Satuan Paud Sejenis) TAAM I dan II
3. TK ABA I dan II
4. SD Muhammadiyah Blimbingrejo
5. SMP Muhammadiyah Asy-Syifa’ Blimbingrejo (Pondok Pesantren)
6. TPQ Aisyiyah Manafiul Ulum
7. Madin Manafiul Ulum I, II, dan III
8. Musholla : Baiturrahman, Hamzah Abu Arisy, Al-Falah, Al-Hidayah, At-Taqwa
9. Masjid Baitul Muttaqin
10. Aula Muhammadiyah

Namun ada keinginan Pak Umar Hasyim yang belum terwujud,yaitu mendirikan Balai Pengobatan (tanah sudah disiapkan beliau).

Semoga kami yang ditinggalkan dapat mewariskan peninggalan beliau sehingga menjadi amal jariyah bagi beliau dan generasi mendatang..
Aamiin..

Penulis : Edi Purwanto (Ketua PCPM Nalumsari)