JANGAN TAKUT

0
42

Oleh: Cristoffer Veron Purnomo
Alumnus SMK Muhammadiyah 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2019/2020
Menulis di Risalah Jum’at Majelis Tabligh PWM D.I.Yogyakarta, Anakpanah.id, Suara Muhammadiyah, dan Penulis Buku “Menuju Hidup Sukses”

Dalam kehidupan ini, kita pasti menjumpai sebuah Problematika. Problematika yang muncul sering kali membuat diri kita menjadi kalang-kabut, mengapa bisa terjadi. Padahal sebelumnya dalam jangka waktu yang berdekatan tidak terjadi apa-apa. Kini diri kita bertanya, mengapa hal tersebut harus terjadi disamping itu ibadah kita terus dijalankan dengan rajin tanpa ada yang terlewatinya?

Ternyata, hal demikian terjadi dikarenakan Allah SWT ingin mengobservasi sejauh mana sikap kita dalam menyelami sanubari kehidupan. Hidup ini memang ladang ujian. Sekiranya manusia mengetahui bahwa orientasi kita diciptakan selain ibadah (QS. Adz-Dzariyat: 56) terbesit secercah petuah definitif dari Allah SWT untuk melakukan ujian terhadap hamba-Nya (QS. Al-Baqarah: 155).

Dari ayat ini kita memafhumi bahwa seluruh manusia baik kaya, miskin, pejabat, syekh, bahkan orang biasa pun tidak bisa lari dari ujian Allah SWT. Mereka semuanya pasti akan mendapatkan ujian dari-Nya. Betapa abainya kita dengan ujian yang datang hari ini, sedangkan kita sendiri tidak mau mengambil ibrahnya. Sungguh, ibrah dari ujian yang datang silih berganti itu sangat bermakna bagi kita.

Memang sifat ujian Allah SWT yang tengah kita hadapi secara kolektif sekarang tidaklah mudah untuk dilakukan. Ujian yang datang hari ini benar-benar memberikan perhatian khusus bagi kita selaku umat Islam untuk kontemplasi diri atas perbuatan yang telah kita lakukan. Tidak banyak dari kita yang pernah melakukan perbuatan yang baik. Semuanya pasti pernah berbuat buruk terhadap siapapun.

Dalam situasi yang krusial nan sumir ini, setiap umat diselimuti oleh perasaan getir. Perasaan getir yang menyelimuti alam pikiran dan hatinya itu dinilai wajar. Sebab kehadiran mikroba yang sangat misterius dan mematikan ini menjadi sebuah pengajaran yang tak akan terlupakan dalam sejarah kehidupan manusia, khususnya pada abad ke-21 ini.

Dengan hadirnya rona kehidupan yang tidak terang ini, membuat diri kita dituntut untuk berjuang dalam menghadapi ujian Allah SWT ini. Semuanya pasti takut untuk tertular dan takut mengalami kematian. Walaupun demikian, tidak eloknya diri kita untuk mengatakan bahwa, “Tuhan itu tidak sayang, buktinya tidak melindungi negeri ini dari wabah yang mematikan.”

Pernyataan tersebut hanya dapat dipahami oleh manusia dengan pola pemikiran yang dogmatis. Kalau manusia yang berpikir autentik, pasti dirinya beranggapan, “Saya yakin Allah melindungiku, dan Dia pasti menepati janji-Nya dalam Al-Qur’an yang berkata لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ”. Artinya manusia yang rasional dan autentik berkeyakinan dengan tinggi bahwa dengan hadirnya wabah pandemi Covid-19 ini kita dituntut untuk jangan takut. Kita masih punya Allah SWT yang selalu membersamai dengan kita di manapun dan kapan pun kita berada.

Artinya, jangan takut berlebihan dengan pandemi Covid-19. Selagi kita masih yakin Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Al-Waliy (melindungi), niscaya diri kita tidak akan terjangkit oleh Covid-19. Pada waktu yang sama, jangan lupa untuk senantiasa mematuhi dan mengejawantahkan protokol kesehatan. Dengan kita mematuhi dan mengejawantahkannya, kita telah berkontribusi besar untuk dapat memutus penyebaran matarantai pandemi Covid-19. Sehingga paradigma kehidupan yang krusial nan sumir ini, bisa bertransformasi menjadi kehidupan yang mencerahkan.

Hatta, kalau kita menjadikan لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖini sebagai spirit spiritual kita, niscaya dalam menjalani kehidupan di nuansa pandemi Covid-19 ini kita tidak sedih bahkan getir. Dengan demikian kita bisa beribadah dengan khusyuk sebagai pilar insan Muslim yang tercerahkan. Wa Allah A’lam. []