INDEPENDENSI MEDIA TERHADAP GEJALA SOSIAL DI MASYARAKAT

0
809
The McLeod Group
sumber: The McLeod Group Ilustrasi

Oleh : LUQMAN AZHARY

(Aktifis Anti Korupsi, Anggota Pemuda Muhammadiyah Salatiga)

INDONESIA adalah sebuah negara yang mempunyai tingkat keragaman yang begitu kompleks, ratusan suku, ribuan bahasa dan ratusan ribu adat hidup diserpihan surga yang jatuh kebumi, dalam perjalananya negeri ini sudah mengalami tiga kali perubahan sosial yang besar, pertama adalah perubahan yang terjadi pada tahun 1945 yang dimotori Soekarno, perubahan kedua adalah saat orde baru molai tumbuh dan mengakar pada tahun 1965, oleh seorang Jendral miskin, anak seorang petani, sedangkan perubahan yang ketiga terjadi pada tahun 1998 di arsiteki oleh kaum muda Revolusioner seperti Amin Rais dan seluruh Mahasiswa Indonesia. Hal itu sering kita sebut sebagai Reforasi, Ketiga perubahan tersebut sangat mempengaruhi tatanan sosial masyarakat indonesia, dalam setiap perubahan itu pula selalu menyisakan tanya yang terkadang sangat menggamnggu pikiran penulis sampai saat ini.

Tak bisa dipungkiri, dalam masyarakat multikultur di Negeri Zambrud Katulistiwa ini sangat sering terjadi gesekan sosial antar penghuni rumah besar Indonesia, berbagai hal yang memicu terjadinya gesekan tersebut antara lain Agama, Ras dan Suku, hal itu akan terus terjadi sampai kapanpun jika penghuni rumah Indonesia tidak saling menyadari perbedaan dan keanekaragaman yang ada, jauh sebelum itu Bapak bangsa sebetulnya telah memprediksi bahwa permasalahan yang demikian ini pasti terjadi, oleh sebab itu semua pendiri bangsa telah sepakat bahwa untuk menyatukan perbedaan yang sangat kompleks ini kita harus berpegang teguh pada pemersatu bangsa ini yaitu, PANCASILA, merah-putih dan UUD 1945.

Beberapa permasalahan diatas mempunyai sebuah benang merah yang jika kita urai satu persatu akan saing berkaitan satu sama lain. Salah satu dari sekian banyak masalah yang akan penulis bahas dalam tulisan ini adalah tentang peran media dalam perubahan sosial masyarakat Indonesia, seperti kita ketahui bersama media memiliki tenpat khusus dalam setiap perubahan sosial di Indonesia bahkan dunia, media ibarat pisau yang memiliki dua mata runcing yang kedua sisinya dapat menyayat semua yang ia kehendaki, penggunaan media bisa digunakan untuk kejahatan ataupun kebaikan, sebagai contoh The Fed yang menggunakan media untuk mengkampanyekan dan menutupi kejahatan-kejahatan mereka, sehingga masyarakat menjadi buta dan tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Dalam tulisan ini akan penulis bahas tentang sejarah jurnalisik, media independen harapan masyarakat dan kritik terhadap media di era globalisasi, harapanya adalah bisa menjadi renungan kita bersama untuk lebih kritis dan bijak dalam melihat dan menulai sesuatu sekaigus supaya tidak mudah terprofokasi oleh berita yang tidak berimbang dan tidak berkualitas.

Menurut F.F Raser Bond Jurnalistik adalah segala bentuk pembuatan berita ulasan mengenai berita sampai pada kelompok pemerhati, jika dilihat dari pengertian itu dapat kita simpulkan bahwa pelaku Jurnalistik haruslah selalu up date terhadap informasi yang berkembang di masyarakat, mereka adalah kurir sebuah peristiwa yang bertugas untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat, seperti Muhammad yang mendapatkan pesan dari Tuhan untuk disampaikan kepada umat manusia di dunia, atau Yesus yang menerima wahyu untuk dijalankan oleh penganut kristiani.

Dua bulan terahir media masa sibuk memberitakan kasus penistaan Agama yang diduga dilakukan oleh Gubernur non aktif Basuki Tjahya Purnama alisan Ahok, didepan masyarakat kepulauan seribu dia berujar bahwa “jangan mau dibohongi oleh Al-qur’an surat almaidah ayat : 51”, yang kemudia di upload di sosial media oleh Buniyani. sontak karena ujaran tersebut banyak masyarakat Indonesia yang gerah terhadap sikap bliau, tidak hanya umat Isalam orang non Islam juga banyak yang mengecam pernyataan tersebut, karena sekali lagi jika ingin hidup di Indonesia haruslah saling menghargai perbedaan dan tidak diperkenankan untuk mengolok-olok keprcayaan orang lain.

Dalam kasus ini peran Media sangat terasa dalam menggiring opini masyarakat, media berlomba-lomba menayangkan segala perkembangan kasus, akan tetapi satu hal yang membuat saya tergelitik, saat salah satu media nasional “tidak diperkenankan” meliput aksi yang dilaksanakan oleh umat Islam saat dilaksanakan pada tanggal 4 oktober 2016 lalu, entah apa yang menjadi alasan tetapi santer terdengar karena ketidak berimbangan berita yang ditayangkan dalam media tersebut. Padahal sejujurnya media haruslah menjadi teman masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya, seperti yang telah saya ungkapkan diatas media itu sangat istimewa kedudukanya karena ia bisa menjadi kawan dimanapun, baik itu kalangan pejabat dan masyarakat. Seyogyanya media menayangkan sesuatu yang sebenarnya terjadi secara proporsional, persoalan ini akan penulis lanjutkan pada pembahasan tersendiri di tema yang lain.

Penulis teringat pada sejarah terbentunya negara ini, saat dimana media sangat solid menyuarakan kemerdekaan indonesia, sehingga pesan yang disampaikan sampai dengan baik kepada masyaraka, saat itu Soekarno ibarat sang Dewa (Ratu Adil) di mata masyarakat, hal itu tidak lain dan tidak bukan karena peran media yang berjasa menokohkan dirinya di depan rakyat Indonesia. Inilah yang terkadang penulis rindukan dari media sekarang, berimbang dan solid menentukan musuh bersama untuk di basmi, berbeda dengan media pada saat ini yang lebih menjadi alat penguasa untuk membantu menghegemoni masyarakat supaya membenci golongan dan kalangan tertentu.

Media saat ini telah berubah fungsi dari penyampai kebenaran menjadi industri yang sangat menggiurkan oleh para milyader dan penguasa, hal ini jelas terlihat saat salah satu TV Nasional selalu bungkam saat memberitakan masalah lumpur lapindo misalnya, atau menyiarkan salah seorang Ketua Umum Partai yang sekaligus pemegang saham terbesar di media tersebut, hal ini sangat bertentangan dengan kode etik Jurnalistik yang sebetulnya harus menjadi pedoman para pencari berita dalam melaksanakan tugasnya. Pencari berita masih “takut” untuk kehilangan pekerjaanya dibandingkan mentaati kode etik yang harus dilaksanakan, hal ini sanggat berbanding terbalik dengan para jurnalis tempo dulu yang selalu menjunjung tinggi idialisme dan kode etik jurnalistik di atas segala-galanya, seagai contoh H. Misbah atau yang di kenal sebagai haji merah komunis Indonesia rela meninggalkan organisasi yang telah membesarkan namanya karena alasan idialismenya, dengan itu pula dia harus keluar dari zona nyaman sebagai pimpinan redaksi saat itu. Sebuah contoh yang sangat terlihat jelas antara kualitas berita diera dahulu hingga sekarang.

Mengambil pemikiran salah seorang filusuf terkenal (hegel) bahwa setiap kejadian dan perubahan dimasyarakat akan selalu melahirkan perubahan yang baru, seperti teori perubahan sosial Tesis-sintesis dan antitesis, jika perilaku menyimpang para pencari berita sudah molai menuju puncaknya, maka akan lahir antitesa atau tandingan dari penyimpagan tersebut, seperti lahirnya komunis yang dibidani oleh karl max dan kawanya engels karena ketidak adilan kaum kapitalis.

Dari gejala menyimpang diatas, maka dewasa ini lahirlah media independen (non formal) yang terbentuk secara alami yang dibidani oleh tekhnologi komunikasi yang selalu berkembang, hal ini tercipta secara khusus sebagai antitesis dari pembodohan yang dilakukan oleh media formal, meskipun kecil media ini sangat efektif dan masif untuk menggiring opini dan membuka wawasan yang berbeda di masyarakat, munculnya generasi Handphone Android di masyarakat disebut-sebut sebagai pemicu revolusi informasi ini, Facebook, Twiter, BBM, WA menjadi media alternatif yang digunakan oleh masyarakat untuk mencari “kebenaran” yang sesunggunya di masyarakat. Bahkan saat ini ada salah seorang kepala daerah yang menggunakan hal ini secara maksimal, seperti yang dilakukan oleh gubernur Jawa Tengah Ir. H. Ganjar pranowo dia menggunakan media sosial untuk mengontrol seluruh aktifitas dan kinerja anak buahnya, alhasi sekarang blia menjadi salah satu kepala daerah yang tergolong berhasil dalam memimpin daerahnya. Hal serupa juga dilakukan oleh kang emil walikota bandung dan bupati batang jawa tengah.

Gerakan kecil ini saat ini bergerak secara masif dalam menggiring opini di masyarakat, dalam masa globalisasi sekarang ini semua orang adalah seorang jurnalis, sehingga dalam membaca dan menganalisis sesuatu kita dapat lebih banyak referensi informasi, pola kemerdekaan jurnalis inilah yang mengakibatkan beberapa negara di barat menjadi maju dan terus berkembang, inilah yang harus selalu kita rawat dan kita jaga supaya menjadi penyeimbang informasi di masyarakat, tentunya kita tidak mengharapkan bahwa apa yang terjadi di amerika akan terjadi pula di indonesia, sesungguhnya apabila kita ingin berdikari di semua hal terlebih dahulu kita memerdekakan tekhnologi dan informasi.  (*)