Ibnu Hasan : Ingin Lazismu Eksis ? Harus Ditongkrongi, Dikawal, Dimotivasi, dan Diawasi

0
69
PENGUATAN LAZISMU. Dari kanan H. Sutiyono, BA (Ketua Lazismu Daerah Kendal, Ketua PDM Banyumas (DR. H. Ibnu Hasan, M.S i), dan Wakil Ketua PDM Kendal, Drs KH. Iskhaq (foto dok hery)

PWMJATENG.COM, KENDAL – Muhammadiyah meyakini, bahwa Lazismu sebagai urat nadi keberlangsungan dakwah persyarikatan. Lazismu ditempatkan sebagai prioritas utama program Muhammadiyah untuk mendukung program Majelis, Lembaga, AUM dan Ortom. Lazismu tidak dipandang sebelah mata dan eksis. Kalau Lazismu ingin eksis, maka konsekwensinya harus dipertegas dan diperjelas. Dengan kata lain, Lazismu ditongkrongi, dikawal, dimotivasi, dan diawasi.

Demikian pernyataan ketua PDM Banyumas, H. Ibnu Hasan yang disampaikan dalam pengajian pimpinan Muhammadiyah se Kab.Kendal pada Ahad (6/10) bertajuk ‘Penguatan Kelembagaan dan Membangun Sinergitas Lazismu dengan Pimpinan Muhammadiyah’ di aula KH. Ahmad Dahlan lantai 3 Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Kendal.

Dihadapan 200 an peserta pengajian, Ibnu Hasan mengatakan, agar dakwah Muhammadiyah tetap menjadi sang pencerah, maka Lazismu selain sebagai urat nadi dakwah persyarikatan Muhammadiyah yang senantiasa mengawal dan menopang dakwah.

“Tujuannya menjadikan dakwah Muhammadiyah berwibawa, karena memiliki kekuatan dan kemandirian”ujarnya.

Menurut Ibnu Hasan, Muhammadiyah masih eksis dengan usianya lebih dari 100 tahun karena Muhammadiyah di bangun dari bawah ke atas, bukan dari atas ke bawah, botton up not top down

“Karakteristik gerakan yang dibangun secara botton up antara lain; keikhlasan, pengorbanan, kepedulian, perberdayaan jama’ah, kemandirian, dan visioner”

“Coba kita cermati teologi Al Ma’un dan Al-‘Asr KH.Ahmad Dahlan, dan kawan-kawannya ketika mendirikan persyarikatan Muhammadiyah” pintanya.

Dikatakan juga, sejarah mencatat, bahwa Rasulullah membangun masyarakat Madinah yang hebat, masyarakat madani dengan kekuatan Baitul Mal, ZIS.

“Kemudian Abu Bakar memulai dengan program besar dalam pemerintahannya dengan menegakkan dana umat dan Baitul Mal” ungkap Hasan.

“Begitu pula dengan Umar bin Abdul Azis sukses membangun negeri yang kuat dengan Baitul Mal” imbuhnya lagi.

Ibnu Hasan memahami betapa pentingnya membangun sinergitas antar pimpinan agar Lazismu tetap efektif dan eksis dalam memberi manfaat besar bagi ummat.

“Membangun sinergitas dilakukan oleh PDM melalui kebijakan yang memiliki ketegasan, disiplin dan terus menerus, bukan musiman. Lazismu harus diselenggarakan dengan sistem manajemen yang baik dan profesional yang meliputi penghimpunan, pentasyarufan, pendayagunaan maupun pelaporan” tegasnya.

“Lasismu harus memenuhi prinsip akuntabilitas, amanah di mata muzakki, maupun pihak independen”

“Manajemen Lazismu satu atap, karena potensi dana umat (ZIS-SISKA) dalam Muhammadiyah sangat besar yang ada di jamaah maupun AUM”

Ibnu Hasal menyadari, potensi dana ummat sangat besar tetapi pengelolaannya masih berserakan, sendiri-sendiri dan tidak terprogram, maka potensi yang besar itu sampai sekarang kurang terasa manfaatnya, bahkan menimbulkan manajemen rumah dalam rumah tangga Muhammadiyah.

“Manajemen satu atap diartikan sebagai penyatuan seluruh dana ZIZ/ZISKA dalam satu tenda besar, yaitu Lazismu agar menjadi kekuatan besar pendukung gerak persyarikatan. Selain itu manajemen satu atap menjadi jawaban Muhammadiyah dalam memenuhi tuntutan Undang-undang nomor 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat” (Fur/MPI Kendal)