Ibnu Djarir: Reorientasi Dakwah Islam

0
350

Reorientasi Dakwah Islam

  • Oleh Ibnu Djarir

PIMPINAN Pusat (PP) Muhammadiyah akan menyelenggarakan Rapat Kerja
NasionaI (Rakernas) Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) pada 20-22
Februari 2009, di Gedung LPMP Srondol Semarang. Dalam perhelatan
nasional itu diharapkan hadir sekitar 275 orang utusan MTDK dari
seluruh provinsi di Indonesia dan utusan MTDK kabupaten/kota se-Jawa
Tengah.

Persyarikatan Muhammadiyah yang dikenal sebagai organisasi Islam
modernis terbesar di dunia, memiliki empat karakteristik: sebagai
gerakan Islam, tajdid, dakwah, dan sosial keagamaan. Empat
karakteristik tersebut telah menjadi pegangan sejak organisasi itu
didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912, dan akan selalu dipegang
teguh oleh segenap pimpinan dan anggota. Keempat karakteristik itulah
yang menjadi salah satu faktor penopang kekuatan organisasi sehingga
tetap eksis dalam usia hampir satu abad.

Gerakan dakwah, dengan berbagai permasalahan, akan menjadi pokok
bahasan dalam rakernas tersebut. Istilah gerakan memberi pengertian
Muhammadiyah adalah organisasi yang dinamis dan transformatif. Adapun
istilah dakwah, yang lebih populer disebut dengan tablig, bisa dipahami
sebagai segenap upaya untuk mengajak manusia, baik individu maupun
kelompok, mengimani dan mengamalkan ajaran Islam.

Kegiatan dakwah mendinamisasi denyut nadi organisasi Muhammadiyah,
sehingga di kalangan mubalig Muhammadiyah ada semboyan ”Tak ada hari
tanpa dakwah”. Semua kegiatan senantiasa bernapaskan dakwah, amar
makruf nahi munkar, yaitu menyuruh manusia agar berbuat kebaikan
(khair) dan mencegah mereka dari kejahatan (munkar).

Dari waktu ke waktu para pakar dan praktisi dakwah selalu mengadakan
evaluasi atas hasil kerja organisasi dalam bidang dakwah dan
perkembangan dakwah Islam. Dari hasil evaluasi tersebut mereka
melakukan reorientasi dakwah dan mengadakan pembaharuan (inovasi)
metodologi.

Evaluasi dan Inovasi

Pada awal berdiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan melihat pelaksanaan
dakwah waktu itu sangat sederhana, yaitu hanya menitikberatkan pada
dakwah bil lisan, berupa pidato, khotbah, dan ceramah. Ini boleh
dianggap sebagai mode dakwah pertama.

Adapun khotbah bentuk lain berupa zending dan misi melaksanakan
penyiaran agama melalui berbagai cara seperti: preaching (khotbah di
gereja-gereja), teaching (mendirikan sekolah-sekolah), dan healing
(mendirikan rumah-rumah sakit).

Karena itu KH Ahmad Dahlan tidak mau ketinggalan dari umat beragama
lain, sehingga Muhammadiyah, di samping mendirikan masjid-masjid, juga
membangun sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, dan panti-panti asuhan
untuk anak-anak yatim dan lansia. Model dakwah yang kedua ini tetap
dilaksanakan dan dikembangkan hingga saat ini dan untuk masa-masa
selanjutnya.

Evaluasi dan inovasi berjalan terus. Fakta di lapangan menunjukkan
pelaksanaan dakwah Islam kurang menjangkau lapisan penduduk di akar
rumput. Efeknya dalam peningkatan kesejahteraan serta pembinaan moral
masyarakat tidak menunjukkan hasil signifkan. Karena itu dalam Muktamar
ke-38 di Makassar 1971 dirumuskan model Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah
(GJDJ).

GJDJ sebagai model dakwah ketiga merupakan kegiatan community
development yang dimulai dari kelompok kecil yang dinamis dan kreatif
dengan tujuan keterwujudan keluarga dan masyarakat sejahtera lahir dan
batin.
 Keberadaan GJDP tidak harus menggunakan nama Muhammadiyah.
Struktur GJDJ terdiri atas 3-8 orang penggerak yang merupakan inti
jamaah (kelompok).

Jamaah  terdiri atas sejumlah keluarga dalam satu RT, RW, atau
kelurahan/desa. Adapun pelaksanaan dakwah jamaah (kolektif) yang
merupakan tanggung jawab bersama berada di bawah koordinasi pimpinan
ranting persyarikatan. Target GJDJ tidak hanya membangun masyarakat
dalam bidang keagamaan, melainkan juga ekonomi, sosial, pendidikan,
kesehatan, budaya, dan lain-lain.

Dalam kenyataannya, program ini belum bisa terlaksana dengan baik,
meluas, dan merata, karena kekurangan tenaga-tenaga penggerak dinamis,
kreatif, dan memiliki dasar-dasar pengetahuan yang diperlukan untuk
pembinaan masyarakat.

Reorientasi Baru

Para pimpinan menyadari meski Muhammadiyah merupakan ormas Islam
terbesar kedua setelah NU, namun kebanyakan warganya adalah penduduk di
kota-kota dan tidak banyak yang berada di desa desa atau kelurahan.
Karena itu dalam muktamar ke-45 di Malang, salah satu keputusannya
ialah pemberdayaan dan pengembangan ranting di seluruh Indonesia.

Mengapa Muhammadiyah kurang begitu berhasil menyebar di kalangan
penduduk pedesaan? Mungkin karena kebanyakan mubalig Muhammadiyah
kurang bisa memberikan apresiasi yang wajar terhadap budaya dan adat
istiadat lokal.

Sebagai gerakan tajdid, Muhammadiyah di satu sisi ingin berpegang pada
pemurnian (purifikasi dan reformasi) ajaran Islam dalam bidang akidah
dan ibadah mahdlah sesuai dengan Alquran dan sunah. Di sisi lain
melakukan pembaharuan dan pengembangan (modernisasi) dalam urusan
muamalah dunyawiah sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi atau kemajuan zaman.

Sebagai konsekuensi dari pemurnian ajaran Islam, maka warga
Muhammadiyah menjauhkan diri dari takhayul, bidah, churafat (TBC), dan
syirik. Pemahaman yang rigid tentang pemurnian tersebut menyebabkan
timbul kecenderungan di kalangan pimpinan dan mubalig Muhammadiyah
untuk tidak mudah mengakomodasi unsur-unsur budaya dan adat istiadat
lokal.

Mereka berpendapat jika tidak hati-hati dalam berintegrasi dengan
budaya dan adat istiadat lokal, dikhawatirkan timbul sinkretisme dalam
pengamalan ajaran Islam atau bercampur baur dengan syirk, takhayul,
bidah, dan churafat.
Dalam rangka memperlancar integrasi Muhammadiyah ke dalam masyarakat
dan mengatasi kendala dakwah, maka dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah di
Makassar 2003 disepakati model dakwah baru yang disebut dakwah kultural.

 Model dakwah keempat ini berlandas utama Alquran dan sunah serta
tajdid, dan dilaksanakan dengan memberikan apresiasi terhadap budaya
dan adat istiadat lokal yang sekaligus dapat merupakan media dakwah,
tidak konfrontatif, melainkan akomodatif, reformatif, dan lemah lembut,
dengan tujuan untuk mengangkat harkat kehidupan masyarakat sesuai
dengan misi Islam rahmatan lil ‘alamin.

Setelah dakwah kultural disahkan sebagai program nasional Muhammadiyah,
maka evaluasi, revaluasi, inovasi, dan reorientasi dakwah tetap harus
dilaksanakan. Mengapa? Sebab keadaan masyarakat selalu berubah,
pendidikan masyarakat makin meningkat, dan ilmu pengetahuan dan
teknologi berkembang pesat.

Jika selama ini pelaksanaan dakwah oleh para mubalig kebanyakan hanya
sebagai tugas sambilan, kini kita memerlukan para mubalig profesional
yang memahami dan memiliki kepribadian Muhammadiyah, siap bekerja full
timer, memiliki keahlian berdakwah melalui media massa.

Adapun ciri-ciri kepribadian Muhammadiyah menurut Dr Haidar Nashir, MSi
(Ketua PP Muhammadiyah):  1) beragama Islam secara otentik (murni)
sesuai Alquran dan sunah, 2) memiliki semangat tajdid dan ijtihad 3)
membangun masyarakat melalui jalur budaya, bukan jalur politik, 4)
enunjukkan uswah hasanah dan melaksanakan amal islami berlandaskan iman
dan ilmu, 5) bersikap moderat, dan 6) berjuang dengan sistem
organisasi. (35)

–– Drs H Ibnu Djarir, wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah