Ibnu Djarir: Mengambil Api Islam

0
281

DALAM bulan Ramadan umat Islam menjalankan ibadah puasa selama sebulan. Ritus yang tidak ringan karena tiap hari, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, muslim harus mencegah makan minum, dan hubungan seksual, serta perbuatan tercela. Ini amalan lahiriah atau aspek fisik dari ibadah puasa. Meski ibadah itu tidak ringan, umat Islam menunggu-nunggu kedatangan bulan suci itu karena tahu banyak keutamaan yang bisa mereka peroleh dengan menjalankan ibadah tersebut.
Bagi mereka yang belum memahami keutamaan ibadah puasa Ramadan, ada yang merasa berat menjalankan, dan ada yang sama sekali tidak menjalankan. Tujuan  puasa telah disebutkan dalam Alquran Surah Albaqarah Ayat 183, yang artinya,” Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Manifestasi orang bertakwa adalah menaati semua perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya, baik perbuatan dosa besar maupun dosa kecil. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tanda-tanda orang yang berhasil menjalankan ibadah puasa Ramadan adalah menaati semua kewajiban agama dan mampu menjauhkan diri dari perbuatan dosa, baik dosa besar maupun kecil. Inilah aspek spiritual ibadah puasa.
Ajaran Islam berupa ibadah mahdlah, di samping aspek fisik, yaitu amalan lahiriah, juga ada aspek spiritual, yaitu elan atau semangat yang hidup dari ajaran tersebut. Misalnya tiap muslim yang mampu diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah 2,5 kg beras, atau makanan pokok lain, untuk diberikan kepada kaum fakir miskin dalam bulan Ramadan.
Ajaran berzakat fitrah dimaksudkan supaya pada Idul Fitri tak ada orang sedih karena tidak ada yang dimakan atau kelaparan. Selain zakat fitrah, orang Islam yang mampu diwajibkan mengeluarkan zakat mal (harta). Spirit dari ajaran zakat adalah orang Islam yang mampu wajib menolong fakir miskin, tidak terbatas pada bulan Ramadan.
Beberapa contoh ibadah lain adalah shalat. Ibadah shalat ditinjau dari aspek fisik adalah bentuk penyembahan kepada Allah Swt berupa gerakan tubuh dan doa-doa tertentu Tetapi ada semangat yang terkandung dalam shalat, yakni kesadaran untuk menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar (Surah Al Ankabut Ayat 45 ).
Jadi, muslim yang mengerjakan shalat dengan benar sudah semestinya tidak melakukan perbuatan keji dan munkar. Jika demikian keadaannya dapat dikatakan ibadah shalat sudah benar-benar fungsional dalam kehidupan muslim. Ibadah haji ditinjau dari aspek fisik merupakan perjalanan muslim dari kediamannya menuju Makkah dan Madinah dengan melakukan manasik. Kebanyakan orang yang beribadah haji hanya memikirkan kegiatan fisik yang tidak ringan itu, karena misalnya bagi orang Indonesia, mereka menghabiskan waktu lama, menempuh jarak jauh, butuh biaya besar, dan menghadapi lingkungan alam yang berat di Arab Saudi. Mereka seharusnya menghayati riwayat perjuangan Nabi Ibrahim as yang sangat berat, tetapi tetap ikhlas berkorban demi menaati perintah Allah Swt sehingga mendapat sebutan Khalilullah (kekasih Allah).
Api Islam
”Ambillah apinya Islam, jangan abunya”, adalah cuplikan salah satu pidato Bung Karno di hadapan umat Islam pada zaman penjajahan Belanda. Setelah melalui perjuangan gigih, termasuk penderitaan di penjara, akhirnya ia menjadi proklamator kemerdekaan, dan kemudian menjadi presiden pertama. Waktu muda ia banyak belajar agama Islam, antara lain pada KH Ahmad Dahlan dan H Oemar Said Tjokroaminoto. Karena memiliki pola pikir revolusioner, ia ingin selalu mengadakan perubahan dan pembaruan, termasuk dalam pemahaman ajaran agama.
Setelah mempelajari agama Islam dan mengamati keadaan masyarakat Islam Indonesia, terbit pemikiran Bung Karno untuk melakukan apa yang ia sebut rejuvenation terhadap pemahaman Islam. Ia ingin kembali memudakan pemahaman Islam supaya ajaran Islam tidak menjadi ajaran yang beku tapi dinamis, dalam arti memiliki semangat hidup atau elan, dan terbuka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan sikap percaya diri, Presiden Soekarno menyelenggarakan Konferensi Islam Asia-Afrika sehingga ia digelari sebagai Pahlawan Islam dan Kemerdekaan. Dengan sikap percaya diri pula ia menyampaikan ayat Alquran dalam Sidang Umum PBB yakni Surah Alhujurat Ayat 13 yang artinya,” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah orang yang paling takwa”.
Sebagai proklamator, Bung Karno dicintai oleh seluruh bangsa Indonesia. Banyak warga Indonesia mempelajari ajaran Soekarno tetapi mungkin masih belum banyak yang mempelajari Bung Karno sebagai muslim. Ketika bangsa Indonesia berhasil mencapai kemerdekaannya maka Soekarno menunjukkan kesyukurannya dengan mendirikan Masjid Istiqlal atau Masjid Kemerdekaan.
Ketika bangsa Indonesia mencapai kemenangan dalam merebut Irian Barat, Bung Karno mendirikan Masjid Alfatah atau Masjid Kemenangan di Ambon. Kesyukuran seorang muslim kepada Allah Swt memang bisa diwujudkan melalui sebuah bangunan monumental sekaligus religius.        

— Penulis: H. Ibnu Djarir, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, Mantan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah. (Artikel ini juga dimuat di Harian Suara Merdeka, Selasa, 16 Juli 2013)