Halal bi Halal untuk Islah Nasional

0
439

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (QS. An Nahl: 90)

Idul fitri  bagi umat Islam merupakan peristiwa penting dalam rangkaian ibadah ramadan. Ada puasa ramadan, salat malam, tadarus, zakat, nuzulul quran, i’tikaf, kajian Islam dan shalat Idul Fitri dilanjutkan halal bi halal. Bagi bangsa Indonesia ramadan tahun ini lain dari tahun sebelumnya karena di bulan ramadan ini bangsa Indonesia memiliki hajat besar yaitu Pemilihan Presiden 2014.

Walau rangkaian proses Pilpres 2014 telah usai, tampaknya masih ada dampak politis dan sosial yang cukup luas. Kemenangan Jokowi-JK ternyata tidak berjalan mulus, masih dipersoalkan oleh pihak kompetitor yakni Prabowo-Hata. Masyarakat seolah terbelah dua dan saling berhadap-hadapan satu sama lain. Bahkan ada juga “perang” media baik cetak maupun elektronik yang diluar batas kepatutan etika kampanye. Olok-mengolok antar pencukung pun tak terelakkan.

Padahal Allah tidak suka dengan olok-olok. Disebutkan;
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik…”. (QS. Al-Hujurat: 11)

Kita semua paham betapa sakitnya olok-olok itu. Ketika seseorang diolok-olok tentu merasa malu dan pedih hati. Karenanya, janganlah mengolok-olok. Belum tentu orang yang mengolok-olok itu jauh lebih hebat dari mereka yang diolok-olok. Singkatnya, Allah membenci orang yang suka mengolok-olok.

Dalam konteks potensi pecah-belah pendukung Pilpres 2014, masyarakat yang sudah terkotak-kotak secara pilihan politik sangat mudah terkena “hasut”. Kondisi hasut seperti ini tentu membahayakan kepentingan bersama, umat dan bangsa. Bukan tidak mungkin, bila salah mengelola, maka akan berbuah problema bagi bangsa dan dan negara.

Indonesia kini membutuhkan suasana sejuk, damai dan aman-tenteram. Yakni, persaudaraan sebagai bangsa (ukhuwah wathaniyah), suasana bersahabat sesama anak bangsa (ukhuwah basyariyah) dan suasana berikhwan sesama umat Islam (ukhuwah Islamiyah) sangat didambakan.

Substansi idul fitri

Disinilah momentum idul fitri dan halal bi halal seyogyanya direfleksikan untuk penguatan tali silaturahim dan mengokohkan bangun persaudaraan sesama anak bangsa. Dengan demikian hubungan sosial antar warga bangsa yang “terkoyak” akibat Pilpres  dapat dirajut kembali. Dalam kaitannya dengan Pilpres 2014, pihak yang nantinya dinyatakan  menang harus  bijak, andap asor, dan tidak jumawa. Demikian pula pihak yang dinyatakan kalah harus dengan ksatria mengakui kekalahan secara ikhlas dan legawa mengakui kemenangan pihak lain.

Pada dasarnya Allah mencintai orang yang ikhlas. Ikhlas adalah sifat qonaah (kepuasan batin) yang lahir dari hati orang yang beriman. Ia merupakan sifat antara seorang hamba dengan dirinya sendiri, tanpa ada yang mengetahuinya, kecuali Allah.

Rasulullah pernah berujar:
Segala amal perbuatan itu tergantung niatnya,dan masing-masing orang akan mendapatkan pahala berdasarkan  niatnya. Barang siapa hijrahnya dengan niat menuju Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa hijrahnya dengan niat mencari harta dan keduniaan, atau demi seorang wanita yang akan dinikahinya maka hanya itulah yang akan ia dapatkan dari hijrahnya.” (HR Bukhari Muslim).

Maka hamba yang sholeh tentu bersemangat untuk berjumpa dengan Rabb-nya manakala dia telah melakukan amal soleh dengan ikhlas karena Allah semata bukan karena tekanan pihak tertentu. Allah dalam Alquran menyebutkan:
”Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia mengerjakan  amal shaleh  dan janganlah dia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya”. (QS al-Kahfi 110).

Sekali lagi, berkaitan dengan Pilpres 2014, seruan moral patut kita ajukan kepada kedua pasangan. Yakni, sebuah kebijaksanaan bila kedua belah pihak segera bertemu bersalaman dan duduk bersama dengan niat tulus membicarakan masa depan bangsa seraya mengucapkan; taqabalallahu minna waminkum, minnal aidin wal waizin , mohon maaf lahir batin. Inti idul fitri tidak lain untuk saling maaf-memaafkan. Kalau masih ada ganjalan seperti merasa dicurangi, sebaiknya diselesaikan sesuai hukum yang berlaku.

Makna idul fitri diatas perlu dijadikan acuan dalam melakukan islah nasional. Islah sangat dibutuhkan menyatukan rakyat Indonesia yang terkotak-kotak akibat perbedaan pandangan, pendapat dan pilihan politik. Rakyat lelah mendengar janji-janji muluk politisi, kebohongan pejabat negara yang korup, para pengusaha yang tidak amanah dan hiruk-pikuk sistem demokrasi Indonesia.

Komposisi demografi Republik Indonesia 80% adalah muslim. Adalah tidak elok kalau sesama muslim saling bermusuhan, karena sesama muslim adalah bersaudara. Persaudaraan dalam Islam akan melahirkan perasaan yang tulus dan jujur serta perasaan yang luhur dalam jiwa. Allah berfirman:
“Ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ,ketika kalian dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah  orang-orang yang bersaudara.“ (QS. Ali Imran 103)

Perhatikan pula sabda Rasulullah:
“orang muslim adalah saudara orang muslim lainnya. Dia tidak boleh mendholiminya, menelentarkannya, atau merendahkannya. (HR. Imam Muslim).

Cinta damai  

Hamba yang sholeh pasti berpikiran sehat, suka kedamaian, menyatukan yang cerai-berai, memperbaiki kerusakan hati dan suka menghilangkan kedengkian dalam dada. Allah berfirman:
“Perbaiki hubungan diantara sesama kalian,dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian adalah orang-orang yang beriman.”(QS. Al Anfal : 1 )

Memperbaiki hubungan dengan cara silaturahim adalah simbol kecintaan kepada sesama anak bangsa dan sesama umat manusia. Cinta damai merupakan buah akhlak yang mulia. Tidak suka cek-cok, tidak larut dalam pertengkaran, dan tidak saling salah menyalahkan. Itu semua adalah bentuk cinta damai yang dilandasi keikhlasaan lahir dan batin. Dan kini, saatnya kita berfikir cerdas dan bijak melupakan segala bentuk perbedaan pandangan, pendapat dan pilihan politik. Islah nasional menjadi pintu masuk kearah rekonsiliasi nasional. Idul fitri menjadi momentum tepat untuk saling maaf dan memaafkan. Wallahu a’lam

Penulis: Yatino P. Sumarto, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Magelang