HAJI DAN JIHAD

0
1082

Oleh Hayati Nufus (MIM Bloran Kerjo)

TULISAN ini terinspirasi Acara Mangayuh Bagyo Jamaah Haji Karanganyar dengan pemateri tausiyah DR. Amin Rais MA di Halaman Rs PKU Muhammadiyah Karanganyar, Jumat 27 Syawal 1438 H.

Surat Ali Imran yang dibaca Qori diawal acara dikutip kembali oleh DR. Amin Rais sebagai muqoddimah kajian, yaitu:
“Katakanlah (Muhammad), benarlah apa yang difirmankan Allah, maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musrik.” QS. 2:95
_”sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk beribadah manusia ialah Baitullah di (Bakkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”_QS 2:96

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” QS 2:97

Ayat di atas adalah perintah Allah kepada manusia untuk mengikuti millah ibrahim yaitu agama tauhid. Ibrahim adalah sosok hanif dan lurus yang selalu cenderung pada kebenaran. Ayat selanjutnya menguraikan tentang kewajiban seorang muslim untuk menunaikan rukun islam yang kelima haji ke Baitullah bila mampu. Seseorang dipandang mampu tidak hanya dari finansial semata tapi juga dari kesehatan fisik dan psikis, kecukupan maisyah untuk keluarga yang ditinggalkan, keamanan dan lain-lain. Siapapun yang enggan dan ingkar atas perintah ini padahal dia mampu maka Allah tidak pernah dirugikan sedikit pun melainkan kerugian itu akan kembali padanya. Sesungguhnya Allah Maha kaya tidak membutuhkan apapun dari alam semesta.
Syariat haji merupakan puncak ekspresi ketauhidan seorang hamba. Haji adalah ibadah yang paling tinggi dan berat, bahkan lebih berat dari shalat, puasa dan zakat. Ketika seseorang berhaji sungguh dia dipaksa untuk keluar dari zona nyaman dengan menanggalkan semua atribut keduniaan seperti harta, pangkat dan tahta untuk kembali menemukan kesejatian dirinya sebagai hamba yang lemah di hadapan kebesaran Allah.

Menurut Ali syariati dalam bukunya ‘HAJI’ mengatakan bahwa Rukun Islam yang membuat umat islam sadar, merdeka, terhornat serta memiliki tanggung jawab sosial adalah: tauhid, jihad dan haji. Tiga hal di atas yaitu tauhid , jihad dan haji saling terkait dan berkait dalam mewujudkan ridho Illahi.

Pak Amin memaparkan, mantan Wapres di jaman Megawati Soekarno Putri, yaitu DR. Hamzah Haz ngudha rasa pada beliau tentang kondisi ukhuwah yang memprihatinkan. Kondisi ukhuwah UII (umat islam indonesia) mengalami degradasi, ditandai dengan lemahnya kepemimpinan umat Islam. Para pemimpin Islam mengalami kemiskinan kaffah (total proverty) istilah pak Hamzah Haz. Kemiskinan kaffah (menyeluruh) tidak hanya pada sisi ekonomi tapi juga akhlak yang compang camping, keimanan yang menipis dan mental spiritual yang melemah.
Perlu rekonstruksi di antara umat islam indonesia sebelum terlambat dalam rangka membangun kejayaan dan marwah islam dan umat islam di bumi pertiwi.

Tentang Jihad.
Jihad adalah terminologi agak dilupakan umat islam di Indonesia, sehingga umat ini tidak memiliki daya tembus, daya dobrak dan daya dorong yang tinggi. Akibatnya umat ini mengalami pelemahan masal yang mengakibatkan kehilangan bargaining power (daya tawar) sehingga tidak menjadi aktor penentu kebijakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Terdapat 41 kata jihad berikut derivasinya dalam al Quran baik berupa fiil, fail dan masdar.
Sebuah kekeliruan mendasar saat ini kata jihad direduksi maknanya dan disandingkan dengan terorisme atau radikalisme.
Kekeliruan ini menekan psikologi umat Islam sehingga menjadi takut dan khawatir berbicara tentang jihad. Tidak heran bila umat islam semakin jauh dari ruhul jihad. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan RosulNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” QS 49:15.

Idealnya setiap muslim menyadari bahwa misi hidupnya di alam ini adalah jihad fi sabilillah (berjuang di jalan Allah) dengan semua sumber daya yang dimilikinya karena hanya dengan berjihadlah kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat dapat diraih.
Jihad adalah usaha sungguh-sungguh menggunakan semua potensi dan sumber daya yang dimiliki yaitu harta dan jiwa untuk melakukan segala aktifitas yang dituntunkan Allah dan Rasulnya agar tercipta tatanan kehidupan Baldatun toyyibah warobun gofur.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” QS 9:111)

Sayyid Quthub seperti dikutip Quraish Shihab menulis dalam tafsirnya Fi Zhlal al-Qur’an, ayat ini menjelaskan hakikat hubungan yang menjalin kaum mukminin dengan Allah swt., serta hakikat janji setia (bai’at) yang mereka persembahkan dengan keislaman mereka sepanjang hayat. Hakikat bai’at ini adalah bahwa Allah mengambil secara penuh jiwa dan harta orang-orang beriman, sehingga mereka tidak lagi memiliki sedikit pun dari keduanya… tidak ada lagi yang boleh mereka sisakan walau sedikit yang tidak mereka serahkan di jalan Allah, mereka tidak lagi memiliki pilihan kecuali menyerahkan ke semuanya di jalan Allah. (al Misbah vol. 5) Transaksi yang Allah bayar dengan harga yang sangat mahal yaitu syurga bahkan lebih mahal dan berharga dari pengorbanan harta dan jiwa. Perintah berjihad adalah bagian dari al -Quran bahkan sudah diperintahkan pada umat-umat terdahulu sebagaimana perintah puasa dan tertera dalam kitab taurat dan injil.

Saya teringat dengan ucapan Buya Hamka saat dilantik menjadi ketui MUI berkata “Kita sebagai ulama telah menjual diri kepada Allah, tidak bisa dijual lagi kepada pihak manapun.”
Buya telah memberi contoh sepanjang hidupnya bagaimana seharusnya seorang muslim teguh dalam pendirian dan berjihad di jalan Allah.

Haji dan Jihad.
Allahummaj’alna hajjan mabruron wa sa’yan masykuron wa janban magfuron wattijarotan lan taburo.
Bait-bait doa di atas adalah capaian ideal seorang haji mabrur, berdampak pada hidupnya yang semakin bersyukur sehingga Allah ampuni dosanya dan ia memiliki perniagaan yang tidak ada ruginya.
Haji mabrur adalah personifikasi seorang manusia yang mengalami transformasi nilai dan kepribadian sehingga makin banyak kebaikan yang dilakukannya. Mabrur berasal dari kata birrun artinya kebaikan dan abror jamak dari birrun . Indikasi kemabruran seorang haji bisa terlihat dari kebermanfaatannya yang semakin besar bagi diri dan lingkungannya, ketaatannya yang setmakin tinggi atas aturan-aturan Allah dan Rasulnya.
Misi para nabi sejak Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad adalah satu yaitu membebaskan manusia dari aneka belenggu yang merengut harkat kemanusiaannya antara lain: kemiskinan, kebodohan, kemaksiyatan dan tirani penindasan yang dilkukan oleh manusia atas manusia. Membebaskan manusia dari belenggu- belenggu tersebut adalah bagian dari jihad fi sabilillah. Para hujaj memiliki peran strategis dalam menghidupkan ruh jihad.
Bila ruhul jihad ini berhasil dihidupkan dan menjadi lyfe style yang tinggi maka penyakit akut umat islam dapat diterapi dengan baik dan rekonstruksi umat lebih mudah diwujudkan dalam rangka merebut kejayaan umat islam indonesia.

Potongan syair indah karya Buya Hamka berikut ini layak kita renungkan sebagai penggugah semangat jihad.
pemuda pemudi Islam bangunlah
Panggilan jihad rampungkan
wasiat Muhammad peganglah…harta dan jiwa serahkan
binalah persatuan…sirnakan perpecahan persatuan …kalam tuhan
Pertikaian menguntungkan musuh tuhan hanya iman tauhid dapat menyatukan, panggilan jihad tirukan
Wallahu a’lam.
(Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman-teman di lingkungan Muhammadiyah Kerjo)
_____
Kerjo 26 Juli 2017