Haedar Nashir Roal Show Baitul Arqom Pimpinan Daerah Muhammadiyah di Jawa Tengah

0
327

SEMARANG – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, belum lama ini menghadiri Baitul Arqom yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, hasil kerjasama dengan MPK Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah. Peserta Baitul Arqom adalah PDM se-eks karesidenan Semarang, yaitu PDM Kabupaten Semarang, PDM Kota Salatiga, PDM Kabupaten Kendal, PDM Kabupaten Demak dan PDM Kabupaten Grobogan. Kegiatan perkaderan tersebut dilaksanakan di SLB Negeri Semarang, dan diikuti oleh kurang lebih 30 peserta.
Ketua panitia, Muhammad Isa Thoriq, mengatakan bahwa baitul arqom tersebut merupakan salah satu program MPK PWM Jateng yang pelaksanaannya terbagi ke dalam regional-regional wilayah sesuai karesidenan masing-masing kota. Baitul arqom tersebut termasuk perkaderan khusus karena tema besarnya adalah “Ideopolitor”, yaitu Ideologi, Politik dan Organisasi.
Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, memberikan materi Kepemimpinan Dalam Muhammadiyah. Menurut Haedar, pemimpin itu harus memiliki etos, yaitu sikap kerja keras yang dibarengi dengan visi dan misi untuk membuat perubahan-perubahan sehingga tujuan dan target bisa diwujudkan.
Setelah selesai acara, Dr. Haedar Nashir langsung bertolak ke Klaten, yang juga sedang mengadakan baitul arqom Ideopolitor oleh PDM Klaten, dengan peserta Cabang dan Ranting se-Klaten Timur, bertempat di SMK Muhammadiyah 1 Klaten Timur. Di tempat tersebut, Haedar memberikan materi tentang Muhammadiyah dan Problem Kebangsaan. Haedar menjelaskan bahwa masalah Kebangsaan khususnya di Indonesia semakin komplek, mulai dari pendidikan yang jauh dari karakter bangsa, politik yang termakan hedonisme dan pragmatism para elit dan tokohnya, serta masalah kemiskinan dan tindak kriminal yang kian hari jumlahnya kian bertambah.
“Apa yang seharusnya Muhammadiyah lakukan? Paling tidak kita sebagai warga Persyarikatan Muhammadiyah mampu mengawal dan ikut andil dalam memberikan solusi konkrit sehingga bangsa ini jauh dari kebobrokan”, tegas Haedar.
Haedar memaparkan solusi bahwa saat ini dibutuhkan inovasi-inovasi baru yang lahir dari kreatifitas kader-kader Muhammadiyah, Khususnya lagi Pimpinan, sehingga gerakan tajdid terus disuarakan dan terus menghasilkan pembaharuan-pembaharuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (GJ/editor: Fakhrudin)