Djamaluddin Darwis: “Memaknai Mudik Lebaran”

0
358

MENJELANG akhir Ramadan orang disibukkan oleh pemenuhan kebutuhan Idul Fitri. Jalanan makin padat, serta mal dan toko makin ramai dikunjungi konsumen. Makin padatnya jalan raya tidak tanggung-tanggung.
Pada Lebaran tahun ini diprediksi 7 juta kendaraan masuk wilayah Jateng (SM, 31/7/3), belum termasuk hilir mudiknya kendaraan di kota atau antarkota di provinsi ini. Bagi banyak orang, Ramadan merupakan bulan penuh berkah dalam berbagai makna. Berkah dalam arti kenikmatan spiritual saat beribadah, membaca, atau mendengarkan tilawah ayat suci Alquran, dan saat khusyuk berdoa.
Ada keberkahan dalam bentuk kegembiraan sosial saat bersilaturahmi, berhalalbihalal. Kaum duafa menerima zakat dan berbagai santunan. Pedagang pakaian dan makanan mendapat berkah sosial lewat kenaikan omzet penjualan, di samping jasa transportasi yang lebih sibuk melayani pemudik. Perjalanan mudik tidak saja dalam pengertian fisik.
Orang yang menempuh perjalanan menuju tempat asal, ke kampung kelahiran, juga bisa dipahami mudik secara spiritual. Dalam konteks itu, puasa Ramadan bisa dimaknai sebagai perjalanan mudik spiritual. Pada akhir Ramadan, banyak sahabat Nabi Muhammad saw meneteskan air mata saat berdoa, berharap bisa kembali dipertemukan dengan Ramadan tahun berikutnya, bisa kembali mudik spiritual. Ada kekhawatiran, tahun berikutnya tak dapat berjumpa dengan bulan yang penuh berkah. Sepuluh hari akhir bulan Ramadan, pada malam tanggal gasal mereka mengintensifkan ibadah dengan beriktikaf di masjid.
Mereka berkontemplasi, berzikir, dan berdoa agar mendapat lailatulkadar, saat Allah menentukan perjalanan hidup manusia ke depan. Yang mendapatkan Lailatulkadar, ibarat mendapat kebaikan yang melebihi kebaikan beribadah dalam seribu bulan (QS Al-Qadar: 3). Ramadan dapat diartikan sebagai bulan mudik massal bagi orang beriman, perjalanan spiritual yang relatif lama, sebulan penuh menuju tempat asal kita, menuju ke keridaan Allah.
Secara spiritual manusia berasal dari Tuhan Allah dan akan kembali kepada-Nya. Perjalanan dimulai pada malam menjelang Ramadan, saat muslim memulai menjalankan tarawih dan finish pada saat matahari tenggelam pada sore hari menjelang 1 Syawal, diakhiri dengan menggemakan takbir. Kalau makna mudik pada awalnya merupakan perjalanan di air sungai maka mudik spiritual juga tidak lepas kaitannya dengan air.
Air yang dimaksud adalah menjalani puasa, menahan lapar dan dahaga sejak fajar sampai matahari terbenam, dan ibadah lain seperti tarawih, memb a c a Alquran, berdoa dan sebagainya. Proses bersih-bersih dengan berpuasa, shalat tarawih, dan menjalankan amalan ibadah lain tersebut disempurnakan dengan pembersihan diri melalui pembayaran zakat fitrah, mengeluarkan makanan pokok (beras) untuk kaum duafa: 2,5 kg beras bagi yang berpuasa dan tiap jiwa yang menjadi tanggungannya.
Secara sosial bersih-bersih itu berlanjut dengan silaturahmi, saling memaafkan yang bisa dikemas dalam bentuk acara halalbihalal. Mudik Sosial Mudik spiritual ini memiliki turunan dalam bentuk mudik sosial. Tiap manusia, kecuali Nabi Adam dan Siti Hawa, pada awal proses keterwujudannya pasti mengalami hidup di perut sang ibu 9 bulan lebih. Dalam memulai kehidupannya setelah dilahirkan, manusia selalu dekat ibu, menikmati kehangatan dan kasih sayang dalam dekapan ibu sambil menyedot air susu ibu untuk kelangsungan hidup.
Proses menyusui ini sekalipun secara fisik biologis dimaksudkan untuk asupan gizi agar fisik tumbuh sehat, realitasnya memiliki muatan psikologi sangat mendalam, dan itu terpateri dalam jiwa bayi. Proses tumbuh kembang tersebut berlanjut dengan besarnya perhatian orang tua dalam mencukupi kebutuhan fisik ataupun psikologis anak.
Dalam suasana kebahagiaan saat mengakhiri mudik spiritual selama Ramadan, kebahagiaan itu terasa tidak sempurna jika tidak dibarengi mudik sosial, yaitu mengunjungi orang tua walaupun harus menempuh jarak sangat jauh. Mudik secara fisik ini untuk mengobati kerinduan seorang anak yang sudah dewasa, dan pernah 9 bulan di perut ibu, sekian tahun mendapat curahan kasih sayang dari orang tua.
Jauhnya jarak, sulitnya perjalanan yang penuh risiko, dan biaya tidak sedikit, tidak menyurutkan semangat untuk mudik sosial. Apa yang hendak dicari pemudik? Bukan pamer keberhasilan setelah bekerja di perantauan untuk membahagiakan orang tua. Kebahagiaan merayakan Idul Fitri dicapai setelah menjalani mudik spiritual lewat ibadah puasa, dan disempurnakan dengan mudik sosial, yakni bertemu dengan keluarga yang sekian lama terpisah, guna berbagi kebahagiaan dan saling mendoakan.

— Prof. Dr. Djamaluddin Darwis, MA, Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Artikel ini juga dimuat di Harian Suara Merdeka. (Fakhrudin)