Din Syamsuddin: Arus Liberal Ditangkal dengan Hidup Halal

0
345

JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA, menjelaskan bahwa arus globalisasi yang menjadi mainstream dua dasawarsa terakhir ini membawa dampak arus liberalisasi ekonomi, liberalisasi politik dan liberalisasi budaya. Semua itu pada ujungnya mengakibatkan umat Islam menjadi nestapa. Bukan hanya menyebabkan “Robohnya Surau Kami”, tapi juga mengakibatkan “Runtuhnya Kedai Kami”. Dengan liberalisasi ekonomi dan terbukanya pasar bebas, maka arus produk dari luar mengalir deras ke dalam negeri. Termasuk produk pangan yang tidak jelas kehalalannya bagi umat Islam yang mayoritas di bumi pertiwi ini.
Hal tersebut disampaikan Din Syamsuddin saat memberikan sambutan pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Majelis Ulama Indonesia di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Din Syamsuddin yang juga Wakil Ketua MUI Pusat tersebut, juga mengatakan bahwa perubahan bidang ekonomi dunia, tidak hanya merobohkan surau dan pendidikan informal kita, melainkan juga meruntuhkan penguasaan ekonomi di tangan kaum muslim. Dulu, banyak pusat perekonomian di Indonesia dikuasai oleh kalangan santri. Namun kini, hampir semuanya sudah roboh dan runtuh. “Semua itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para ulama dan tokoh umat, terutama MUI, agar dapat merancang program-program kerja yang dapat mengangkat harkat umat dari lembah kenestapaan tersebut,” tegas Din.
Din menambahkan bahwa karena kita meyakini nilai-nilai kerja Islami, niscaya dapat membangkitkan umat dari kenestapaan itu, insya Allah. Bahkan juga kebangkitan Islam, “Li ‘izzil Islam wal Muslimin”. Oleh karena itu, dalam cara menyelesaikan masalah, MUI sekarang harus berbeda dengan masa lampau. “Az-zamanu istadaaro. Zaman itu terus beredar. Berkelanjutan dengan perubahan. Maka perubahan ini harus pula disikapi dengan cara “al-muhafazhotu ‘alal qodimis-sholeh wal-akhdzu bil jadidil-ashlah” (memelihara sesuatu yang lama yang masih baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik). Atau justeru “al-ijad bil jadidil-ashlah (mengadakan hal baru yang lebih baik)”. (Fakhrudin/usm/mui)