Dana Riset Universitas Muhammadiyah Surakarta Naik 60%

0
324

SUKOHARJO – Riset menjadi ruh suatu perguruan tinggi. Tentu saja, pelaksanaannya harus didukung dana memadai. Setiap tahun, perguruan tinggi pun berlomba-lomba menghasilkan riset unggulan agar mendapat pos besar anggaran penelitian dari Ditjen Dikti. Salah satu kampus yang mendapat peningkatan hibah dana riset adalah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMS, Agus Ulinuha PhD menyebutkan, tahun ini kualitas dan kuantitas penelitian UMS meningkat. Pada 2014, UMS meraih dana riset Rp3,2 miliar untuk 60 penelitian. Sementara untuk 2015, dana riset mereka naik sekira 60 persen. “Tahun ini kami mendapat Rp5,2 miliar untuk mendanai 78 riset. Meningkatnya kualitas dan kuantitas riset UMS tersebut dipengaruhi kian banyaknya dosen yang ikut andil dalam berbagai penelitian,” kata Agus belum lama ini.
UMS sendiri juga mengalokasikan dana penelitian internal yang dikelola LPPM UMS. Lembaga tersebut juga mengatur dana penelitian hasil kerjasama kampus dengan berbagai lembaga swasta.
Din Syamsuddin: Sains Percuma Jika Hampa Makna
Di tempat terpisah, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. HM. Din Syamsuddin, MA, menyatakan salah satu akar dibalik terjadinya berbagai kerusakan global di dunia ini yaitu, paradigma pengembangan sains yang tidak mengindahkan nilai-nilai etis, spiritual dan kebermaknaan. Begitulah paparan Din Syamsuddin saat menjadi dosen tamu di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Bagi Din, paradigma sains hendaknya diarahkan pada nilai-nilai kemaslahatan. Ilmu ekonomi, dan dimanfaatkan untuk mengatasi kemiskinan, demikian pula ilmu politik, mestinya diniatkan untuk mewujudkan keadilan. “Kalau politik melanggengkan oligarki, berarti politiknya tidak bernilai, hampa makna,” ujar Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.
Untuk itulah, Din menilai, yang terpenting dari sains adalah bagaimana makna dan nilai-nilai yang dikandungnya. Dalam konteks pembangunan, kata Din, jika dunia banyak berbicara tentang sustainable development with equity (pembangunan berkelanjutan yang berkeadilan), maka Islam senantiasa mengajak pada paradigma sustainable development with meaning (pembangunan berkelanjutan yang bermakna).
Paradigma tersebut, papar Din, berakar pada prinsip-prinsip sains Islam yang di antaranya yaitu harmoni dan korespondensi antara dimensi Tuhan dan alam semesta, atau lebih tepatnya dimensi Sang Pencipta dan yang dicipta. Tidak mungkin manusia dan alam semesta bekerja tanpa mengindahkan nilai-nilai etis-spiritual ketuhanan.
Terkait pengembangan sains, Din menegaskan, Islam merupakan agama yang sangat menekankan pentingnya berpikir. Tak heran, dalam al-Quran banyak terdapat ayat-ayat yang diakhiri dengan kata-kata afala ta’qilun (apakah kamu tidak berakal), afala tatafakkarun (apakah kamu tidak berpikir) atau afala yatadabbarun (apakah mereka tidak merenung).
Bagi Din, petikan kata-kata tersebut merupakan sindiran yang bermaksud memerintahkan manusia agar senantiasa berpikir, merenung serta menggunakan akalnya. Din bahkan menyebut bahwa dalam al-Quran pertanyaan retoris seperti di atas disebut tidak kurang dari 200 kali, yang sekaligus menunjukkan betapa pentingnya berpikir.
Nilai-nilai tersebut, kata Din, dalam sains diterjemahkan dalam bentuk penelitian dan pengembangan (research and development). “Sayangnya di Indonesia riset sulit berkembang karena terkendala budget yang minim. Padahal, hal ini sangat krusial, terutama bagi dunia kampus,” ungkap mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005-2010 ini. (Diah Ayuningtyas/umm.ac.id/rfa/Bramantyo/tempo.co/editor: Fakhrudin)