Amien Rais: Pengurus PAN bisa lebih sering berkunjung ke Muhammadiyah

0
424

Semarang – Pendiri sekaligus bekas Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais, menyatakan heran dengan perolehan suara PAN yang tidak mengalami kenaikan dalam setiap kali Pemilu. “Saya katakan kok seperti kena kutukan sejarah,” kata Amien saat memberikan tausiah politik kepada peserta Musyawarah Wilayah Partai Amanat Nasional (PAN) Jawa Tengah di Hotel Patra Jasa, Semarang, Sabtu sore 29 Agustus 2015.
Memang dalam setiap pemilu, PAN tidak banyak beranjak dari nomor lima di perolehan suara. “Masa empat kali pemilu nomor lima terus,” kata Amien.
Amien berharap PAN tidak lagi di posisi nomor lima dalam perolehan suara di Pemilu 2019 nanti. “Saudara-saudara sekalian, takdir seperti itu harus dibuang,” kata Amien. Menurut Amien, pada 2019 nanti PAN belum bisa menjadi nomor satu maupun nomor dua karena kondisi belum memungkinkan. Namun ia berharap PAN masih bisa memiliki peluang untuk menjadi nomor tiga atau empat bersaing dengan Gerindra dan PKB. “Nomor tiga lah. Mungkin teman-teman Gerindra dan PKB akan marah,” kata Amien sambil tertawa.
Agar bisa mencapai target itu maka PAN harus didukung Muhammadiyah. “Andai kata matahari biru duet dengan matahari hijau maka PAN bisa (memperoleh suara) 12 persen,” kata Amien. Amien meminta agar para pengurus PAN bisa lebih sering berkunjung ke pengurus Muhammadiyah. “Kalau sowan bawa oleh-oleh. Bisa sarung, sajadah, bisa THR dan lain sebagainya.”
Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Amien Rais itu juga mengungkapkan agar Presiden Joko Widodo bergerak cepat untuk mengatasi ancaman melemahnya rupiah, sehingga membuat ekonomi tidak stabil. Amien mengaku hanya punya satu resep untuk mengatasi ancaman krisis saat ini. “Jokowi tidak boleh tenang-tenang saja. Jika Jokowi dan Brojonegoro (Menteri Keuangan) menyatakan kita masih aman, maka sebenarnya itu hanya untuk ngeyem-ngeyemi saja,” kata Amien.
Amien mengatakan hanya ada satu solusi untuk menghadapi situasi saat ini. Amien menyebut Jokowi harus bergerak mengumpulkan berbagai pihak untuk membahas situasi saat ini. Amien menyatakan Jokowi adalah sebagai presiden terpilih, pemimpin panglima tertinggi, kepala negara dan pemerintahan, hingga sebagai bapak bangsa untuk sipil militer.
Jokowi harus mengundang ketua-ketua lembaga tinggi negara, seperti Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua MA, ketua KPK, Panglima TNI, Kapolri, pimpinan partai politik, tokoh agama, dan para bekas Presiden. Jokowi juga perlu mengundang perwakilan wartawan yang top, akademisi yang top, NGO hingga para para pengusaha. “Mereka semua harus duduk bersama untuk membaca situasi negara kita saat ini,” kata Amien.
Bekas Ketua Umum Muhammadiyah dan PAN ini menyatakan dirinya tak ikut diundang tidak apa-apa. “Amien cuma usul. Ide-ide saya tolong dilaksanakan. Kalau perlu saya buatkan pointers-pointers,” kata Amien.
Amien menyatakan goyahnya ekonomi Indonesia saat ini tak lepas dari penjajahan negara-negara lain. Kata Amien, penjajajan saat ini biasanya melalui inflasi ekonomi. Jika ekonomi sebuah negara ambruk maka biasanya akan terjadi konflik sosial karena harga kebutuhan mahal, pengangguran dimana-mana. “Sekarang ekonomi Indonesia kan mulai kolaps,” kata dia. Menurut Amien, kekuatan sebuah bangsa ditopang dua pilar, yakni ekonomi dan politik. “Teori saya, ketika ekonomi sempoyongan tapi politik kuat maka insyallah kita kuat sebagai bangsa,” kata Amien. (ROFIUDDIN/tempo.co, editor: Fakhrudin)