Akhlaq Warga Muhammadiyah

1
1519

Oleh

M. Danusiri

(Majelis Tabligh PWM Jateng)

Pengertian- pengertian
Moral : Kata moral berasal dari bahasa Yunani mores yang berarti kebiasaan, yang baik dan yang buruk yang diterima secara umum mengenai perbuatan, sikap dan kewajiban.

Susila : Kata susila berasal dari bahasa Sansekerta yang telah menjadi bahasa jawa, susilo. Susilo terdiri dari dua kata: su berarti baik, dan silo berarti budiperkerti, tingkahlaku.

Etika : Kata Etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti kebiasaan baik atau buruk.

Akhlaq : Kata akhlaq berasal dari bahasa Arab khuluq yang berarti kebiasaan, dorongan jiwa untuk berbuat secara spontan, tak perlu dipikir, tetapi telah menjadi kebiasaan.

Jadi, antara moral, susila, etika, dan akhlaq adalah sama, yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan, sikap, dan tingkahlaku yang baik dan buruk, tetapi keempatnya juga berbeda. Standar ukuran baik dan buruk untuk moral dan susila adalah adat masyarakat setempat (lokal), Standar ukuran baik buruk untuk etika adalah ilmu dan filsafat, Standar ukuran baik dan buruk untuk akhlaq adalah syariat. Ciri ilmu adalah: rasional, empirik, objektif, dan sistematis. Atas dasar perbedaan standard ukuran baik-buruk diantara keempatnya adalah sesuatu yang dianggap baik menurut moral, belum tentu baik menurut akhlaq, demikian pula sebaliknya (kadang-kadang).

Contoh-contoh:
Makan dengan tangan kiri tidak baik menurut adat Jawa, biasa-biasa saja menurut orang-orang Eropa dan Amerika.

Seks di luar nikah asal saling suka baik menurut etika, tidak baik menurut akhlaq.
Terlalu berterus terang baik menurut moral, etika, akhlaq, belum tentu baik menurut susila Jawa.

Tahlilan yang pahalanya dikirimkan kepada orang yang meninggal baik menurut moral (masyarakat tertentu), tidak baik menurut syariat karena tidak dicontohkan oleh Rsulullah hingga generasi ke 4 Islam

Yasinan yang pahalanya dikirmkan kepada orang yang telah meninggal baik menurut moral (masyarakat tertentu) tidak baik menurut akhlaq (syariat) karena tidak dituntunkan oleh Rasulullah, alias mengada-ada. Semua hadis tentang yasinan yang dikaitkan dengan peristiwa kematian tidak ada yang shahih.

Membaca Al-Qur’an secara koor baik menurut masyarakat tertentu, tidak baik menurut petunjuk berikut: “Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Qs al-A’raf/7:204)
Jadi, menurut ayat tersebut, yang satu membaca, yang lainnya mendengarkan dan memahami, menghayati kandungan pesan ayat tersebut.

Dalam peristiwa kematian terdapat tradisi memutar rekaman bacaan al-Qur’an, sementara para pelayat asyik ngomong ke sana-sini sesuai groupnya. Hal ini dipandang baik menurut moral masyarakat, tidak baik menurut akhlaq karena petunjuk ayat al-Qur’an surat al-A’raf ayat 204 di atas.

Takhtimul Qur’an dengan cara membaca sendiri tetapi berjamaah yang masing-masing juz yang dibaca berlainan sehingga satu orang satu juz dalam waktu relatif singkat satu al-Qur’an terbaca semua adalah baik menurut masyarakat (moralis) tertentu, sebenarnya tidak baik menurut akhlaq, sebagaimana petunjuk ayat 204 dari surat al-A’raf di atas.

Puji-pujian dengan pengeras suara menunggu datangnya imam dalam posisi sudah azan baik menurut moral masyarakat tertentu sebenarnya agak kurang baik menurut akhlaq jika sampai tidak shalat rawatib, atas dasar hadis-hadis berikut: Ibnu Umar berkata: Hal yang aku ingat (jaga) dari Nabi saw adalah 10 rakaat yang terdiri atas: (1) Dua rakaat sebelum dluhur, (2) Dua rakaat sesudahnya, (3) Dua rakaat sesudah Maghrib di rumahnya, (4) Dua Rakaat sesudah Isya’ di rumahnya, dan (5) Dua rakaat sebelum shalat Subuh (HR. al-Bukhari: 1109). Atas dasar sejumlah hadis tentang shalat sebelum dan sesudah shalat fardlu tersebut dan inilah yang telah menjadi akhlaq Rasulullah, mengindikasikan begitu besar utama dan pentingnya shalat sunnah rawatib tersebut dibanding sekedar puji-pujian yang hanya karangan manusia. Akan kurang mendatangkan simpatik massa kalau lagu dan jenis fokalnya kurang merdu. Maka, sebaiknya shalat sunnah rawatib dulu baru puji-pujian kalau memungkinkan. Jangan dibalik melakukan puji-pujian tanpa shalat sunnah Rawatib.

Jika terjadi pertentangan nilai antara etika versus akhlaq, antara moral versus akhlaq, maka akhlaq lah yang harus dimenangkan, Dasar prioritas Pemenangan Akhlaq :
Misi Islam hanya satu: Aku diutus hanyalah untuk menyempurkan akhlaq.

Nilai moral hanya berlaku di kehidupan dunia, sedang nilai akhlaq berlaku hingga akhirat kelak.
Allah menyeru agar kita takut kepada-Nya bukan kepada manusia, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an : “Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk” ( QS al-Baqarah/2:150)

Atas dasar tiga argumentasi di atas, maka kurang bijaksana ketika seseorang memiliki rasa ewuh-perkewuh dengan tetangga, takut dikucilkan, takut ada sanksi sosial ketika tidak mengikuti acara-acara sosial yang jelas-jelas melangar syar’i. Kita harus sadar bahwa mereka sangat egois, tidak mau tahu apa yang namanya syariat, tidak mau tahu apa akibatnya melanggar syar’i. Tidak pantas orang yang tahu berilmu, hanyut hancur kepada orang yang tak mau tahu dengan syariat.

Keharusan Warga Muhammadiyah

Harus berakhlaq mulia. Artianya, habitat WM berbuat baik. Inilah dasarnya: (Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudipekerti yang agung (QS al-Qalam/68:4)
Dapat diteladani orang lain karena kebaikan akhlaqnya sebagaimana Rasulullah, Demikian Dasarnya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzab/33:21).

Indikator Uswah Hasanah

Sidiq (jujur), warga Muhammadiyah harus jujur: Dari Nabi saw bersabda: sesungguhnya benar (jujur) itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun ke surga, dan seorang itu (senantiasa) berlaku benar sehingga tercatat di sisi Allah sebagai orang jujur. Dusta menuntun kepada lancung. Lancung menuntun kepada neraka. Dan seorang (yang senantiasa) berdusta tercatat di sisi Allah sebagai pendusta. Itulah pentingnya Warga Muhammadiyah dituntut untuk jujur.

Amanah (dapat dipercaya), artinya setiap WM harus amanah. Hadis berikut merupakan ancaman bagi yang tidak amanah: Tiada seorang hamba yang Allah memberikan amanah (tanggungjawab) kemudian tidak melaksanakannya dengan baik kecuali ia tidak menemukan baunya surga (HR.Muttafaqun ‘alaih).

Fathanah (Cerdas). Sudah menjadi trade Mark, bahwa Muhammadiyah adalah golongan sosial keagamaan paling modern, istablis, acuntable di dunia hingga saat ini. Dalam bergama harus kritis tetapi tetap dalam koridor syar’I, dan anti taklid buta.

Tabligh (menyampaikan) kebenaran. Muhammadiyah memiliki doktrin amar ma’ruf nahi munkar bil hikmah, tanpa kekerasan, sehingga dikenal moderat. Tetapi harus diingat senantiasa strik dalam beribadah, hanya mencontoh Rasulullah.

Dalam beribadah (dalam beragama) harus mukhlish (murni) tanpa tercampur oleh agama apa pun selain Islam, maupun tercampur oleh ciptaan manusia. Allah berfirman: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (QS al-Bayyinah : 5). Peringatan Perintah Allah untuk beragama secara murni ini diulang hingga 24 kali.

Setiap Warga Muhammadiyah harus menjauhkan diri dari penyakit-penyakit hati seperti: Hubuddunya (cinta dunia), rakus, riya’ (pamer), bakhil (kikir), hasud(dengki), takabbur(sombong), sum’ah (Kepingin terkenal/popularitas), ujub (egois), munafiq (hipokrit), Jubun (pengecut), Kasl (pemalas), al-’ajz (lemah), israf (berlebihan) fahsyak (keji), munkar (jahad), fasad (membuat kerusakan), dll yang sejenis.

Setiap warga Muhammadiyah, di dalam mencari rezeki, apa pun profesinya harus profesional, menjauhi praktik KKN (korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).

Ancaman Kolusi : Secara praktis, kolusi dapat diartikan kong kalikong, katabelece, surat sakti, koneksi untuk mengegolkan suatu maksud seperti diterima sebagai pegawai, diterima dalam sekolah,kuliah, jabatan, dan sejenisnya yang diinginkan dengan “lewat belakang”. Dalam hal ini, yang membutuhkan memberikan sesuatu (konsesi), paling sering uang, bisa juga kedudukan dll.( Dalam bahasa agama, hal tersebut dinamakan ar-Rasyi (suap/sogok). Ancamannya neraka. Demikian sebuah hadis mengatakan: Penyuap dan yang disuap di neraka.

Ancaman Korupsi Koruptor tidak akan memperoleh syafaat Rasulullah, dasarnya: Demi Dzat yang Jiwa Muhammadi ada di Tangan-Nya. Tidaklah salah seorang diantara kamu mengorup sesuatu, kecuali datang besok di hari kiyamat sambil membawanya di atas tengkuk. Jika (yang dibawa itu) unta, maka akan berbunyi. Jika yang (dibawa itu) sapi, maka akan melenguh. Jika yang(dibawa itu) kambing, maka akan mengembik. (yang penting) sungguh aku telah menyampaikan (HR Muttafaq ‘alaih dari Abi Humaid as-Sa’idi). Orang tersebut sangat berkesulitan. Suatu saat ketemu Rasulullah, ia meminta tolong kepadanya: Wahai Rasulullah, Tolonglah aku! Maka Jawabku “Aku tidak memiliki hak sedikit pun atas kamu, Aku dulu telah menyampaikan (memperingatkan) – HR Mttafaqun ‘alaih dari Abi Hurairah).

Larangan Nepotisme : “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah[520]. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat (Qs al-An’am/6:152).

Setiap Warga Muhammadiyah harus menghiasi diri dengan iman yang kokoh, istiqamah dalam beribadah sesuai tuntunan Rasulullah, luas ilmu yang dimiliki, beramal shalih secara tulus.

Kesimpulan: Akhlaq Muhammadiyah tidak ada yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk keberatan, apa lagi menentangnya kalau ingin menjadi muslim yang benar. (*)