Abdullah Sungkar: Dalam Memilih Pemimpin Harus yang Sesuai Syariat Agama Islam

0
593

PWMJATENG.COM, KOTA TEGAL – Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tegal melalui Majelis Tabligh kembali mengadakan pengajian rutin bulanan yang dilaksanakan setiap hari Ahad, minggu terakhir. Pada pengajian Ahad (26 Februari 2017) kemarin, mengangkat tema “Hubungan Politik dan Dakwah”. Pengajian yang ditempatkan Di SMK Muhammadiyah 1 Kota Tegal.

Pengisi materi tersebut, Abdullah Sungkar, mantan anggota DPRD Kota Tegal periode 2009-2014 dan mantan Bendahara PDM Kota Tegal, dalam penyampaiannya, mengutip tulisan ketua umum Pimpian Pusat Muhammadiyah Dr. Haedar Nasir, MSi, yang berkaitan “korelasi atau hubungan antara politik dan agama (dinul Islam).

Beliau menyampaikan isi kandungan Alquran Surat Fushshilat : 43 yang artinya :” Apa yang lebih baik dari panggilan Kepada Allah melakukan amalan-amalan shaleh.”.

Bahwa tujuan dakwah ini, katanyam ada tiga, yakni pertama mengajak manusia bertauhid yang benar, mengesakan Allah dengan ikhlas. Kkedua yakini bahwa semua amalan Kita sesuai Dan mengikuti Sunnah rasulallah SAW. Dan ketiga, mengingatkan akan datangnya hari akherat.

Kemudian pembahasan politik, beliau menerjemahkan bahwa politik adalah skills, kemahiran, menyangkut kompetensi, dan politik itu urusan public serta politik itu sebuah siasat atau Cara Dan gaya dalam mengatasi sebuah konflik. Akan tetapi disayangkan sekali pada era sekarang ini politik disalahgunakan bahkan ada yang beranggapan politik dijadikan sebagai mata pencaharian. Seseorang yang terjun Di politik harus siap mengurusi publik dengan sepenuhnya Dan tidak boleh tebang pilih.

hubungan tersebut dengan dibuat sebuah metric. Dibagikan menjadi enam variable yaitu makna, tujuan, subjek, objek, sistem dan nilai. Kesimpulannya asalah hubungan keduanya tidak bisa dipisahkan, harus saling mengisi Dan ada erat hubungannya. Politik dalam mengurusi pemerintahan harus ada nilai dakwahnya.

Dalam dakwah harus memberikan pemahaman bahwa dalam memilih pemimpin harus yang sesuai dengan syariat agama islam. Sehingga ketika mereka menjadi pemimpin bisa amanah dan sesuai dengan nilai-nilai islami.

Maka beliau mengingatkan dalam leadership harus memiliki ilmu, akhkaq yang baik dan mempunyai wibawa agar bisa dihormati dan disegani oleh umat. (Hendra Apriyadi)