Abdullah Sachur: Budaya Menulis di Lingkungan Muhammadiyah Masih Lemah

0
602
Wakil ketua PDM Kendal, Drs. H. Abdullah Sachur. M.Pd (kiri) didampingi sekretaris MPI PDM Kendal, Abdul Ghofur Dip.K.md saat menghadiri upacara pembukaan pesantren jurnalistik

PWMJATENG.COM, KENDAL -Untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia Muhammadiyah diperlukan adanya ikhtiar kongkrit melalui pelestarikan budaya bicara, membaca dan menulis. Budaya bicara di Muhammadiyah sudah banyak, tradisi membaca di persyarikatan lebih dari cukup, namun warga Muhammadiyah yang memiliki kemampuan menulis masih dapat dihitung dengan jari. Itu artinya budaya menulis dilingkungan warga Muhammadiyah dinilai masih lemah. Demikian kata wakil ketua PDM Kendal, Abdullah Sachur ketika menyampaikan kata sambutan sebelum membuka secara sesmi kegiatan pesantren jurnalistik Jum’at (9/6) di aula gedung pusat dakwah Muhammadiyah Kendal. Menurut beliau, lemahnya budaya menulis disebabkan malas belajar dan enggan berlatih untuk menulis. Munculnya kelemahan membaca di kalangan anak muda karena dimanjakan oleh alat komonikasi, HP dijadikal alat kesenangan belaka.

“ Mereka mudah putus asa dan merasa susah untuk mengawali menulis “ kata Sachur.

“ Idenya seperti tersumbat dan sulit mengalir “ tambahnya.

Untuk bisa menulis yang baik bisa dimulai dengan mengikuti pelatihan jurnalistik, dan berlatih menulis dengan rajin dan sungguh- sungguh.

“ Dengan mengikuti pelatihan kepenulisan dan berani menulis di media akan menjadi pengalaman tersendiri  “

Pesantren jurnalistik diselenggarakan oleh MPI PDM Kendal bekerja sama dengan PD IPM yang melibatkan 42, tediri dari PR dan PC IPM se Kab. Kendal.

“ Kegiatan ini sebagai ikhtiar bersama untuk mewujudkan jurnalis – jurnalis muda di lingkungan Muhammadiyah “ kata sekretaris MPI PDM Kendal, Abdul Ghofur.

“ Di penghujung tahun 2016 MPI Kendal telah menyelengarakan kegiatan yang sama, sekolah jurnalistik, namun dalam perkembangannya belum bisa menggembirakan, masih sedikit yang memiliki kesadaran untuk menulis “ ungkapnya.

“ Inysa Allah kami tidak akan bosan untuk menyelenggarakan pelatihan jurnalistik. Pesantren jurnalistik di bulan ramadhan akan kita jadikan sebagai tradisi “ tegas Ghofur.

Pesantren jurnalistik yang berlangsung 9 – 11/6 tersebut menghadirkan dua wartawan senior, yaitu Muhammad Arif Prayoga dan Agus Umar dari Koran Radar Pekalongan dan Wawasan.

“ Kedua nara sumber tersebut kami minta bicara secara tuntas tentang tehnik menulis dan menyunting berita, dan tehnik wawancara dan mencari berita “ kata ketua panitia Ibrahim Nashir.

“ Yang lebih penting adalah praktek lapangan, dan dalam pelatihan ini 75 % ditekankan pada praktek menulis berita “ ujarnya (Qonita Azzahra/MPI Kendal)