Bukan Sekadar Bahasa, Mahasiswa UMS Jadikan English Tutorial Program Senjata Diplomasi Perdamaian Global
PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk konflik dunia, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) justru memilih cara elegan untuk bersuara. Melalui ajang Social Gathering 2026, mereka membuktikan bahwa penguasaan bahasa Inggris dapat bertransformasi menjadi instrumen dialog konstruktif dan diplomasi perdamaian global yang berdampak nyata.
Kegiatan yang berlangsung di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS ini menghadirkan perpaduan unik antara unjuk bakat dan pesan kemanusiaan. Sebanyak 250 mahasiswa semester dua dari berbagai program studi menunjukkan kebolehan mereka dalam tari, drama, puisi, hingga pidato berbahasa Inggris. Ajang ini membuktikan bahwa bahasa Inggris bukan sekadar mata kuliah, melainkan instrumen ampuh untuk perdamaian global.
“Mereka menunjukkan kemampuannya dalam pertunjukan tari, drama bahasa Inggris, pembacaan puisi, bernyanyi, berpidato, dan pembacaan cerita,” ujar Ketua LPMB UMS, Dr. Aryati Prasetyarini, M.Pd. Ia mendorong seluruh peserta agar terus mengasah kepercayaan diri melalui program English Tutorial Program (ETP). Menurutnya, kemampuan berbahasa yang baik akan membuka pintu komunikasi lintas negara yang lebih luas bagi mahasiswa.
Bahasa Inggris untuk Masa Depan
Tema “Voices for Peace: Speaking Across Borders, Healing Beyond Conflicts” menjadi landasan utama perhelatan tahun ini. Ketua panitia, Nito Majid Mujtahid, M.Pd., menekankan bahwa kegiatan mahasiswa UMS ini membawa misi besar. Mereka ingin menyuarakan pentingnya dialog konstruktif di tengah berbagai konflik yang terjadi di dunia saat ini.
“Melalui kekuatan dialog konstruktif dengan berbicara lintas batas diharapkan dapat membangun kepercayaan kita bagi generasi mendatang,” ucap Nito dalam sambutannya. Optimisme ini diamini oleh Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum. Baginya, bahasa Inggris merupakan medium strategis untuk membangun keadaban global yang rukun dan harmonis.
Rektor pun menekankan bahwa penguasaan bahasa harus melampaui sekadar teori di bangku kelas. Mahasiswa harus berani menerapkan kemampuan mereka dalam kehidupan nyata untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
“Kegiatan ETP hari ini mengajak mahasiswa untuk menyuarakan perdamaian dan menyerukan pentingnya keadaban dan kerukunan global,” tegas Prof. Harun. Ia menambahkan, mahasiswa tidak cukup hanya be-knowing, namun harus be-doing. Saat melihat penampilan para mahasiswanya, sang rektor pun memberikan apresiasi tinggi dengan satu kata, “Excellent!”
Kontributor: Gede
Editor: Alafasy



