Khutbah Idul Fitri: Kembali ke Fitrah
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِمْ فِيْهِ الصِّياَمَ، وَنَزَّلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناَتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، نَحْمَدُهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وأُصَلِّيْ وَاُسَلِّمُ عَلَى الْقَائِدِ وَالْقُدْوَةِ مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ وَمَنْ جاَهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ!
اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً، لاَإلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd
Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari kaum Muslimin dan Muslimat Jamaah ‘Idul Fitri yang berbahagia.
Pagi ini umat Islam, di seantero bumi Allah ini sama-sama bergembira menyambut kedatangan ‘Idul Fitri. Tua-muda, besar-kecil, laki-laki-perempuan sama-sama mengumandangkan kalimat-kalimat suci dengan penuh semangat dan kegembiraan.
Hari yang paling ditunggu dalam siklus Ibadah Tahunan Umat Islam yaitu BERLEBARAN, Keriangan, Kegembiraan dan Kesenangan di rasakan oleh setiap Insan. Tidak mengenal usia maupun kasta semua berbahagia dengan datangnya Hari ini.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd
Ketika kita bertemu hari ini, sebenarnya apa yang kita harapkan dari pertemuan itu?
Apakah sekadar bertemu di dunia? Atau kita berharap suatu hari nanti, Allah mempertemukan kita kembali di tempat yang jauh lebih abadi?
Allah SWT memberikan sebuah peringatan yang sangat dalam termaktub (QS. Az-Zukhruf: 67)
الأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman karib pada hari itu akan menjadi musuh satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.”
Ayat ini sangat mengejutkan jika kita renungkan.
Di dunia kita bisa sangat dekat dengan seseorang. Sering tertawa bersama. Sering berbagi cerita. Sering berjalan bersama. Namun Al-Qur’an mengatakan: tidak semua kedekatan itu akan selamat sampai akhirat. Allah mengatakan bahwa pada hari kiamat nanti sebagian besar pertemanan yang begitu akrab di dunia… justru berubah menjadi permusuhan. Orang yang dulu sering duduk bersama. Yang dulu sering tertawa bersama. Yang dulu merasa tidak bisa dipisahkan… pada hari itu bisa saling menyalahkan. Karena dahulu mereka saling membawa kepada kelalaian. Saling menenangkan ketika melakukan kesalahan. Ketika “circle” / lingakaran pertemanan mereka ketika sengaja berbuat dosa terasa biasa. Dan ketika kebenaran datang, tidak ada yang berani saling mengingatkan karena rasa tidak enakan.
ayat ini juga membuat kita merenung lebih dalam tentang
makna pertemuan dan perpisahan. Karena kita semua tahu…Tidak semua orang yang dulu merayakan Idul Fitri bersama kita, hari ini masih berada di samping kita. Mungkin di antara kita ada yang hari ini menjalani Idul Fitri untuk pertama kalinya tanpa ayah. Ada yang pertama kalinya tanpa ibu. Ada yang pertama kalinya tanpa kakek atau nenek. Ada yang tahun ini pulang ke rumah… tapi kursi seseorang yang dulu selalu ada di sana kini kosong. Ada yang biasanya menerima pesan dari pasangan, namun tahun ini harus belajar merayakan hari raya dengan kenangan. Dan pada saat-saat seperti itu kita mulai memahami satu hal yang sangat dalam: bahwa setiap pertemuan di dunia sebenarnya sedang berjalan menuju perpisahan.
Sidang ‘Id yang berbahagia
Akan tetapi Ayat di diatas memberi kita satu harapan besar. Bahwa ada pertemuan yang tidak akan berakhir dengan perpisahan. Artinya ada satu jenis hubungan yang tidak berhenti di dunia. Hubungan yang tidak diputus oleh kematian. Hubungan yang justru berlanjut di akhirat. Yaitu hubungan yang dibangun di atas ketaqwaan kepada Allah إِلَّا الْمُتَّقِينَ. Ia bisa berbentuk persahabatan… ia juga bisa hidup di dalam hubungan kekeluargaan. Persahabatan yang mungkin tidak selalu diisi dengan banyak pertemuan, tetapi di dalamnya ada doa yang saling menguatkan. Kekeluargaan yang mungkin tidak selalu diisi dengan banyak kata, tetapi di dalamnya ada saling menjaga dan saling mengingatkan. Hubungan yang membuat kita pulang dengan hati yang lebih baik daripada ketika kita datang. Hubungan yang membuat iman kita bertambah, bukan justru berkurang. Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah hubungan bertahan bukan hanya kedekatan. Tetapi niat karena Allah yang hidup di dalamnya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd
Dalam perjalanan hidup, sering kali kita tanpa sadar melihat kehidupan orang lain dari kejauhan. Kita melihat seseorang yang hidupnya tampak begitu cepat berubah. Ada yang kariernya melesat. Ada yang keluarganya terlihat mapan. Ada yang langkah hidupnya tampak begitu rapi dan terarah. Dan tanpa kita sadari, hati kita mulai membandingkan. Seolah-olah kehidupan ini adalah perlombaan… siapa yang lebih dulu sampai. Padahal jika kita renungkan dengan jujur, hidup manusia sebenarnya tidak berjalan di jalan yang sama. Tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Tidak semua orang memikul beban yang sama. Ada orang yang terlihat tertinggal, bukan karena ia malas. Ada orang yang terlihat lambat, bukan karena ia tidak mampu. Kadang ada luka yang tidak pernah ia ceritakan. Ada tanggung jawab yang harus ia pikul sejak usia yang sangat muda. Ada keadaan hidup yang membuat langkahnya harus berjalan lebih pelan daripada orang lain. Berapa banyak di antara orang yang kita kenal… yang sebenarnya lebih cerdas… lebih berpotensi… namun hidupnya terhalang oleh sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata kita. Terhalang oleh keadaan. Terhalang oleh kesempatan yang tidak sama. Atau oleh ujian hidup yang tidak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun. Karena itu di hari yang fitri ini, kita belajar satu pelajaran yang sangat penting: belajar menahan diri untuk tidak mudah menghakimi kehidupan orang lain. Kadang tanpa sadar kita melontarkan pertanyaan yang bagi kita terasa biasa. “Kapan menikah?” “Kapan punya rumah?” “Kapan punya anak?” “Kapan sukses?” Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu perjalanan seperti apa yang sedang mereka jalani. Dan setiap orang… sedang berjuang dengan caranya sendiri.
Sidang ‘Id yang berbahagia
Kabar baiknya adalah hidup ini tidak selalu menuntut kita untuk selalu melesat lebih cepat dari orang lain. Tidak selalu tentang siapa yang paling dahulu sampai. Kadang bertumbuh justru dimulai dari sesuatu yang sangat sunyi: yaitu penerimaan. Penerimaan terhadap takdir yang sedang Allah tuliskan. Penerimaan terhadap langkah hidup yang mungkin tidak secepat yang kita harapkan. Penerimaan bahwa setiap orang berjalan dengan ujian yang berbeda. Dan ketika kita mulai menerima kenyataan itu dengan hati yang lapang, kita akan menyadari satu hal yang sangat penting: bahwa hidup manusia memang sejak awal tidak diciptakan sebagai perjalanan yang mudah. Karena itu Allah sendiri telah mengingatkan kita tentang hakikat kehidupan dunia.
لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (Al Balad-4)
Ayat ini sangat jujur menggambarkan kehidupan manusia. Seolah Allah ingin mengatakan kepada kita: hidup ini memang tidak ringan. Dunia memang tempat lelah. Tempat jatuh bangun. Tempat proses panjang yang tidak selalu kita pahami. Karena itu jika hari ini kita merasa lelah menjalani hidup… sebenarnya kita sedang menjalani sesuatu yang sangat manusiawi. Justru dari proses itulah Allah melihat kesungguhan kita. Kesabaran kita. Dan keikhlasan kita. Karena hidup adalah proses, kita hanya perlu bergerak, berikhtiar, Memulai perubahan. Memulai langkah yang lebih baik. Namun sering kali kita terjebak pada pikiran-pikiran yang sebenarnya belum tentu terjadi. Takut gagal. Takut salah. Takut tidak cukup baik. Padahal keberanian justru lahir di titik itu. Tidak ada perubahan besar yang lahir dari menunggu keadaan sempurna. Karena kesempurnaan tidak pernah benar-benar datang. Langkah pertama mungkin kecil. Namun langkah kecil itu mampu memecah kebekuan. Ia mengubah niat menjadi gerak. Kita perlu memulai…karena waktu tidak menunggu kesiapan kita. Setiap penundaan adalah kesempatan yang hilang. Dan setiap keraguan yang dipelihara terlalu lama bisa berubah menjadi penyesalan. Memulai berarti memberi kesempatan pada diri kita untuk belajar. Belajar jatuh. Belajar bangkit. Belajar menata ulang arah. Dan belajar bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Lebih dari itu, memulai adalah bentuk tanggung jawab terhadap masa depan. Karena setiap perubahan… sekecil apa pun… selalu berawal dari satu keputusan sederhana: berani memulai. Bukankah para ulama sering mengingatkan kita tentang sebuah kaidah kehidupan: orang yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Sebab hidup sebenarnya bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi tentang siapa yang terus memperbaiki dirinya dari waktu ke waktu.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd
Hari ini kita merayakan Idul Fitri. Hari ketika kita saling bersalaman. Saling memohon maaf.
Saling membuka hati. Kalimat yang paling sering kita ucapkan adalah: “Mohon maaf lahir dan batin.” Namun ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan bersama. Sampai pada titik mana permintaan maaf itu benar-benar kita maknai? Karena kadang Idul Fitri berhenti hanya pada ritual. Hari ini kita bersalaman. Hari ini kita berpelukan. Hari ini kita saling memaafkan. Namun sering kali tidak lama setelah itu… besoknya kita kembali pada kebiasaan lama. Masih mudah menyakiti dengan kata-kata. Masih mudah melukai dengan sikap. Masih mudah mengulang kesalahan yang sama kepada orang yang sama. Seolah-olah permintaan maaf hanya menjadi tradisi tahunan. Padahal jika kita renungkan dengan jujur, memaafkan dalam Islam bukan sekadar menghapus masa lalu. Tetapi juga niat untuk tidak mengulang luka yang sama di masa depan. Karena itu Idul Fitri seharusnya bukan hanya hari saling memaafkan. Tetapi hari memulai perubahan sikap. Hari ketika kita berkata dalam hati:
“Aku tidak ingin lagi menjadi orang yang sama seperti sebelum Ramadan.” Tidak ingin lagi mudah melukai. Tidak ingin lagi mudah merendahkan. Tidak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama kepada orang-orang yang Allah titipkan dalam hidup kita. Karena memaafkan tidak hanya membutuhkan kelapangan hati. Namun juga membutuhkan kedewasaan jiwa. Dan di situlah sebenarnya makna kembali kepada fitrah. Bukan hanya kembali bersih dari dosa. Tetapi juga kembali menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
Marilah kita akhiri pertemuan ini sekaligus mengawali perjalan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, pribadi yang sudah berdamai dengan diri sendiri dan orang lain, berdamai dengan pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan sehingga Allah SWT dapat meridhoi apa yang kita impikan di masa yang akan datang.
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مُباركًا فيه كما يُحب ربُّنا ويَرضي اللَّهُمَّ يَا سَمِيعَ الدَّعَوَاتِ ، ، يَاقَاضِيَ الحَاجَاتِ ، يَا كَاشِفَ الكَرُبَاتِ ، يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ ، وَيَا غَافِرَ الزَّلاَّتِ ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِ مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيْمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللَّهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ. اَلَّلهُمَّ تَقَبَّلْ مِنّآ صَلاَتَنا و صِيَامَنَا وَجَمِيعَ عِبآدَتِنآ بِرِضآكَ وَفَضْلِكَ الْكَرِيْم وَتُبْ عَلَيْنآ إِنَّكَ أَنْتَ التَوَّابُ الرَّحِيْمُ . رَبَّنآ لاَتُزِغْ قُلُوْبَنآ بَعْدَ إِذْ هَذَيْتَنآ وَهَبْ لَنَآ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ الْوَهَآبُ. رَبَّنآ هَبْ لَنَآ مِنْ أَزْوَاجِنَآ وَذُرِّيَتِنَآ قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَآ لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَآ أَتِنَآ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَآ عَذَابَ النَّار. سُبْحَانَ رَبكَ رَبّ الْعِزَةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمُ عَلىَ الْمُرْسَلِيْن وَالحَمْدُ ِللهِ رَبّ ِاْلعآلَمِيْنَ وَلَذِكْرُ اللهِ أكْبَرِ.
واَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُهُ



