
PWMJATENG.COM, SEMARANG — Maraknya praktik judi dan miras di Semarang mendapat sorotan tajam karena dinilai telah mengancam masa depan generasi muda. Ketua LDK PWM Jawa Tengah, Dr. H. KRAT AM Jumai, menyampaikan kritik sosial tersebut saat menyampaikan khutbah Idul Adha 1447 H di Halaman Rumah Dinas (Rumdin) Walikota Semarang, Rabu (27/5/2026).
Kritik tajam dalam ibadah Shalat Id yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Semarang Barat tersebut menyasar maraknya penyakit masyarakat yang kian meresahkan warga. Dr. H. KRAT AM Jumai, S.E., M.M. secara gamblang menyebut beberapa fenomena hitam yang kini membayangi ibu kota Jawa Tengah tersebut.
“Hari ini kita menghadapi tantangan moral yang berat. Maraknya minuman keras, prostitusi, narkoba, perjudian, dan berbagai kejahatan lainnya menjadi ancaman bagi masa depan masyarakat,” ujar AM Jumai di hadapan ribuan jemaah.
Menurut Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Jawa Tengah tersebut, perayaan Idul Adha harus menjadi momentum perubahan. Nilai-nilai ketauhidan yang diajarkan Nabi Ibrahim semestinya menjadi fondasi gerakan moral untuk memberantas kemaksiatan secara total.
Ancaman Nyata Darurat Moral Remaja
Dosen Unimus Semarang ini menilai, kondisi lingkungan saat ini sudah masuk dalam fase darurat moral remaja. Jika semua pihak membiarkan kemerosotan moral ini, Kota Semarang terancam kehilangan generasi emas pada masa depan.
Oleh karena itu, AM Jumai mendesak adanya gerakan bersama dari seluruh elemen kota. Gerakan ini melibatkan jajaran birokrasi, aparat penegak hukum, hingga tingkat keluarga.
“Karena itu semua pihak harus bersatu: pemerintah, aparat keamanan, aparat penegak hukum, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh warga Kota Semarang,” tutur AM Jumai dengan nada tegas.
Persatuan seluruh elemen tersebut, lanjut dia, menjadi satu-satunya jalan untuk menyelamatkan kota. Langkah konkret ini akan membebaskan warga dari lingkaran setan judi dan miras di Semarang.
Solusi Konkrit Selamatkan Kota
Dalam khutbahnya, AM Jumai juga mengingatkan bahwa keselamatan sebuah kota sangat bergantung pada integritas para pemimpinnya. Keteladanan dari pemegang kebijakan menjadi kunci utama penegakan hukum terhadap segala bentuk penyakit masyarakat di Semarang.
Ia mengutip esensi pesan teologis bahwa keberkahan akan turun jika suatu wilayah menjaga kesuciannya. Sebaliknya, pembiaran terhadap maksiat hanya akan mengundang bencana sosial yang merugikan publik luas.
“Bersatu menyelamatkan kota ini agar menjadi kota yang aman, religius, dan penuh keberkahan,” kata AM Jumai mengakhiri khutbahnya.
Momen Idul Adha Kota Semarang 1447 H ini diharapkan menjadi titik balik bagi penegakan hukum yang lebih agresif. Melalui sinergi yang kuat dalam agenda dakwah PCM Semarang Barat, warga optimistis Semarang mampu mengikis habis penyakit masyarakat demi masa depan generasi muda.
Kontributor : Medkom PWM Jateng
Editor: Al-Afasy



