Hasil Audit Energi Gedung PP Muhammadiyah Targetkan Efisiensi Listrik dan Ramah Lingkungan
PWMJATENG.COM, JAKARTA — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mempercepat langkah transformasi menuju pengelolaan fasilitas yang ramah lingkungan. Tim 1000 Cahaya secara resmi memaparkan laporan audit energi Gedung PP Muhammadiyah Kantor Jakarta di Ruang Rapat Lantai 2 Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Selasa (22/9/2026).
Sekretaris PP Muhammadiyah, M. Izzul Muslimin, menegaskan pentingnya langkah penghematan energi tersebut. Ia menyebut upaya ini membawa manfaat ganda bagi organisasi.
“Manfaat berhemat energi ini ada dua. Di dunia, kita bisa menghemat penggunaan energi. Di akhirat, berhemat merupakan bagian dari perintah Al-Qur’an,” ujar Izzul.
Pemeriksaan Fasilitas dan Sistem Kelistrikan
Rangkaian audit energi Gedung PP Muhammadiyah ini telah berlangsung sejak 2 September 2026. Audit komprehensif tersebut bertujuan menekan pemborosan energi listrik sekaligus menemukan peluang perbaikan tata kelola fasilitas.
Tim 1000 Cahaya menerjunkan lima auditor ahli, yaitu Sudarto M. Abukasim, Alif Jihad Rais, Lilik Yuwono, Surya Fitri, dan Ahmad Farid. Mereka memeriksa Gedung Pusat Dakwah, Gedung Wisma, hingga Masjid At-Tanwir.
Pemeriksaan mencakup sistem kelistrikan, pendingin udara (AC), pencahayaan, kenyamanan ruang, hingga fisik bangunan. Auditor kemudian menyerahkan sejumlah rekomendasi teknis yang dapat pengurus terapkan secara bertahap.
Beberapa rekomendasi utama meliputi pengaturan jam operasional AC dan lampu, pemeliharaan alat secara berkala, penguatan tata kelola, serta optimalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Ubah Perilaku dan Perkuat Aturan Organisasi
Wakil Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Sudarto M. Abu Kasim, menekankan pentingnya perubahan pola pikir penghuni gedung. Menurutnya, penghematan energi sangat bergantung pada kebiasaan harian.
“Penghematan energi bukan hanya soal angka, melainkan soal perilaku. Kita perlu mengintervensi perubahan perilaku melalui aturan yang jelas,” tegas Sudarto.
Sudarto mendorong penyusunan standar operasional prosedur (SOP) baru. Pengurus perlu menunjuk penanggung jawab di setiap unit kerja serta memantau penggunaan listrik secara ketat.
Sementara itu, Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, meminta hasil audit segera mewujud dalam tindakan nyata. Laporan ini harus menjadi dasar perubahan kebijakan pengelolaan gedung.
“Audit energi tidak boleh berhenti sebagai laporan. Hasilnya harus menjadi dasar perubahan kebijakan agar kita mewujudkan gedung ramah lingkungan,” kata Hening.
Melalui langkah ini, penghematan energi Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi percontohan bagi pengelolaan gedung organisasi keagamaan lain di seluruh Indonesia.
Kontributor: 1000 Cahaya Muhammadiyah
Editor: Akmal



