Kolom

Selamat Hari Santri 2026: Jangan Berhenti pada Jargon

Oleh: Taufiq Nugroho Nur, M.Pd. (Ketua PRM Dorang)

Selamat Hari Santri untuk semua santri berkemajuan, santri Nusantara, santri hijau, biru, merah, dan kuning di mana pun berada.

Tema Hari Santri 2026 adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Sebuah ikhtiar menyambut Indonesia Emas dengan spirit berkemajuan, berkarakter, dan cita-cita mewujudkan Indonesia yang makmur melalui peran para santri.

Namun, apakah ini hanya sekadar jargon atau benar-benar sebuah perjuangan di tengah tantangan perubahan zaman yang semakin hedonistis, materialistis, dan sekuler?

Mari kita lihat kembali makna santri menurut pandangan sejumlah tokoh dan kajian sosial.

Memahami Makna Santri dari Masa ke Masa

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dalam pemikirannya tentang pendidikan pesantren, melihat dunia santri dari sudut pandang sosial-kultural. Dalam tulisannya Pendidikan Tradisional di Pesantren, Gus Dur mengulas bagaimana pesantren membentuk sikap hidup dan pandangan keagamaan yang khas.

Dari sudut pandang ini, santri dapat dipahami sebagai identitas yang berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan, tidak semata-mata tempat seseorang menempuh pendidikan. Nilai keislaman dan toleransi semestinya menjadi bagian dari karakter tersebut.

Dalam lingkungan Muhammadiyah, santri juga diharapkan menjadi pelajar atau kader Islam yang memiliki karakter berkemajuan, egaliter, kritis, inovatif, serta berjiwa solutif terhadap persoalan umat.

Memahami istilah santri juga tidak lepas dari penelitian seorang antropolog asal Amerika Serikat, Clifford Geertz. Dalam bukunya The Religion of Java, Geertz meneliti kehidupan masyarakat Jawa di sebuah kota yang diberinya nama samaran “Modjokuto”, yakni Pare, Kediri, Jawa Timur.

Melalui penelitian tersebut, Clifford Geertz membagi masyarakat Jawa ke dalam tiga varian sosial-keagamaan, yaitu abangan, santri, dan priyayi.

Kelompok abangan digambarkan sebagai masyarakat yang memiliki corak keberagamaan sinkretis, yakni memadukan unsur-unsur tradisi lokal dengan praktik keagamaan. Kelompok ini banyak dikaitkan dengan masyarakat petani di pedesaan yang memiliki tradisi selamatan.

Sementara itu, priyayi dimaknai sebagai kelompok kelas atas atau kalangan birokrat dan pegawai pemerintahan yang memiliki akar tradisi bangsawan serta etika keraton.

Adapun santri dipahami sebagai kelompok masyarakat yang menjalankan ajaran Islam secara taat. Kelompok ini antara lain berkaitan dengan komunitas pondok pesantren dan kalangan pengusaha Muslim perkotaan.

Santri, Ilmu, dan Perjuangan Membangun Bangsa

Hari Santri adalah momentum kebangkitan generasi muda Islam yang memiliki ilmu agama dan ilmu umum dalam menjemput masa depan bangsa.

Bukankah Allah telah berfirman bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat? Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Mujadilah ayat 11.

Hal ini tampak dari para tokoh bangsa yang memiliki kekuatan ilmu dan amal. Kita bisa melihat tokoh-tokoh yang telah berjuang untuk negeri ini, seperti KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Ki Bagus Hadikusumo, Buya Hamka, KH Wahid Hasyim, Mohammad Natsir, dan Bung Hatta pada masa perjuangan serta awal kemerdekaan Indonesia.

Pada masa Orde Baru, kelompok santri berkembang melalui berbagai organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (Persis).

Selain itu, pada 1990 berdiri Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). B.J. Habibie menjadi ketua pertama organisasi tersebut, dengan keterlibatan sejumlah tokoh seperti Imaduddin Abdurrahim, Dawam Rahardjo, dan Amien Rais.

Saat ini, kelompok santri bahkan berada di lintas partai politik, baik yang bercorak hijau, biru, maupun merah. Maka, terminologi yang digunakan Clifford Geertz pada masa penelitiannya tentu tidak bisa dianggap mutlak untuk menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.

Santri Menguatkan Negeri, Bukan Sekadar Jargon

Pastinya, jargon “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” adalah sebuah perjuangan berat. Tantangannya bukan semata-mata penguasaan ilmu pengetahuan, melainkan juga persoalan karakter dan integritas.

Kita tentu prihatin apabila para santri yang seharusnya mampu mendukung Indonesia berkemajuan justru menjadi “pasien KPK” atau “pasien Kejaksaan”. Apalagi jika yang berhadapan dengan persoalan hukum itu adalah tokoh agama yang semestinya menjadi teladan masyarakat.

Jangan sampai santri hanya menjadi jargon.

Harapan pada Hari Santri ini adalah sebuah mimpi dan cita-cita tentang lahirnya kader muda Islam yang tidak hanya fasih memahami kitab-kitab agama, tetapi juga mampu mengomunikasikan ilmu yang dimiliki untuk menjawab persoalan modern umat.

Ilmu yang hebat, karakter yang kuat, dan semangat mengamalkan ilmu untuk berkontribusi dalam pembangunan peradaban masyarakat dan bangsa Indonesia adalah harapan besar menuju Indonesia Emas.

“Happy Santri Day for all! Let’s build a Golden Indonesia free from corruption, ignorance, and poverty.”


Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

pkv gameslk21slot777slot777slottoto 4dslot thailandslotslot gacor hari inislot gacorslot gacorslot thailandzonawin777zonawin777zonawin777slot777link slot gacor hari inizonawin777Zonawin777Zonawin777situs totoslot gacor