Kolom

AI Bisa Membantu Belajar, Tapi Jangan Sampai Menggantikan Proses Berpikir

Lebih dari separuh siswa Indonesia usia 15 tahun memakai chatbot AI untuk belajar setidaknya sekali seminggu. Riset menunjukkan nilai latihan bisa melonjak, tetapi kemampuan mengerjakan sendiri bisa ikut turun jika AI dipakai tanpa aturan.

Tempel soal ke chatbot, tunggu beberapa detik, lalu salin jawabannya. Memakai AI untuk belajar memang menggoda: membaca, merangkum, atau menyusun draf yang dulu memakan satu sore kini bisa selesai dalam hitungan menit.

Pertanyaan yang lebih mendesak daripada “apakah AI akan menggantikan guru” adalah ini: kalau sebagian kerja berpikir diserahkan ke mesin, apakah siswa masih belajar?

Di Indonesia, pertanyaan itu tidak lagi teoretis. Data Consumer Insights 2026 yang dipaparkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menunjukkan 61 persen responden Indonesia memakai AI untuk pendidikan. Angka itu berasal dari responden umum, bukan khusus siswa. Tetap saja, ia memperlihatkan seberapa cepat AI masuk ke kegiatan belajar.

Stella mengingatkan soal cognitive offloading, yaitu kebiasaan menyerahkan sebagian proses berpikir kepada alat. Tugas yang selesai cepat belum tentu melatih apa pun. Yang perlu ditanyakan: apakah kemampuan yang mestinya dilatih lewat tugas itu tetap tumbuh?

“Pertanyaannya adalah, apakah ini baik atau buruk?” kata Stella dalam Konvensi Tahunan ke-9 Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) Indonesia, 1 Oktober 2026.

Baca Juga: Gebrakan Baru! Kurikulum AI Sekolah Muhammadiyah Jaring 5.000 Pelajar di Jawa Tengah

Apa yang Sebenarnya Diukur Angka 61 Persen

Angka 61 persen mudah disalahbaca sebagai 61 persen siswa Indonesia. Bukan itu maksudnya. Statista Consumer Insights mengumpulkan datanya pada Januari-Juni 2026 dari responden berusia 18-64 tahun, sekitar 500 sampai 4.300 orang per negara.

Dalam grafik Statista yang terbit 8 September 2026, Indonesia berada di posisi tertinggi untuk penggunaan AI di bidang pendidikan dan pembelajaran di antara 10 negara yang ditampilkan. Karena negaranya terpilih, hasil itu tidak bisa dibaca sebagai “Indonesia nomor satu di dunia”.

Jadi angka ini belum menjawab siapa yang memakai AI, untuk apa, dan apakah hasilnya memperkuat belajar. Untuk siswa, data PISA 2025 lebih bisa dipegang.

Lebih dari Separuh Siswa 15 Tahun di Indonesia Memakai Chatbot AI Tiap Pekan

Menurut OECD, 53 persen siswa Indonesia usia 15 tahun memakai chatbot AI untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu. Rata-rata negara OECD 46 persen.

Perhatikan untuk apa chatbot itu dipakai. Sebanyak 39 persen siswa memakainya untuk merangkum teks bacaan, 32 persen untuk riset awal tentang topik baru, dan 30 persen untuk membuat draf tugas menulis. Hanya 7 persen yang hampir tidak pernah atau sama sekali tidak memakai chatbot AI untuk jenis tugas sekolah yang ditanyakan PISA.

Merangkum, mencari bahan, dan menulis draf adalah latihan yang selama ini membentuk cara siswa membaca dan bernalar. AI sudah masuk ke sana.

Dengan hanya 7 persen yang tidak pernah memakainya, larangan total sulit dijalankan. Pertanyaan yang lebih berguna: bagian mana dari proses belajar yang masih dikerjakan siswa sendiri?

Beda Dibantu AI dan Digantikan AI

Memakai AI untuk belajar tidak otomatis membuat siswa malas berpikir. Bedanya ada pada apa yang diserahkan ke mesin.

Bayangkan siswa yang sudah mencoba sebuah soal sendiri, buntu, lalu meminta AI menunjukkan di mana letak kesalahannya. Ia masih belajar. Begitu juga siswa yang meminta contoh soal tambahan, menyuruh chatbot membantah argumennya, atau mencari sumber lalu memeriksanya lagi.

Lain cerita kalau semuanya diserahkan sejak awal: soal ditempel, jawaban diterima mentah, dikumpulkan tanpa pernah dipahami. Di titik inilah cognitive offloading berubah menjadi masalah pendidikan.

Memindahkan beban berpikir ke alat sebenarnya bukan hal baru. Catatan membantu mengingat, kalkulator menghitung, mesin pencari mempercepat pencarian. Masalah baru muncul ketika alat mengambil alih kemampuan yang justru sedang ingin dibentuk. Kalau tugasnya melatih siswa merangkum, misalnya, menyerahkan seluruh rangkuman ke AI berarti membuang bagian yang seharusnya dilatih.

Karena itu, aturan “boleh” atau “dilarang” belum cukup. Guru perlu tahu dulu tugas itu melatih apa, baru menentukan bagian mana yang boleh dibantu AI.

Eksperimen PNAS: Nilai Latihan Naik 127 Persen, Lalu AI Dicabut

Selisih antara menyelesaikan tugas dan benar-benar belajar pernah diukur dalam eksperimen lapangan pada hampir 1.000 siswa sekolah menengah. Penelitian Hamsa Bastani dan tim, yang terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), menguji dua tutor berbasis GPT-4 dalam pelajaran matematika.

Selama AI tersedia, hasil latihan melonjak. Kelompok yang memakai GPT Base, antarmuka yang mirip chatbot biasa, mencatat nilai latihan 48 persen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Kelompok GPT Tutor, yang dirancang dengan pembatas pedagogis, naik 127 persen.

Lalu akses AI dicabut dan siswa mengerjakan sendiri. Kelompok GPT Base kini mencatat nilai 17 persen lebih rendah daripada kelompok yang sejak awal belajar tanpa AI. Pada kelompok GPT Tutor, efek negatif itu sebagian besar bisa ditekan.

Penelitian ini hanya menguji matematika, jadi hasilnya tidak bisa langsung diterapkan ke semua mata pelajaran. Tetapi polanya patut dicatat: performa saat alat tersedia tidak sama dengan keterampilan yang tersisa setelah alat dilepas.

Siswa bisa mengumpulkan jawaban benar dalam tugas yang rapi. Pemahaman baru kelihatan ketika ia bisa menjelaskan kenapa langkah itu dipilih dan mengerjakan soal serupa sendirian.

AI untuk Belajar: Beri Petunjuk, Bukan Jawaban

Eksperimen yang sama menunjukkan bahwa persoalannya tidak terletak pada ada atau tidaknya AI. Rancangan bantuannya yang menentukan.

GPT Tutor diberi guardrail, yaitu pembatas pedagogis. Ia diarahkan memberi petunjuk, tidak langsung jawaban akhir. Peneliti juga membekalinya dengan solusi yang benar dan daftar kesalahan umum siswa, sehingga responsnya lebih mirip tutor.

Prinsip ini bisa ditiru sehari-hari. Siswa bisa mengetik, “Jangan jawab soal ini; beri saya petunjuk pertama.” Atau menulis argumennya sendiri lebih dulu, lalu meminta chatbot menunjuk bagian yang paling lemah. Pada kedua cara itu, AI hanya membuka langkah berikutnya; pekerjaan berpikirnya tetap di tangan siswa.

Panduan Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial untuk Guru dari Kemendikdasmen sejalan dengan itu: AI diposisikan sebagai alat bantu, sementara pertimbangan profesional guru, konteks murid, dan nilai etis tetap menjadi landasan.

Ketika Jawaban Mudah Didapat, Peran Guru Bergeser

AI bisa menjelaskan konsep, membuat latihan, bahkan memberi umpan balik dalam hitungan detik. Sebagian pekerjaan guru memang berubah karenanya, tetapi nilai guru tidak berhenti pada penyampaian informasi.

Di kelas yang sudah akrab dengan AI, guru makin dibutuhkan untuk merancang tugas yang menuntut penalaran dan menentukan kapan teknologi boleh dipakai. Guru juga yang meminta siswa menjelaskan ulang jawabannya, lalu memeriksa apakah pemahaman itu masih ada ketika bantuan digital dilepas.

Kerangka Kompetensi AI untuk Guru dari UNESCO merumuskan kemampuan itu dalam lima dimensi: cara pandang yang berpusat pada manusia, etika AI, dasar dan aplikasi AI, pedagogi AI, serta AI untuk pengembangan profesional. Kerangka ini menekankan agensi manusia dalam proses pendidikan; guru tidak diposisikan sebagai operator teknologi.

Guru di Jawa Tengah Mulai Dilatih

Di Jawa Tengah, persiapan itu sudah mulai. Pada 5 Oktober 2026, ratusan guru PAUD mengikuti Pelatihan Robotik dan Coding bagi Tenaga Pendidik PAUD Berbasis STEAM di Salatiga. Pesertanya mendapat pengenalan AI dasar dan cara menerapkannya dalam pembelajaran.

Bunda PAUD Provinsi Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin menekankan tiga hal dalam penerapan AI di pendidikan: daya kritis, etika, dan kreativitas. Ketiganya relevan dengan tantangan di kelas: anak perlu diarahkan agar teknologi memperkuat cara mereka berpikir, tidak berhenti sebagai pengguna.

Di lingkungan Muhammadiyah, adaptasi juga berjalan. Pada Juni 2026, SMA Muhammadiyah 1 Simo, Boyolali, menggelar in-house training integrasi coding dan AI dalam pembelajaran berdiferensiasi. Para guru langsung mencoba sejumlah aplikasi berbasis AI untuk kegiatan belajar mengajar.

Pelatihan seperti itu penting. Tetapi bisa mengoperasikan aplikasi baru langkah pertama; sekolah masih harus memutuskan tugas mana yang boleh dibantu AI, kapan siswa wajib bekerja sendiri, bagaimana keluaran AI diperiksa, dan bagaimana guru memastikan siswa memahami hasil yang dikumpulkannya.

Baca Juga: Guru SMA Muhammadiyah 1 Simo Kini Racik Pembelajaran Pakai AI dan Coding

Perspektif Muhammadiyah: Menjaga Iktisab di Tengah AI

Isu ini sudah dibahas di Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Januari 2026, Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Muhamad Rofiq Muzakkir memperingatkan “kemalasan kognitif” yang muncul ketika manusia terlalu menyerahkan proses berpikir kepada AI.

Rofiq mengaitkannya dengan al-iktisab dan ta’allum: ilmu diperoleh lewat usaha dan proses belajar. “Ilmu itu diperoleh melalui proses belajar, bukan sekadar hasil instan,” ujarnya. Bagi siswa, ini berarti AI lebih tepat menjadi pendamping dalam proses itu, bukan mesin yang menghapusnya.

Rofiq juga menekankan verifikasi. Keluaran AI terbatas oleh datanya dan bisa bias, sehingga tidak semestinya diterima mentah. Tabayyun makin dibutuhkan ketika jawaban mesin terdengar meyakinkan padahal belum tentu benar.

Pada Pengajian Tarjih Juli 2026, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Mukhlis Rahmanto menempatkan AI sebagai alat bantu manusia, bukan pengganti akal atau otoritas keilmuan. Menurutnya, manfaat atau mudarat teknologi sangat ditentukan oleh cara manusia memakainya.

Bagi sekolah Muhammadiyah, dua pesan itu bisa dijadikan pegangan praktis: siswa tetap menjalani prosesnya sendiri, dan apa pun yang keluar dari AI diperiksa sebelum dipercaya.

Uji Sederhana: Tutup AI-nya

AI akan makin sulit dipisahkan dari dunia pendidikan. Menolaknya tidak realistis; yang bisa dijaga adalah agar kemudahan itu tidak menghapus proses yang ingin dibentuk lewat belajar.

Ada uji sederhana yang bisa dipakai guru, siswa, maupun orang tua: tutup AI-nya, lalu minta siswa menjelaskan apa yang baru dipelajarinya. Bisakah ia menerangkan mengapa sebuah jawaban benar? Menemukan kesalahan? Mempertahankan argumennya, atau mengerjakan soal serupa tanpa meminta mesin mengulang dari awal?

Kalau bisa, AI sedang membantu belajar. Kalau tugas selesai tetapi siswa tidak tahu bagaimana jawabannya didapat, yang bertambah hanya kecepatan menyelesaikan pekerjaan.

Guru bisa mulai dari yang kecil: pada tugas yang dibantu AI, tambahkan satu langkah, yaitu meminta siswa menjelaskan jawabannya dengan kata-katanya sendiri, tanpa layar.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

lk21slot777slot777slottoto 4dslot thailandslotslot gacor hari inislot gacorslot gacorslot thailandzonawin777zonawin777zonawin777slot777link slot gacor hari inizonawin777slot777slot gacorslot gacorslotzonawin777slot thailandslot gacorslot thailandslot thailandslot thailandsitus totositus totozonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777tempur777slot gacorslot gacorslot gacorslot gacorslot gacoratatotoatatotototo 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtogel 4dtogel 4datatotototo 4dtoto 4dtoto 4datatotototo 4dtoto 4d