Akses Psikolog Terbatas? Ini Cara Mencegah PTSD pada Anak Korban Bencana
PWMJATENG.COM, Magelang — Pendampingan berkelanjutan oleh relawan terlatih menjadi kunci utama untuk memitigasi gangguan psikologis berat pada anak-anak korban bencana di tengah keterbatasan akses psikolog profesional. Hal tersebut mengemuka dalam pelatihan Psychological First Aid (PFA) yang berlangsung di Magelang pada Sabtu (23/5/2026).
Materi ini memberikan pemahaman praktis mengenai pentingnya pertolongan pertama psikologis bagi penyintas bencana maupun situasi krisis. Pengetahuan ini menjadi bekal krusial bagi para relawan karena gangguan psikologis pascabencana sering kali tidak terlihat namun berdampak jangka panjang.
Wanodya Kusumastuti selaku pemateri menjelaskan bahwa PFA merupakan bentuk pertolongan pertama dalam kondisi bencana atau krisis. Relawan harus memberikan intervensi ini segera, dengan batas waktu maksimal dua minggu setelah kejadian. Pendekatan dukungan psikologis ini juga menegaskan agar relawan tidak memaksa penyintas untuk menceritakan trauma mereka.
“Boleh marah, sedih, dan kecewa, itu adalah kondisi yang manusiawi,” ujar Wanodya saat menjelaskan pentingnya validasi emosi kepada penyintas di Magelang, Sabtu (23/5/2026).
Menurut Wanodya, tujuan utama PFA adalah memberikan rasa aman dan nyaman kepada korban. Terkadang, kehadiran fisik dan kesediaan relawan untuk mendengarkan sudah menjadi bentuk bantuan yang sangat berarti bagi pemulihan jiwa mereka.
Menerapkan Metode 3L WHO untuk Korban Krisis
Untuk mempermudah aksi di lapangan, para peserta mempelajari pendekatan 3L dari World Health Organization (WHO). Metode tersebut meliputi Look (mengamati kondisi penyintas), Listen (mendengarkan secara aktif dan empatik), serta Link (menghubungkan penyintas dengan sumber dukungan yang dibutuhkan).
Sesi pelatihan ini berjalan interaktif ketika para relawan langsung mengikuti praktik role play secara berpasangan. Mereka menyimulasikan situasi riil antara penyintas bencana dan relawan PFA menggunakan panduan Look, Listen, dan Link tersebut.
Wanodya menegaskan bahwa semua orang berpotensi menjadi relawan PFA. Syarat utamanya adalah memiliki pengetahuan dasar, sikap empatik, serta kemampuan membangun kedekatan emosional dengan penyintas.
Antisipasi Trauma Anak dan Gejala PTSD
Kebutuhan penanganan psikis ini menjadi makin mendesak ketika membahas kelompok rentan. Dalam sesi diskusi, peserta menanyakan peran relawan dalam menangani trauma anak-anak ketika akses psikolog profesional di lokasi bencana sangat terbatas.
Merespons hal itu, Wanodya menekankan bahwa pendampingan berkelanjutan oleh relawan terlatih menjadi kunci utama. Langkah cepat ini sangat vital untuk memitigasi risiko gangguan kesehatan mental yang lebih berat pada anak.
“Pendampingan berkelanjutan oleh relawan terlatih sangat penting untuk mencegah trauma berkembang menjadi Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD,” ujar Wanodya.
Melalui pelatihan intensif ini, para relawan kini memiliki pemahaman dasar tentang pentingnya dukungan psikologis awal. Mereka diharapkan mampu menjadi agen yang lebih peka, responsif, dan siap bergerak cepat di lingkungan sekitar yang terdampak krisis.
Kontributor : Fika
Editor: Al-Afasy



