Kolom

Santri Masa Kini, Penjaga Nilai Islam dan Penggerak Kemajuan Bangsa

Oleh: Haidar Mubarak, Lc., M.H. (Wakil Direktur Ponpes Muhammadiyah Imam Syuhodo)

Merawat Tradisi, Mengembangkan Inovasi, Mengabdi untuk Negeri

Santri bukan sekadar penjaga warisan masa lalu. Santri merupakan generasi penerus yang bertanggung jawab menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai kekuatan untuk membangun masa depan.

Pesantren bukan sekadar tempat untuk belajar membaca kitab, menghafal Al-Qur’an, atau mendalami ilmu agama. Pesantren merupakan ruang pembentukan manusia, tempat iman ditanamkan, akhlak dibiasakan, ilmu dikembangkan, dan pengabdian ditumbuhkan.

Dari lingkungan pesantren, lahir generasi yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga ditempa untuk hidup sederhana, menghargai ilmu, menghormati guru, menjaga kedisiplinan, dan mengutamakan kemanfaatan bagi sesama.

Sepanjang sejarah Islam di Nusantara, pesantren, surau, dan dayah menjadi bagian penting dalam perkembangan pendidikan serta kehidupan masyarakat. Para ulama dan santri berperan dalam menyebarkan Islam, mendidik masyarakat, memelihara tradisi keilmuan, serta mengambil bagian dalam perjuangan bangsa.

Kiprah tersebut mengajarkan satu hal penting: ilmu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh harus melahirkan tanggung jawab terhadap kehidupan.

Kini, ketika dunia bergerak semakin cepat, warisan tersebut perlu dilanjutkan dengan semangat yang sama melalui bentuk perjuangan yang sesuai dengan tantangan zaman.

Santri Masa Lalu: Berjuang dengan Ilmu dan Pengabdian

Sejarah mencatat bahwa sebagian ulama dan santri turut berperan dalam perjuangan melawan kolonialisme dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu momentum penting adalah Resolusi Jihad yang dikeluarkan Nahdlatul Ulama (NU) pada 22 Oktober 1945, yang menjadi bagian dari dinamika perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Perjuangan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari perjuangan berbagai elemen bangsa yang memiliki cita-cita bersama untuk menjaga kemerdekaan.

Di tengah keterbatasan zaman, para ulama dan santri membangun kekuatan melalui pendidikan, dakwah, solidaritas masyarakat, serta keberanian membela kebenaran.

Mereka menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu dimulai dengan kekuatan besar. Perjuangan dapat dimulai dari majelis ilmu, ruang belajar sederhana, dan keteguhan dalam memegang prinsip.

Semangat itulah yang seharusnya diwarisi oleh generasi santri saat ini.

Jika dahulu para pendahulu berjuang menghadapi penjajahan, santri masa kini menghadapi tantangan yang tidak kalah penting, seperti kebodohan, kemiskinan, ketimpangan sosial, krisis moral, penyebaran informasi palsu, dan penyalahgunaan teknologi.

Bentuk perjuangannya boleh berubah, tetapi nilai dasarnya tetap sama: keberanian, ilmu, integritas, dan pengabdian.

Santri Masa Kini: Jangan Berhenti pada Kebanggaan Sejarah

Menghormati sejarah merupakan kewajiban moral. Namun, membanggakan masa lalu saja tidak cukup. Sejarah yang mulia harus menjadi energi untuk menghasilkan karya pada masa kini.

Santri masa kini perlu memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus keluasan wawasan. Mereka perlu menguasai bahasa, sains, teknologi, keterampilan komunikasi, kemampuan berpikir kritis, serta kompetensi profesional sesuai bidangnya.

Al-Qur’an memberikan landasan yang kuat bagi semangat keilmuan ini. Allah Swt. berfirman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”

(QS. Al-‘Alaq: 1)

Wahyu pertama ini mengingatkan bahwa membaca, belajar, dan mengembangkan pengetahuan merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.

Ilmu tidak seharusnya berhenti pada penguasaan informasi, tetapi perlu menjadi sarana untuk memahami kehidupan dan memperbaikinya.

Santri yang berkemajuan bukanlah santri yang meninggalkan kitab-kitab klasik demi teknologi. Sebaliknya, mereka mempelajari warisan keilmuan Islam secara mendalam, kemudian mengembangkan kemampuan untuk menjawab persoalan masyarakat modern.

Santri harus mampu membaca kitab sekaligus membaca realitas, memahami dalil sekaligus memahami konteks, serta menjaga tradisi tanpa takut terhadap inovasi yang bermanfaat.

Ilmu Harus Melahirkan Kemanfaatan

Dalam Islam, kemuliaan ilmu tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral. Allah Swt. berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

(QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini mengingatkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang mulia. Namun, kemuliaan tersebut bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Semakin luas ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk berlaku jujur, adil, rendah hati, dan bermanfaat.

Rasulullah saw. juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

(HR. Muslim, no. 2699)

Hadis ini menegaskan keutamaan perjalanan menuntut ilmu. Bagi santri, belajar bukan sekadar kewajiban selama berada di pesantren. Belajar merupakan perjalanan panjang yang harus terus dilanjutkan sepanjang kehidupan.

Ilmu agama perlu diperdalam, pengetahuan umum perlu dikembangkan, keterampilan harus dilatih, dan pengalaman harus dievaluasi. Semua itu dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang bertanggung jawab.

Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi juga orang yang mampu mewujudkannya melalui tindakan nyata.

Tujuh Kiprah Santri untuk Membangun Peradaban Berkemajuan

Ada tujuh kiprah yang dapat dilakukan santri untuk mengambil bagian dalam membangun peradaban yang berkemajuan.

Pertama, menjadi penjaga tradisi keilmuan. Santri harus mencintai ilmu, menghormati ulama, memahami sumber ajaran Islam, serta membangun budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan meneliti.

Kedua, menjadi penggerak pendidikan. Santri perlu mengambil bagian dalam mencerdaskan masyarakat, membantu generasi muda memperoleh pendidikan yang bermutu, dan menghadirkan pembelajaran yang mencerahkan.

Ketiga, menjadi pelopor literasi digital. Di tengah derasnya arus informasi, santri harus mampu memeriksa kebenaran berita, menjaga etika komunikasi, serta menyebarkan dakwah yang bersumber jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Keempat, membangun kemandirian ekonomi. Santri perlu mengembangkan keterampilan usaha, memahami pengelolaan keuangan, menciptakan produk yang bermanfaat, dan membuka peluang kerja bagi masyarakat.

Kelima, menegakkan moral dan keadilan. Integritas harus tercermin dalam kejujuran, kedisiplinan, sikap amanah, penolakan terhadap korupsi, serta keberanian membela hak orang lain melalui cara yang benar.

Keenam, memperkuat persatuan bangsa. Santri harus mampu membangun kerja sama, menghargai perbedaan, serta menghadirkan Islam sebagai sumber kedamaian dan kemaslahatan dalam kehidupan bersama.

Ketujuh, merawat bumi dan lingkungan. Menjaga kebersihan, mengelola sampah, menghemat air, dan mengembangkan lingkungan pesantren yang sehat merupakan bagian dari tanggung jawab manusia dalam memakmurkan bumi.

Allah Swt. berfirman:

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya.”

(QS. Hud: 61)

Ayat tersebut memberikan landasan refleksi bahwa kehidupan manusia tidak boleh hanya berorientasi pada pemanfaatan sumber daya, tetapi juga harus disertai tanggung jawab untuk membangun dan memelihara kehidupan.

Ketujuh peran tersebut menunjukkan bahwa ruang pengabdian santri sangat luas. Santri dapat berkontribusi melalui profesi apa pun yang dijalani, selama ilmu dan keterampilannya digunakan secara benar serta membawa manfaat.

Peradaban Berkemajuan Dimulai dari Perubahan Diri

Sering kali kita membicarakan kemajuan dalam skala besar, mulai dari kemajuan bangsa, pembangunan ekonomi, kecanggihan teknologi, hingga kualitas pendidikan. Namun, perubahan besar tidak dapat dilepaskan dari perubahan perilaku manusia.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.”

(QS. Ar-Ra‘d: 11)

Pesan ayat ini relevan bagi kehidupan santri. Peradaban yang maju tidak akan lahir dari kebiasaan menunda pekerjaan, budaya asal-asalan, ketidakjujuran, atau sikap merasa cukup dengan kemampuan yang dimiliki.

Kemajuan harus dimulai dari hal-hal mendasar, seperti disiplin dalam belajar, jujur dalam ujian, bersungguh-sungguh dalam bekerja, menjaga kebersihan, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab terhadap amanah.

Pesantren yang ingin maju perlu membangun budaya mutu. Guru perlu terus meningkatkan kompetensi, santri perlu meningkatkan kesungguhan belajar, pengelola lembaga perlu memperbaiki tata kelola, dan alumni perlu memperluas kontribusi kepada masyarakat.

Semua pihak harus bersedia melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.

Kemajuan bukan sekadar slogan yang diucapkan dalam pidato, melainkan hasil dari kebiasaan baik yang dikerjakan secara konsisten.

Dari Santri untuk Umat dan Bangsa

Peradaban yang berkemajuan tidak dibangun oleh satu kelompok saja. Peradaban membutuhkan kerja sama antara ulama, pendidik, ilmuwan, pengusaha, pemimpin, pemerintah, dan masyarakat.

Al-Qur’an memberikan pedoman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”

(QS. Al-Ma’idah: 2)

Pesan ini mengingatkan bahwa kolaborasi merupakan kekuatan penting dalam mewujudkan kebaikan.

Pesantren perlu membuka ruang kerja sama dengan perguruan tinggi, sekolah, lembaga sosial, dunia usaha, dan komunitas profesional.

Santri juga perlu belajar menghargai keahlian orang lain. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan satu pendekatan. Persoalan kesehatan membutuhkan ilmu kesehatan, persoalan ekonomi membutuhkan kompetensi ekonomi, dan persoalan teknologi membutuhkan pemahaman teknis.

Dalam hal ini, nilai-nilai agama dapat menjadi pedoman moral yang mengarahkan seluruh keahlian tersebut agar digunakan secara bertanggung jawab.

Dengan keterbukaan, kerja sama, dan integritas, santri dapat berperan lebih luas dalam pembangunan bangsa tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Santri yang Ditunggu Zaman

Dunia tidak hanya membutuhkan santri yang mampu menjelaskan masa lalu dengan baik. Dunia membutuhkan santri yang mampu menjawab tantangan masa kini dan mempersiapkan masa depan.

Dunia membutuhkan santri yang kuat imannya, luas ilmunya, mulia akhlaknya, mandiri hidupnya, dan nyata pengabdiannya.

Santri diharapkan tidak berhenti pada hafalan, tetapi terus memperdalam pemahaman. Tidak berhenti pada wacana, tetapi menghasilkan karya. Tidak hanya bangga terhadap sejarah, tetapi juga bersedia memikul tanggung jawab untuk melanjutkannya.

Sebab, kejayaan sebuah peradaban tidak hanya ditentukan oleh kemuliaan warisan yang dimiliki, tetapi juga oleh kesungguhan generasi penerus dalam mengembangkan warisan tersebut.

Merawat tradisi adalah kewajiban. Mengembangkan inovasi adalah kebutuhan. Mengabdi kepada umat dan bangsa adalah panggilan.

Dari pesantren, santri belajar mengenal Allah, memahami ilmu, membentuk akhlak, dan mengembangkan tanggung jawab. Dari bekal itulah diharapkan lahir generasi yang mampu menghadirkan Islam sebagai kekuatan ilmu, kemanusiaan, keadilan, dan kemajuan.

Santri bukan hanya bagian dari sejarah peradaban. Santri adalah bagian dari masa depan yang sedang dibangun.


Referensi:

  1. Al-Qur’an: QS. Al-‘Alaq: 1; QS. Al-Mujadilah: 11; QS. Hud: 61; QS. Ar-Ra‘d: 11; dan QS. Al-Ma’idah: 2.
  2. Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim, hadis no. 2699. Lihat hadis.
  3. Dhofier, Zamakhsyari. (2011). Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia. Jakarta: LP3ES.
  4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
  5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

pkv gameslk21slot777slot777slottoto 4dslot thailandslotslot gacor hari inislot gacorslot gacorslot thailandzonawin777zonawin777zonawin777slot777link slot gacor hari inizonawin777Zonawin777Zonawin777situs totoslot gacor