Khutbah Jumat: Merindukan Rasulullah dengan Menghidupkan Sunah dan Akhlaknya
Membuktikan cinta kepada Rasulullah saw. melalui iman, ibadah, dan akhlak

Oleh : Ustadz. Sumarno (IMBS Miftahul Ulum Pekajangan)
Naskah khutbah Jumat ini mengajak jemaah mengubah kerinduan dan cinta kepada Rasulullah saw. menjadi amal nyata: mengikuti tuntunannya berdasarkan ilmu, menjaga ibadah, dan meneladani akhlaknya dalam keluarga maupun kehidupan sosial.
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., keluarga, para sahabat, serta umat yang setia mengikuti tuntunannya.
Pada kesempatan ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jemaah agar terus meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. Ketakwaan itu kita wujudkan dengan menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta memperbaiki hubungan dengan sesama.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31, terjemahan Kementerian Agama RI)
Cinta yang Menembus Zaman
Ada sesuatu yang istimewa dalam kehidupan seorang Muslim. Kita dapat merindukan seseorang yang belum pernah kita temui. Kita mencintai seorang Rasul yang hidup lebih dari empat belas abad sebelum kita dilahirkan. Kita tidak pernah melihat wajah atau mendengar suara beliau secara langsung. Namun, ketika nama Muhammad saw. disebut, hati kita tersentuh. Ketika perjuangannya dikisahkan, kita terharu. Ketika selawat dibaca, hati terasa teduh.
Mengapa demikian? Sebab Rasulullah saw. bukan sekadar tokoh sejarah. Beliau adalah utusan Allah yang menyampaikan cahaya Islam, membimbing manusia mengenal Tuhannya, dan memberikan teladan dalam ibadah, akhlak, keluarga, serta kehidupan bermasyarakat.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah [9]: 128, terjemahan Kementerian Agama RI)
Perhatikan frasa حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ: beliau sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi umatnya. Kita tidak pernah duduk di hadapan Rasulullah saw., tetapi risalah yang beliau perjuangkan telah sampai kepada kita. Kita tidak pernah menggenggam tangan beliau, tetapi melalui dakwahnya kita mengenal Allah dan Islam.
Rasulullah Berharap Melihat Umat yang Datang Kemudian
Dalam hadis sahih dari Abu Hurairah r.a., ketika mendatangi pemakaman, Rasulullah saw. mengucapkan salam kepada para penghuninya. Beliau kemudian bersabda:
وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا
Artinya: “Aku sungguh berharap kita dapat melihat saudara-saudara kita.” (HR. Muslim, Sahih Muslim, Kitab at-Taharah, no. 249a; hadis sahih)
Para sahabat bertanya, “Bukankah kami saudara-saudaramu, wahai Rasulullah?” Beliau menjelaskan bahwa mereka adalah para sahabatnya, sedangkan saudara-saudara yang dimaksud ialah orang-orang beriman yang belum datang pada masa itu. Dalam kelanjutan hadis, Rasulullah saw. menyebut tanda bekas wudu sebagai cara mengenali umatnya di telaga.
Hadis ini bukan alasan untuk merasa pasti telah menjadi golongan yang dirindukan. Sebaliknya, hadis tersebut mengajak kita berharap sekaligus berbenah. Apakah iman kita sungguh dijaga? Apakah salat dan wudu kita terpelihara? Apakah ajaran beliau kita ikuti dengan jujur? Kita berharap termasuk umat yang beliau kenali, tetapi harapan itu harus disertai kesetiaan pada tuntunan Islam.
Cinta kepada Rasulullah Harus Dibuktikan
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Cinta selalu mempunyai ukuran. QS. Ali ‘Imran ayat 31 menegaskan bahwa cinta kepada Allah dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah saw. Karena itu, cinta kepada Nabi bukan hanya perasaan, ungkapan, atau suasana haru. Cinta menuntut ittiba’: mengikuti petunjuk beliau berdasarkan ilmu dan mengamalkannya secara sungguh-sungguh.
Jika kita mencintai Nabi yang jujur, sudahkah kejujuran hadir dalam pekerjaan dan perdagangan kita? Jika kita mencintai Nabi yang lembut, sudahkah kelembutan terasa dalam ucapan kita? Jika kita mencintai Nabi yang penyayang, apakah keluarga, tetangga, teman, anak-anak, dan orang tua merasakan kasih sayang dari kita? Jika kita mencintai Nabi yang pemaaf dan rendah hati, masihkah kita memelihara dendam dan gemar membanggakan diri?
Rasulullah saw. telah wafat dan dimakamkan di Madinah. Kita tidak dapat melihat beliau secara langsung. Akan tetapi, Al-Qur’an yang beliau sampaikan masih kita baca. Tuntunan salat yang beliau ajarkan masih kita kerjakan. Kejujuran, kasih sayang, kesabaran, dan amanah yang beliau contohkan masih dapat kita hidupkan.
Menghidupkan Sunah dalam Kehidupan Sehari-hari
Maka, jika hari ini kita berkata, “Aku mencintai Rasulullah saw.,” jangan biarkan kalimat itu berhenti di bibir. Buktikan melalui salat yang dijaga, amanah yang ditunaikan, dan rezeki yang dicari dengan cara halal. Buktikan melalui bakti kepada orang tua, pendidikan yang baik bagi anak, kepedulian kepada tetangga, serta lisan yang dijauhkan dari fitnah, gibah, kebencian, dan permusuhan.
Di tengah kehidupan digital, cinta kepada Rasulullah saw. juga tampak pada cara kita menggunakan gawai. Jangan mudah menyebarkan kabar yang belum jelas. Jangan menjadikan media sosial sebagai tempat merendahkan orang lain. Tahan jari ketika marah, periksa informasi sebelum membagikannya, dan pilihlah perkataan yang benar serta membawa maslahat.
Mari memulai dari tiga langkah sederhana. Pertama, pelajari Al-Qur’an, hadis sahih, dan sirah Nabi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Kedua, perbaiki satu sunah atau akhlak secara konsisten, misalnya menjaga salat berjemaah, menepati janji, atau berbicara santun. Ketiga, hadirkan teladan Nabi dalam keluarga: dengarkan pasangan dan anak, minta maaf ketika bersalah, serta selesaikan perbedaan tanpa kekerasan.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Mari bertanya kepada diri masing-masing: jika akhlak kita dinilai berdasarkan ajaran Rasulullah saw., apakah kejujuran, kelembutan, kesabaran, dan kepedulian telah tampak? Ketika marah, apakah kita mampu menahan diri? Ketika memiliki kuasa, apakah kita tetap rendah hati? Ketika mempunyai harta, apakah kita mau berbagi? Ketika berhadapan dengan orang yang berbeda, apakah kita tetap berlaku adil dan beradab?
Inilah kerinduan yang berbuah amal. Bukan sekadar ingin bertemu Rasulullah saw. di akhirat, tetapi berusaha menjadi umat yang setia kepada risalahnya. Semoga Allah meneguhkan cinta kita kepada Nabi Muhammad saw., membimbing kita mengikuti tuntunannya, menghiasi kita dengan akhlaknya, dan mempertemukan kita dengannya serta menganugerahkan syafaatnya dengan izin Allah.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. وَأَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita menjaga takwa kepada Allah dan membuktikan cinta kepada Rasulullah saw. melalui ketaatan yang berlandaskan ilmu. Jangan berhenti pada simbol dan ucapan. Hidupkan sunah beliau dalam ibadah, kejujuran, kasih sayang, amanah, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap mereka yang lemah.
Mari pulang dari masjid dengan satu tekad yang nyata: memperbaiki satu ibadah yang masih lalai, menghentikan satu kebiasaan buruk, dan menghidupkan satu akhlak mulia. Perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus lebih bermakna daripada rasa haru yang segera hilang.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِيَ الَّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
أَقِمِ الصَّلَاةَ.
Editor: Al-Afasy



