Kolom

Ketika Malam Maulid Nabi Datang: Menyiapkan Hati untuk Meneladani Rasul

Oleh: Nashrul Mu’minin, S.Pd., C.PW., C.IJ.

Senin malam, 24 Agustus 2026, suasana perlahan berubah. Ada kesibukan yang mungkin tidak selalu terlihat besar, tetapi terasa di banyak tempat: persiapan menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. pada Selasa, 25 Agustus 2026.

Sebagian orang menata tempat, sebagian menyiapkan konsumsi, sebagian menyusun acara, sementara yang lain mulai menghidupkan suasana dengan lantunan shalawat. Malam itu menjadi semacam pintu masuk menuju momentum yang setiap tahun mengajak umat Islam kembali menoleh kepada sosok Rasulullah saw.

Tanggal 25 Agustus 2026 bertepatan dengan 12 Rabiulawal 1448 H, yang diperingati sebagai Maulid Nabi Muhammad saw.

Namun, di balik persiapan yang tampak sederhana itu, ada pertanyaan yang jauh lebih dalam: untuk apa Maulid diperingati?

Apakah sekadar untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad saw.? Apakah hanya untuk menghadirkan suasana religius dalam sebuah pertemuan? Ataukah Maulid sebenarnya merupakan kesempatan untuk menghentikan sejenak kesibukan dan melihat kembali apakah akhlak Rasulullah masih hidup dalam diri umatnya?

Pertanyaan tersebut semakin penting karena Maulid kerap hadir dalam suasana meriah. Lampu dipasang, pengeras suara disiapkan, jamaah berdatangan, shalawat dikumandangkan, dan kisah kehidupan Rasulullah disampaikan. Semuanya menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang berkembang di berbagai masyarakat Muslim.

Namun, setelah semua selesai, kursi dikembalikan, dan jamaah pulang, apa yang tersisa?

Jawabannya semestinya bukan hanya kenangan tentang sebuah acara. Yang seharusnya tertinggal adalah dorongan untuk berubah.

Malam yang Mengajak Mengingat

Maulid Nabi Muhammad saw. pada dasarnya menjadi momentum untuk mengenang sosok Rasulullah yang membawa risalah Islam. Kehidupan beliau tidak hanya berisi kisah kelahiran seorang manusia mulia, tetapi juga perjalanan panjang penuh perjuangan dalam mengajarkan tauhid, membentuk akhlak, memperjuangkan keadilan, dan menanamkan kepedulian kepada sesama.

Karena itu, malam menjelang peringatan Maulid dapat menjadi waktu yang tepat untuk membaca kembali sirah Nabi. Bukan hanya untuk mengetahui nama tempat atau urutan peristiwa sejarah, melainkan juga memahami bagaimana Rasulullah mengambil keputusan, menghadapi persoalan, memperlakukan orang lain, dan menghadapi berbagai tekanan.

Allah Swt. menempatkan Rasulullah sebagai teladan bagi orang-orang beriman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Artinya: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa makna Maulid Nabi tidak cukup dipahami sebagai peringatan sejarah. Ada tugas keteladanan yang mengikuti setiap kali nama Rasulullah disebut.

Bukan Sekadar Tahu, tetapi Meniru

Kita mungkin telah mengetahui banyak kisah tentang Nabi Muhammad saw. Kita mengetahui bahwa beliau adalah rasul terakhir. Kita mengetahui beliau dikenal sebagai orang yang jujur dan amanah. Kita juga mengetahui bahwa beliau menyayangi umatnya dan memiliki akhlak mulia.

Namun, mengetahui tidak selalu berarti meneladani.

Seseorang dapat mengetahui bahwa Rasulullah mengajarkan kejujuran, tetapi masih mudah berbohong. Seseorang dapat mengetahui bahwa Nabi mengajarkan kasih sayang, tetapi masih mudah merendahkan orang lain. Seseorang dapat mengetahui bahwa Nabi mengajarkan kesabaran, tetapi mudah marah ketika menghadapi perbedaan.

Di sinilah Maulid menjadi cermin.

Peringatan Maulid seharusnya membuat setiap orang berani bertanya kepada dirinya sendiri: sudah sejauh mana akhlak Rasulullah hadir dalam kehidupan saya?

Shalawat yang Tidak Berhenti di Lisan

Ketika Maulid berlangsung, shalawat biasanya menjadi salah satu bagian yang paling terasa. Suara jamaah bersatu, nama Nabi disebut berulang-ulang, dan suasana dipenuhi penghormatan kepada beliau.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”
(QS. Al-Ahzab: 56)

Shalawat menjadi salah satu bentuk kecintaan kepada Rasulullah. Namun, cinta yang matang tidak berhenti pada suara. Ia harus bergerak menuju tindakan.

Jika shalawat membuat seseorang semakin lembut kepada orang tua, itu adalah perubahan. Jika shalawat membuat seseorang semakin peduli kepada tetangga, itu adalah perubahan. Jika shalawat membuat seseorang berhenti menyebarkan fitnah, itu juga perubahan.

Dengan demikian, shalawat tidak hanya menjadi suara yang memenuhi ruangan, tetapi juga menjadi energi moral yang ikut pulang bersama jamaah.

Rasulullah dan Krisis Akhlak

Zaman berubah. Teknologi berkembang. Cara manusia berkomunikasi semakin cepat. Namun, persoalan akhlak tetap menjadi tantangan.

Hari ini, seseorang dapat menghina orang lain tanpa bertemu secara langsung. Seseorang dapat menyebarkan kabar tanpa mengetahui kebenarannya. Sebuah komentar bahkan dapat melukai orang yang berada ribuan kilometer jauhnya.

Di tengah keadaan tersebut, keteladanan Rasulullah justru terasa semakin penting.

Rasulullah dikenal sebagai sosok yang menjaga perkataan dan memperhatikan perasaan manusia. Akhlak beliau tidak hanya terlihat ketika berada dalam keadaan mudah, tetapi juga ketika menghadapi tekanan dan perbedaan.

Sebuah hadis menggambarkan salah satu tujuan penting diutusnya Rasulullah:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Hadis dari Abu Hurairah tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, Ahmad, dan al-Baihaqi serta dinilai hasan.

Pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan modern. Maulid seharusnya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran bahwa kemajuan teknologi tanpa akhlak dapat menimbulkan persoalan baru.

Ketika Media Sosial Menjadi Cermin

Generasi hari ini hidup dalam ruang digital. Media sosial menjadi tempat berbagi cerita, berdiskusi, mencari informasi, bahkan membentuk opini.

Dalam keadaan seperti itu, akhlak Nabi Muhammad saw. perlu dibawa ke dunia digital.

Sebelum mengunggah sesuatu, seseorang perlu mempertimbangkan kebenaran dan manfaatnya. Sebelum memberikan komentar, perlu dipikirkan apakah kalimat tersebut akan membangun atau justru merendahkan. Sebelum membagikan berita, perlu diperiksa apakah informasi itu benar atau hanya kabar yang belum jelas.

Inilah bentuk keteladanan Rasulullah yang mungkin tidak terlihat di panggung, tetapi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Membaca shalawat di masjid adalah kebaikan. Menjaga lisan dan tulisan di media sosial juga merupakan bagian dari akhlak.

Generasi Muda dan Wajah Baru Maulid

Maulid juga perlu menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal Rasulullah dengan cara yang dekat dengan kehidupan mereka.

Anak muda tidak cukup hanya diberi tahu bahwa Nabi Muhammad adalah teladan. Mereka perlu diajak memahami bagaimana Nabi menghadapi masalah, membangun persahabatan, memimpin masyarakat, memperlakukan anak-anak, menghormati orang tua, dan menyikapi perbedaan.

Kisah Rasulullah dapat menjadi sumber inspirasi dalam menghadapi berbagai persoalan generasi muda: pendidikan, persahabatan, kepemimpinan, penggunaan teknologi, tanggung jawab sosial, dan pencarian jati diri.

Dengan demikian, Maulid tidak menjadi tradisi yang terasa jauh dari kehidupan anak muda. Sebaliknya, Maulid menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai kenabian tetap relevan dalam menghadapi kehidupan modern.

Perbedaan yang Harus Disikapi dengan Dewasa

Pembahasan mengenai Maulid tidak lepas dari perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang membolehkan peringatan Maulid sebagai bentuk ekspresi kecintaan kepada Rasulullah selama kegiatannya diisi dengan perkara yang baik dan tidak berlebihan. Ada pula yang berpandangan bahwa bentuk perayaan tersebut tidak memiliki contoh khusus dari Rasulullah saw. dan generasi awal Islam.

Dalam pembahasan yang dimuat laman resmi Muhammadiyah, peringatan Maulid disebut dapat dilaksanakan sebagai bagian dari urusan kemasyarakatan selama tidak mengandung kemaksiatan, kemusyrikan, dan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Perbedaan itu perlu ditempatkan secara proporsional.

Jangan sampai perbedaan pandangan mengenai Maulid membuat umat kehilangan akhlak yang justru menjadi salah satu pesan utama kehidupan Rasulullah. Perbedaan pendapat seharusnya disampaikan dengan ilmu, argumentasi, dan adab.

Mereka yang memperingati Maulid hendaknya menghormati pihak yang memiliki pandangan berbeda. Begitu pula mereka yang tidak memperingatinya hendaknya menjaga sikap terhadap masyarakat yang melaksanakannya.

Sebab, persaudaraan umat jauh lebih luas daripada satu persoalan perbedaan tradisi.

Maulid yang Turun ke Jalan

Ada satu cara sederhana untuk membuat Maulid lebih bermakna: membawa nilai-nilainya keluar dari tempat acara.

Jika Rasulullah dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap orang lemah, Maulid dapat diikuti dengan kegiatan sosial. Jika Rasulullah mengajarkan persaudaraan, Maulid dapat menjadi kesempatan memperbaiki hubungan yang renggang. Jika Rasulullah mengajarkan kasih sayang, Maulid dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap tetangga dan masyarakat sekitar.

Dengan begitu, Maulid tidak hanya berbicara tentang Nabi, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam kehidupan masyarakat.

Senin Malam, Menyiapkan Hati

Senin malam, 24 Agustus 2026, menjadi waktu yang tepat untuk melakukan persiapan. Bukan hanya persiapan teknis, tetapi juga persiapan batin.

Tempat boleh dipersiapkan. Konsumsi boleh disusun. Susunan acara boleh dirapikan. Pengeras suara boleh diuji. Namun, ada satu hal yang jangan sampai dilupakan: niat.

Mengapa kita menghadiri Maulid? Mengapa kita bershalawat? Mengapa kita mendengarkan kisah Rasulullah?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan bagaimana kita menjalani Maulid.

Ketika Acara Berakhir

Selasa, 25 Agustus 2026, ketika pertemuan Maulid selesai, jamaah mungkin akan kembali kepada aktivitas masing-masing. Panggung perlahan dibongkar. Kursi dirapikan. Suara pengeras suara menghilang.

Namun, semestinya ada sesuatu yang tidak ikut dibongkar: semangat meneladani Rasulullah saw.

Maulid yang berhasil bukan hanya Maulid yang mampu mengumpulkan banyak orang. Maulid yang berhasil adalah Maulid yang mampu membuat seseorang pulang dengan tekad menjadi manusia yang lebih baik.

Lebih jujur kepada diri sendiri. Lebih santun kepada orang lain. Lebih sabar menghadapi persoalan. Lebih peduli terhadap lingkungan. Lebih berhati-hati menggunakan media sosial. Dan yang paling penting, lebih dekat kepada Allah Swt.

Cinta yang Harus Dibuktikan

Pada akhirnya, Maulid Nabi Muhammad saw. adalah tentang cinta. Namun, cinta kepada Rasulullah bukan sekadar kata yang mudah diucapkan.

Cinta harus dibuktikan.

Allah Swt. berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

Artinya: “Katakanlah: jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
(QS. Ali Imran: 31)

Senin malam menuju Selasa, 25 Agustus 2026, menjadi pengingat bahwa Maulid bukan hanya tentang bagaimana kita mengenang kelahiran Nabi. Lebih dari itu, Maulid merupakan kesempatan untuk menghadirkan kembali teladan beliau dalam kehidupan.

Sebab, pada akhirnya panggung akan selesai, suara shalawat akan berhenti, jamaah akan pulang, dan malam akan berganti pagi.

Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan:

Apakah setelah Maulid kita benar-benar menjadi lebih dekat dengan akhlak Rasulullah?

Jika jawabannya iya, Maulid tidak pernah sekadar perayaan.

Ia telah menjadi perjalanan pulang menuju akhlak Nabi.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/