Baitul Arqam UMS Ubah Konsep, 45 Dosen Diterjunkan Langsung ke Amal Usaha Karanganyar
PWMJATENG.COM, KARANGANYAR — Universitas Muhammadiyah Surakarta menerapkan konsep baru dalam pelaksanaan Baitul Arqam UMS dengan menerjunkan 45 dosen putra dan putri langsung ke tengah masyarakat di Karanganyar, Kamis (18/6/2026). LP3A UMS sengaja mengalihkan lokasi acara dari hotel ke sekolah tingkat ranting demi memperkuat ideologi dosen dalam mendukung transformasi progresif kampus yang berkelanjutan.
Para peserta Baitul Arqam UMS kali ini tidak lagi menikmati fasilitas hotel. Panitia sengaja menempatkan 45 dosen tersebut langsung di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang sedang berkembang. Selama tiga hari, puluhan akademisi ini melebur bersama warga persyarikatan di tingkat cabang dan ranting.
Ketua Lembaga Pengembangan Persyarikatan, Pengkaderan dan Alumni (LP3A) UMS, Dr. Bambang Sukoco, S.H., M.H., menjelaskan perubahan mendasar ini. Menurutnya, konsep baru tersebut bertujuan agar para dosen UMS dapat memahami esensi perjuangan yang sesungguhnya. Kebesaran institusi saat ini lahir dari proses panjang di akar rumput.
“Baitul Arqam kali ini kita tempatkan di AUM yang sedang berkembang agar peserta bisa merasakan dan menjiwai bagaimana menjadi warga persyarikatan,” ujar Bambang Sukoco saat memberikan sambutan pembukaan, Kamis (18/6/2026).
Nilai Perjuangan Sejarah Kampus UMS
Bambang kemudian menceritakan sejarah awal berdirinya Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pada masa itu, jumlah tenaga pengajar dan karyawan masih sangat terbatas. Namun, semangat pengabdian yang tinggi terbukti mampu membawa kampus ini berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah terbesar.
“UMS yang besar hari ini tidak tiba-tiba. Ada proses panjang yang dilakukan oleh para pendahulu. Nilai perjuangan itu yang perlu kita rasakan dan tanamkan,” ungkap Bambang di hadapan puluhan peserta.
Pihaknya juga menegaskan bahwa profesi dosen di lingkungan Muhammadiyah memikul tanggung jawab moral yang besar. Aktivitas mengajar tidak boleh terjebak pada pemenuhan aspek profesionalitas semata. Lebih dari itu, pekerjaan ini merupakan ladang ibadah dan bentuk pengabdian nyata untuk kemajuan umat.
“Berhikmat di amal usaha itu satu tarikan napas. Selain ikhtiar ekonomi, ada nilai ibadah sebagaimana tujuan Muhammadiyah untuk menghantarkan masyarakat menuju kebaikan,” jelas Bambang secara mendalam.
Landasan Nilai untuk Transformasi Kampus
Gerakan perubahan ini mendapat dukungan penuh dari jajaran rektorat. Manajemen menilai kesamaan visi merupakan kunci utama dalam memajukan institusi pendidikan. Oleh karena itu, penguatan ideologi menjadi agenda yang tidak boleh terabaikan.
Wakil Rektor Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Pengkaderan, dan Alumni UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., menyebut kegiatan ini sebagai instrumen vital. Baitul Arqam UMS sukses menyatukan pemahaman dan derap langkah seluruh warga kampus. Kesamaan nilai ini akan mempermudah pencapaian target-target strategis institusi.
“Transformasi progresif membutuhkan aspek nilai dan ideologi yang dipahami seluruh warga kampus sebagai pijakan untuk bergerak bersama,” kata Mutohharun menandaskan.
Kontributor: Yusuf
Editor: Alafasy



