Kolom

Arogansi Spiritual: Saat Dosa Kesombongan Menyamar Menjadi Ibadah

Oleh: Ruli Alqodri Mustafa (founder The TwinsPrime Economics Studies)

“Orang yang baru mencelupkan kaki ke laut sering merasa sudah mengenal samudra, sedangkan penyelam sejati justru sadar betapa luas dan dalamnya lautan ilmu.”

Ada satu penyakit batin yang sangat aneh namun nyata keberadaannya di tengah masyarakat kita. Penyakit ini tidak membuat tubuh demam, tidak menyebabkan batuk, dan hasil pemeriksaan laboratoriumnya pasti selalu tampak normal. Namun, daya rusaknya luar biasa; ia mampu merusak persahabatan, menghancurkan keluarga, memecah belah umat, bahkan membuat seseorang menutup telinga dari nasihat.

Penyakit mematikan ini bernama arogansi spiritual, atau kecenderungan merasa paling suci. Penderitanya sering kali tampak sangat religius dalam keseharian. Lisannya dipenuhi ayat dan hadis, media sosialnya riuh dengan kutipan ulama, wajahnya tampak teduh, dan cara bicaranya pun terdengar lembut.

Namun entah mengapa, hampir semua orang di luar kelompoknya selalu dianggap bermasalah. Yang berbeda pendapat langsung dicurigai, yang berbeda cara beribadah dicap menyimpang, sementara yang belum sejalan dianggap kurang iman. Ironisnya, semakin sering ia berbicara tentang kerendahan hati, justru semakin tinggi pula menara kesombongannya.

Bahaya Merasa Memiliki Tiket Surga

Sebagian orang belakangan ini tampaknya begitu percaya diri, seolah-olah memiliki akses eksklusif terhadap daftar nama penghuni surga. Cara berbicaranya nyaris menyerupai petugas administrasi akhirat: “Kelompok kami pasti selamat, yang lain silakan khawatir sendiri.”

Padahal, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang diberi mandat oleh Tuhan untuk membagikan tiket surga. Bahkan para nabi yang maksum pun selalu memohon husnul khatimah, bukan sibuk memastikan atau menghakimi nasib akhir orang lain.

Semakin dalam ilmu agama seseorang, semestinya semakin besar rasa takutnya kepada Allah dan semakin kecil ia memandang dirinya sendiri. Bila bertambahnya ilmu justru melahirkan kesombongan, mungkin yang bertambah hanyalah wawasan, bukan kebijaksanaan hidup. Agama diturunkan untuk membimbing manusia, bukan dijadikan alat ukur untuk menentukan siapa yang lebih tinggi derajatnya.

Media Sosial sebagai Cermin Hati

Sayangnya, agama saat ini kadang diperlakukan layaknya podium perlombaan. Siapa paling panjang jenggotnya, paling sering mengutip kitab, paling keras mengoreksi orang lain, atau paling rajin memamerkan ibadah di dunia maya. Seolah-olah derajat seorang muslim dapat dihitung dengan mudah menggunakan kalkulator amal buatan manusia.

Kesombongan ternyata tidak melulu mengenakan jas mahal atau perhiasan mewah. Kadang kala, arogansi spiritual ini memakai gamis putih, sorban, tasbih, bahkan senyuman yang tampak menenangkan. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Media sosial kemudian bertransformasi menjadi panggung baru bagi kesalehan yang sengaja dipertontonkan. Ada yang setiap hari menulis tentang keikhlasan, tetapi berkali-kali memeriksa jumlah “like”. Ada pula yang rajin mengajarkan tawaduk, tetapi langsung tersinggung saat pendapatnya dikritik. Sejatinya, media sosial bukanlah penyebab kesombongan, ia hanyalah cermin yang memperbesar isi hati penggunanya.

Belajar Tawaduk dari Ulama Besar

Para ulama besar terdahulu justru dikenal sejarah karena kerendahan hati mereka, bukan karena arogansi spiritual. Imam Malik tidak pernah malu mengatakan, “Aku tidak tahu,” ketika beliau memang belum memiliki jawaban atas sebuah persoalan. Sementara itu, Imam Syafi’i selalu berharap kebenaran muncul ke permukaan, meskipun itu keluar melalui lisan orang lain yang mendebatnya.

Mereka sangat memahami bahwa ilmu bukanlah tangga untuk meninggikan diri di hadapan makhluk. Ilmu adalah jalan terang untuk semakin menyadari keterbatasan diri sebagai manusia.

Ketika arogansi spiritual menguasai diri, dalil-dalil suci akan kehilangan fungsi utamanya. Ayat Al-Qur’an berubah menjadi palu godam, hadis dijadikan senjata untuk menyerang, dan nasihat berubah wujud menjadi penghakiman sepihak. Padahal, Rasulullah ﷺ selalu menyampaikan kebenaran dengan kelembutan, mengoreksi tanpa menghina, dan membimbing tanpa merendahkan martabat manusia.

Menundukkan Ego di Balik Amal

Sesungguhnya musuh terbesar seorang mukmin bukanlah orang yang berbeda pendapat dengannya, melainkan ego yang diam-diam tumbuh subur di balik setiap amal kebaikan. Iblis tidak binasa karena ia kurang beribadah kepada Allah, melainkan karena ia merasa lebih baik dari Adam. Kalimat “Aku lebih baik” adalah titik awal kehancuran spiritualnya.

Karena itu, ketika hati mulai berbisik, “Saya lebih paham”, “Saya lebih lurus”, atau “Kelompok kami paling benar”, berhati-hatilah. Mungkin pada saat itu yang sedang berbicara bukanlah ilmu, melainkan ego rapuh yang sedang mengenakan jubah agama.

Pada akhirnya, untuk menghindari arogansi spiritual, ukuran kesalehan tidak boleh lagi dinilai dari seberapa sering kita menemukan kesalahan orang lain. Kesalehan diukur dari seberapa jujur kita berani mengakui kekurangan diri sendiri di hadapan Sang Pencipta. Pintu surga tidak akan terbuka oleh rasa paling suci, melainkan oleh iman, amal saleh, rahmat Allah, dan hati yang senantiasa tawaduk.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/