Sering Dianggap Sepele, Ini 5 Cara Mencegah Perundungan Anak Usia Dini yang Harus Diketahui Orang Tua
PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Banyak orang dewasa kerap mengabaikan perilaku mengejek atau mengucilkan teman saat bermain, padahal tindakan tersebut adalah bibit perundungan yang serius. Menjawab keresahan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melatih 80 guru PAUD di Sukoharjo untuk menerapkan strategi pencegahan perundungan berbasis karakter agar anak mampu mengelola emosi dan empati sejak dini.
Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Guru PAUD di Kabupaten Sukoharjo melalui Penguatan Karakter Anti-Perundungan” berlangsung meriah pada Jumat (5/6). Sebanyak 80 guru dari 12 satuan PAUD yang tergabung dalam IGABA Sukoharjo mengikuti pelatihan tersebut dengan antusias. Selain itu, program ini mendapatkan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi RI.
Waspadai Perilaku yang Sering Dianggap Sepele
Banyak orang dewasa sering mengabaikan tindakan mengejek, merebut mainan, atau mengucilkan teman saat bermain. Padahal, tindakan tersebut merupakan akar masalah perundungan yang serius. Jika orang tua atau guru tidak segera melakukan cara mencegah perundungan anak usia dini, perilaku itu dapat berkembang menjadi pola interaksi sosial yang tidak sehat nantinya.
“Fenomena perundungan pada anak menjadi perhatian serius karena bibit perilakunya dapat muncul sejak usia dini,” ujar Ketua tim PkM, Dr. Choiriyah Widyasari, M.Psi.
Selanjutnya, para guru mendapatkan pemahaman mendalam mengenai peran penting lembaga PAUD dalam mencegah perundungan. Mereka mempelajari berbagai bentuk perilaku intimidasi serta strategi penanganan melalui pendekatan pendidikan positif. Dengan demikian, guru mampu mengidentifikasi gejala awal perundungan di kelas dengan lebih sigap.
Optimalisasi Digital Storybook sebagai Media Pembelajaran
Selain penguatan karakter, tim PkM memperkenalkan media buku cerita digital atau digital storybook. Media ini memuat cerita yang relevan dengan kehidupan anak serta mengangkat berbagai emosi dasar. Guru pun dapat menggunakan alat ini untuk mengajarkan cara mendidik anak empati melalui visual dan narasi yang menarik.
“Setelah sesi sosialisasi, kami melanjutkan kegiatan dengan pelatihan penggunaan media buku cerita digital agar guru mampu menanamkan nilai-nilai anti-perundungan,” tambah Dr. Choiriyah.
Dalam sesi tersebut, guru mempraktikkan cara membuka diskusi reflektif bagi anak-anak. Mereka menghubungkan isi cerita dengan pengalaman nyata di lingkungan bermain. Pendekatan ini terbukti efektif karena anak usia dini lebih mudah menyerap pesan moral melalui alur cerita yang melibatkan tokoh-tokoh emosional.
Mewujudkan Lingkungan PAUD Ramah Anak
Program ini menjadi langkah nyata bagi UMS dalam mewujudkan PAUD ramah anak di Sukoharjo. Lingkungan sekolah tentu harus aman, baik secara fisik maupun psikologis. Suasana yang menghargai setiap perasaan anak akan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang inklusif dan saling menghargai.
Sebagai tindak lanjut, tim PkM akan mendampingi implementasi hasil pelatihan di sekolah-sekolah peserta. Guru diharapkan mampu menerapkan media tersebut secara berkelanjutan dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari. Akhirnya, kolaborasi antara guru, orang tua, dan komunitas pendidikan menjadi kunci utama dalam membangun lingkungan belajar yang aman bagi anak.
Kontributor: Fika
Editor: Alafasy



