Berita

Dosa kepada Sesama Tak Terhapus dengan Tahajud, KH Tafsir Tekankan Pentingnya Saling Memaafkan

PWMJATENG.COMCILACAP – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. KH. Tafsir, M.Ag., menegaskan bahwa ibadah ritual yang intens sekalipun tidak dapat menghapus dosa terhadap sesama manusia jika tidak disertai upaya saling memaafkan secara langsung. Hal tersebut beliau sampaikan dalam acara Silaturahmi PDM Cilacap dan Pelepasan Jemaah Haji KBIHU Almabrur di Gedung IPHI Cilacap, Ahad (12/4/2026), sebagai pengingat pentingnya menjaga kesalehan sosial selain kesalehan ritual.

Dr. Tafsir menjelaskan bahwa Ramadan merupakan momentum penyucian diri yang luar biasa bagi setiap Muslim. Namun, ia mengingatkan jemaah bahwa ampunan Allah belum tentu sempurna jika hubungan antarmanusia masih bermasalah. Menurutnya, terdapat perbedaan mendasar antara cara menghapus dosa kepada Allah dengan dosa kepada sesama manusia.

Dosa Sosial Tak Bisa Lunas Hanya dengan Ibadah

Tafsir menegaskan bahwa kesalahan terhadap manusia lain, seperti perkara hutang piutang atau menyakiti perasaan, memerlukan penyelesaian langsung. Hal ini berbeda dengan tobat kepada Sang Pencipta yang bersifat satu arah. Oleh karena itu, hubungan dua arah menjadi kunci utama dalam membersihkan catatan amal dari noda sosial.

“Kesalahan kepada sesama manusia tidak bisa dihapus hanya dengan ibadah seperti salat tahajud atau membaca Al-Qur’an,” ungkap Tafsir di hadapan ratusan jemaah. Beliau menambahkan bahwa setiap individu harus secara aktif meminta maaf dan memberi maaf agar hubungan menjadi bersih kembali.

Halal Bihalal sebagai Jihad Budaya

Selain itu, ia memandang tradisi halal bihalal sebagai solusi konkret yang lahir dari budaya Indonesia. Meskipun istilah ini tidak ada dalam bahasa Arab, nilai-nilai syariat di dalamnya sangat kuat. Halal bihalal merupakan sarana yang efektif sebagai cara menghapus dosa sesama manusia secara massal dan kultural.

“Budaya adalah baliho agama. Sampaikanlah walaupun satu ayat, maka baliho artinya tempat menyampaikan pesan,” kata Tafsir saat menjelaskan pentingnya menjaga tradisi positif tersebut. Ia mendorong umat Islam untuk lebih kreatif dalam menciptakan simbol budaya agar pesan agama tetap relevan dan kuat di tengah masyarakat.

Ciri Utama Haji Mabrur secara Empiris

Sebagai penutup tausiahnya, KH Tafsir memberikan pesan khusus bagi 193 calon jemaah haji KBIHU Almabrur yang akan berangkat. Ia menyebutkan bahwa tanda kemabruran seseorang harus terlihat secara nyata atau empiris setelah pulang dari tanah suci. Indikator tersebut berkaitan erat dengan etika sosial dan kedermawanan di kehidupan sehari-hari.

“Apa ciri-ciri mabrur? Ternyata sangat sederhana, jawabannya cuman dua: it’am th’aam walayinul kalam. Suka memberi makan dan ucapannya tidak menyakitkan orang lain,” pungkasnya. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kesalehan ritual harus berbuah pada kesalehan sosial yang inklusif, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/