Berita

Hadapi Era AI dan Fatwa Viral, Prof Arifuddin Ahmad Dorong Ijtihad Kolektif di PWM Sulsel

PWMJATENG.COM, MAKASSAR – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof. Arifuddin Ahmad, menegaskan bahwa tantangan akidah Islam di era modern tidak lagi terbatas pada perdebatan klasik, melainkan merambah ke kompleksitas teknologi digital. Hal tersebut disampaikannya dalam Pengajian Ramadan 1447 H PWM Sulsel di Pesantren Darul Arqam Gombara, Sabtu (28/2).

Dalam paparannya, Prof. Arifuddin mengingatkan warga persyarikatan untuk memperkuat literasi keislaman agar tidak terseret arus wacana instan dan “fatwa viral” yang sering muncul tanpa metodologi keilmuan yang jelas.

Prof. Arifuddin menjelaskan bahwa perbedaan pemahaman keagamaan adalah ruang yang niscaya, bahkan pada hal-hal yang bersifat muhkamat. Namun, ia menyoroti bagaimana perbedaan yang semula dipicu dinamika politik, kini bergeser menjadi tantangan globalisasi, sains, dan Revolusi Industri 4.0.

“Kita menghadapi era di mana Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) membuat batas antara realitas dan representasi digital kian kabur. Di ruang digital, otoritas keilmuan seringkali tergeser oleh popularitas,” ujarnya. Ia juga menyoroti fenomena sinkretisme gaya baru dan relativisme kebenaran yang kini dikemas secara modern.

Menghadapi fragmentasi otoritas keagamaan, Prof. Arifuddin menekankan pentingnya Manhaj Tarjih dan Ijtihad Kolektif. Menurutnya, respons keagamaan Muhammadiyah tidak boleh ditentukan oleh suara yang paling nyaring di media sosial, melainkan melalui kerja ilmu yang melibatkan berbagai disiplin pakar.

“Muhammadiyah itu harus jadi wasit. Posisi kita adalah moderat (wasathiyah) yang tetap berprinsip. Akidah yang kokoh harus berjalan beriringan dengan akhlak sosial dan perkhidmatan kemanusiaan,” tegasnya.

Di akhir sesi, ia mengajak seluruh kader Muhammadiyah untuk menjadikan tauhid sebagai fondasi etika publik dan tajdid sebagai ikhtiar pencerahan. Baginya, meskipun tantangan zaman terus berubah, arah gerakan Muhammadiyah harus tetap konsisten: menghadirkan Islam yang mencerahkan di tengah disrupsi teknologi.

“Penguatan akidah di era digital harus ditopang oleh literasi, metodologi, dan tradisi keilmuan yang kuat. Kita tidak boleh membiarkan ruang publik diisi oleh pemahaman yang dangkal,” pungkasnya.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/