Khutbah Jum’at: Suka Berinfak Sebagai Karakter Orang Bertakwa
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 102)
Jamaah Jumat rahimakumullah
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita senantiasa menjaga dan meningkatkan mutu keimanan serta kualitas ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Ketakwaan yang dibangun karena mengharap keridaan Allah, dilandasi ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta dibuktikan dengan amal nyata: menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Salah satu karakter orang bertakwa yang disebutkan secara tegas dalam Al-Qur’an adalah suka berinfak. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 134:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ
“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 134)
Ayat ini mengajarkan bahwa kedermawanan seorang mukmin tidak semata-mata bergantung pada banyak atau sedikitnya harta. Dalam keadaan lapang ia berbagi, dalam keadaan sempit pun semangat memberi tidak hilang sesuai dengan kemampuannya.
Inilah salah satu ukuran ketakwaan: seseorang tidak hanya memikirkan apa yang dapat dikumpulkannya, tetapi juga apa yang dapat diberikannya untuk mendatangkan manfaat bagi orang lain.
Jamaah Jumat rahimakumullah
Harta yang kita infakkan hendaknya berasal dari sesuatu yang halal dan baik. Bahkan, Al-Qur’an mengajarkan kualitas kebajikan yang lebih tinggi, yaitu kesediaan memberikan sebagian dari apa yang kita cintai.
Allah Swt. berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 92)
Ketika ayat ini turun, terdapat teladan yang sangat indah dari sahabat Nabi, Abu Talhah r.a.
Abu Talhah merupakan salah seorang Anshar yang memiliki banyak kebun kurma di Madinah. Di antara harta yang dimilikinya, yang paling ia cintai adalah kebun Bairuha yang terletak berhadapan dengan Masjid Nabawi. Rasulullah saw. biasa memasuki kebun tersebut dan meminum airnya yang segar.
Ketika mendengar firman Allah, “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai,” Abu Talhah datang kepada Rasulullah saw. dan menyatakan bahwa Bairuha adalah harta yang paling dicintainya. Ia kemudian menyerahkannya sebagai sedekah karena mengharap pahala di sisi Allah.
Rasulullah saw. memuji tindakan tersebut dan menyarankan agar harta itu dibagikan kepada kerabat Abu Talhah.
(HR. al-Bukhari)
Kisah ini memberikan pelajaran penting kepada kita. Berinfak bukan sekadar memindahkan barang yang sudah tidak kita butuhkan kepada orang lain. Infak adalah pendidikan jiwa: belajar melepaskan sebagian yang kita miliki karena kecintaan kita kepada Allah lebih besar daripada kecintaan kepada harta.
Jamaah Jumat rahimakumullah
Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang seseorang baru tergerak memberikan barang setelah barang itu tidak lagi dibutuhkan: pakaian yang sudah tidak muat, barang yang sudah ketinggalan model, atau sesuatu yang kualitasnya sudah menurun.
Memberikan barang yang masih layak tentu merupakan kebaikan. Namun, jangan sampai kita justru sengaja memilih sesuatu yang buruk untuk diberikan kepada orang lain.
Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Ketahuilah bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 267)
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa apa yang kita keluarkan di jalan Allah hendaknya berasal dari harta yang baik.
Kebaikan itu juga menyangkut sumber harta tersebut. Harta yang digunakan untuk berinfak harus berasal dari jalan yang halal, bukan dari korupsi, penipuan, pencurian, atau bentuk kezaliman lainnya.
Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
(HR. Muslim)
Karena itu, semangat bersedekah harus berjalan beriringan dengan semangat mencari rezeki secara halal.
Jamaah Jumat rahimakumullah
Suka berinfak bukan hanya merupakan salah satu karakter orang bertakwa. Al-Qur’an juga menerangkan besarnya keutamaan orang yang mengeluarkan hartanya di jalan Allah.
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 261, Allah menggambarkan pahala infak seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai dan pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Gambaran ini menunjukkan betapa luasnya karunia Allah bagi orang yang berinfak dengan ikhlas.
Allah juga menerangkan bahwa sedekah yang dilakukan dengan benar dapat menjadi jalan memperoleh ampunan-Nya sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 271.
Infak juga mendidik jiwa manusia agar tidak dikuasai sifat kikir. Dalam QS. Al-Ma‘arij ayat 19–25, Allah menggambarkan tabiat manusia yang mudah berkeluh kesah dan kikir, kemudian menyebut sifat-sifat orang beriman, termasuk mereka yang menyediakan bagian tertentu dari hartanya bagi orang yang membutuhkan.
Rasulullah saw. juga memberikan kabar yang menggembirakan bagi orang yang gemar berinfak. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda bahwa setiap pagi terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa:
اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا
“Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak.”
Sementara malaikat lainnya berdoa bagi orang yang menahan hartanya dari kebaikan.
(HR. al-Bukhari)
Rasulullah saw. juga bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”
(HR. Muslim)
Hadis tersebut mengajarkan kepada kita agar jangan takut menjadi miskin karena bersedekah. Bisa jadi secara hitungan manusia ada harta yang keluar, tetapi di sisi Allah terdapat keberkahan, pahala, ketenteraman hati, dan berbagai bentuk kebaikan yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka.
Bahkan Rasulullah saw. mengingatkan:
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh buah kurma.”
(HR. al-Bukhari)
Pesannya sangat jelas: jangan menunggu menjadi kaya untuk berbuat baik. Sedikit yang diberikan dengan ikhlas tetap bernilai di sisi Allah.
Jamaah Jumat rahimakumullah
Namun, ada satu hal yang harus senantiasa kita jaga. Jangan sampai amal infak dan sedekah kehilangan nilainya karena riya, keinginan mencari popularitas, mengungkit-ungkit pemberian, atau menyakiti hati orang yang menerima.
Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰى
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 264)
Karena itu, bukan hanya jumlah yang harus kita perhatikan, tetapi juga keikhlasan dan adab ketika memberi.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa, diberikan rezeki yang halal dan berkah, dilapangkan hati untuk berbagi, serta diberikan keikhlasan dalam setiap amal yang kita kerjakan.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا مُبَارَكًا فِيْهِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الشَّاكِرِيْنَ الْمُنْفِقِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ ذُرِّيَّاتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا وَأَعْمَارِنَا وَأَعْمَالِنَا.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ،
.إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ



