Menciptakan Ekosistem Literat Melalui Minat Baca

0
140

Oleh : Hendra Apriyadi (Ketua MPI PDM Kab Tegal)

HAL pertama yang perlu diperhatikan untuk menumbuhkan minat baca di lingkungan sekolah dalam rangka menciptakan budaya literasi adalah partisipasi warga sekolah untuk berliterasi. Warga sekolah yang dimaksud di sini meliputi seluruh siswa, guru, dan karyawan. Kedua, peran perpustakaan sekolah juga tidak kalah penting untuk menumbuhkan minat baca dan menciptakan ekosistem literat di sekolah. Perpustakaan sekolah dapat dijadikan tempat untuk menghimpun siswa, guru, maupun karyawan dalam memperoleh dan mengolah informasi atau bahan bacaan. Jika kedua hal ini dapat berjalan dengan baik, maka ekosistem literat di sekolah dapat tercipta.

Langkah pertama untuk mengawali penumbuhan minat baca adalah melakukan pembiasaan membaca senyap buku nonpelajaran selama 15 menit sebelum aktivitas pembelajaran di kelas dimulai. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh siswa dan guru dalam waktu yang bersamaan. Jadi, tidak hanya siswa yang membaca tetapi guru juga ikut melakukan program ini. Selama membaca, siswa dapat diminta untuk merumuskan atau mencatat informasi-informasi penting yang ada di dalam buku yang dibacanya. Hal ini bertujuan untuk melatih siswa memahami dan menganalisis isi bacaan

Penumbuhan minat baca menjadi sebuah upaya yang harus dioptimalkan untuk mencapai budaya literasi dan ekosistem literat. Minat merupakan keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Jika seseorang sudah berminat, maka dia akan senang hati melakukan sesuatu yang diminatinya. Menumbuhkan minat seseorang tentu tidak semudah seperti mengajak seseorang untuk menyukai sesuatu hal termasuk kegiatan membaca. Tidak berhenti sampai di situ. Penumbuhan minat baca dapat dilakukan dengan program-program tertentu sehingga minat yang ada dalam diri seseorang dapat muncul dengan sendirinya tanpa ada paksaan dari pihak luar.

Literasi tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana peserta didik dalam mengenal,  memahami,  dan menerapkan  ilmu yang didapatkannya  di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan peserta didik, baik di rumah maupun di lingkungan  sekitarnya  untuk  menumbuhkan  budi  pekerti  mulia. Literasi, di awal, dimaknai ‘keberaksaraan’ dan selanjutnya dimaknai ‘melek’ atau ‘keterpahaman’. Pada langkah awal, ‘melek baca’ dan ‘tulis’ ditekankan karena kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam berbagai hal atau disebut “multiliterasi”.

Menurut Wahyuni (2010: 5) upaya membangkitkan minat baca masyarakat agar menjadi masyarakat yang literat dapat dilakukan dengan tujuh cara, yaitu (1) membiasakan anak membaca sejak dini, (2) menyediakan buku yang menarik, (3) menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca, (4) memperbaiki kembali penampilan perpustakaan agar menarik, (5) mengembangkan model pembelajaran membaca yang menyenangkan, bervariasi, dan mendidik, (6) penerapan model pembelajaran membaca untuk kelas awal (permulaan), dan (7) model pembelajaran membaca lanjut. Jadi, menumbuhkan minat baca harus dilakukan dengan program tertentu agar upaya untuk menciptakan budaya literasi dapat berjalan sesuai dengan arah atau tujuan yang sudah ditentukan.

Selanjutnya, untuk menciptakan ekosistem yang literat di sekolah harus melibatkan seluruh komponen yang ada di sekolah, seperti warga sekolah dan sarana serta prasarana yang disediakan sekolah. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah partisipasi warga sekolah dalam menciptakan budaya literasi. Kedua, peran perpustakaan sekolah untuk menumbuhkan minat baca dan menciptakan ekosistem literat di sekolah. Perpustakaan sekolah dapat dijadikan tempat untuk menghimpun siswa maupun guru dalam memperoleh dan mengolah informasi atau bahan bacaan. Ketiga, peran guru juga tidak kalah penting dalam memotivasi siswa untuk mempunyai minat baca tinggi dan menumbuhkan semangat untuk menulis atau membuat karya nyata. Ketiga poin tersebut sangat berkaitan dan harus bersinergi pelaksanaannya. Jika salah satu poin saja yang berjalan tentu tidak akan seimbang dan tujuan untuk menciptakan ekosistem literat tidak akan tercapai. Menurut Beers, dkk (Widyani dkk., 2016: 7-8) strategi untuk menciptakan budaya literasi yang positif di sekolah dapat dilakukan dengan cara (1) mengondisikan lingkungan fisik ramah literasi, (2) mengupayakan lingkungan sosial dan afektif SMK sebagai model komunikasi dan interaksi yang literat, (3) mengupayakan SMK sebagai lingkungan akademik yang literat.

Dengan demikian, upaya untuk menciptakan ekosistem literat di sekolah harus dimulai secara bertahap. Membangun budaya literasi di sekolah membutuhkan beberapa faktor untuk mendukung agar dapat terlaksana dengan baik. Faktor utama adalah peran warga sekolah yang meliputi guru, siswa, dan karyawan. Selanjutnya, faktor sarana seperti perpusatkaan dan pengadaan buku-buku bacaan nonpelajaran perlu diperhatikan.

Peran warga sekolah harus saling bekerja sama dan saling mendukung. Peran guru dalam memotivasi siswa untuk giat berliterasi sangat penting. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah guru harus mencontohkan kegiatan berliterasi tersebut. Siswa yang sudah mampu melaksakan kegiatan literasi selanjutnya akan diberi penghargaan (Award) agar siswa makin termotivasi. Selanjutnya, kegiatan membuat karya nyata bagi siswa perlu untuk didukung dan didampingi oleh guru. Karya yang sudah dibuat kemudian diterbitkan sebagai bentuk apresiasi terhadap karya nyata siswa. Dengan upaya yang demikian, budaya literasi akan terbangun dan ekosistem literat di sekolah akan tercipta dengan baik.

Motivasi dari guru menjadi kunci keberhasilan untuk menciptakan hasil karya siswa Motivasi itu berhubungan erat dengan tujuan yang ingin dicapai oleh seorang siswa melalui kegiatan belajar. Guru yang baik adalah guru yang bisa memotivasi siswanya agar menjadi yang terbaik. Sebagai seorang guru harus bisa memotivasi dan menginspirasi para siswa untuk menggerakan sebuah karya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR