Idul Adha Bermakna Mengasah Hati Untuk Berserah Diri

0
502

Magelang- Perayaan ‘Idul Adha saat ini memiliki makna strategis bagi kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Pengorbanan terhadap apapun yang dimiliki oleh setiap individu manusia merupakan spirit positif bagi tumbuhnya budaya hidup tolong menolong dan kebersamaan diantara umat manusia. Perayaan ‘Idul Adha saat ini yang diperingati dari sebuah peristiwa kehidupan yang dialami oleh keluarga Nabi Ibrahim memberikan pelajaran dan hikmah terkait keihklasan dalam sebuah pengorbanan. Demikian disampaikan Oleh Ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kabupaten Magelang Drs. H. Jumari dalam Khotbah ‘Idul Adha 1437 H di Lapangan Santan Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang ,Senin 12/09/2016.
Keluarga Ibrahim banyak memberikan inspirasi yang senantiasa relevan dan dapat dijadikan teladan sepanjang zaman. Keluarga Ibrahim merupakan perpaduan antara ketegasan dan kelembutan, antara kegigihan perjuangan dan keharmonisan serta ketajaman rasio berpikir dan kepekaan rasa. Peristiwa ketika Ibrahim bermimpi menyembelih putranya Ismail yang akhirnya benar-benar dilakukan pada putranya tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Al – Qur’an Surat Ash Shaffat ayat 102 memberikan pelajaran terkait perlunya sikap ikhlas dan rela berkorban. Selain itu sikap berserah diri dan pasrah terhadap ketentuan dan perintah dari Allah yang ditunjukkan oleh seorang Ismail merupakan cerminan dari pribadi yang sholeh dan kuat.
Menurut Jumari ada beberapa kata kunci yang dijadikan pedoman untuk mendidik generasi yang kuat yakni keteladanan dalam hal ketaqwaan dan kejujuran. Keteladanan yang menyebabkan Ibrahim dan keluarganya berhasil mendidik Ismail menjadi pribadi yang kuat. Oleh karenanya saat ini diperlukan pendidikan yang memiliki visi mencetak dan membentuk generasi yang memiliki karakter kuat, tegar dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Dengan demikian maka ke depan akan muncul generasi yang memiliki keunggulan dari aspek ritual (kesholehan individual), keunggulan moral dan juga sosial (kesholehan sosial).
Salah satu hikmah dari diperintahkannya Ibrahim menyembelih Ismail yang kemudian menjadi syari’at perintah untuk berqurban bagi umat Islam adalah agar kecintaan terhadap apapun yang dimiliki termasuk anak dan harta benda jangan sampai melemahkan semangat untuk taat kepada Allah dan perjuangan untuk menegakkan serta menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Oleh karena tujuan diciptakannya manusia hanya untuk beribadah kepada Allah maka sudah seharusnya setiap manusia perlu melakukan evaluasi dan instrospeksi agar spirit dan hikmah yang ada pada perayaan ‘Idul adha ini mampu dijadikan momentum untuk mengasah pribadi untuk sepenuh hati berserah diri terhadap setiap kehendak dan ketentuan-Nya. (SUPARDI/MGL)