Ratusan Siswa SD Muh PK Banyudono Boyolali Gelar Shalat Istisqa
PWMJATENG.COM, BOYOLALI — Ratusan siswa SD Muh PK Banyudono menggelar aksi spiritual Shalat Istisqa Boyolali pada Jumat (4/9/2026). Langkah ini menjadi respons atas krisis kekeringan parah yang tengah melanda wilayah Boyolali Utara.
Siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 memenuhi lapangan sekolah dengan khusyuk. Mereka bergabung bersama puluhan guru dan karyawan untuk memanjatkan doa minta hujan secara berjamaah.
Respon Bencana Ekologis dan Edukasi Keimanan
Kepala SD Muh PK Banyudono, Pujiono, menegaskan bahwa ibadah ini merupakan langkah nyata sekolah dalam merespons bencana ekologis. Kekeringan di sejumlah kecamatan memerlukan pendekatan spiritual selain bantuan fisik.
Ia memaparkan bahwa Shalat Istisqa Boyolali bukan sekadar ritual rutin permohonan hujan. Kegiatan ini juga menjadi sarana introspeksi diri dan pendidikan karakter bagi seluruh siswa.
“Sebagai orang beriman, kita wajib kembali kepada Allah ketika menghadapi musibah. Kami juga mengajak siswa mendoakan bencana kebakaran hutan di Kalimantan agar segera padam,” ujar Pujiono.
Ustaz Zumaro bertindak sebagai imam dalam ibadah tersebut, sedangkan Ustaz Habibi menyampaikan khotbah bernuansa edukatif. Ustaz Habibi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan memperbanyak istigfar saat krisis lingkungan terjadi.
Penguatan Karakter Siswa Sejak Dini
Sebelum pelaksanaan shalat, pihak sekolah membagikan panduan tata cara ibadah khusus tersebut kepada para siswa. Langkah ini memastikan murid memahami makna ketauhidan sekaligus menumbuhkan rasa kepedulian sosial terhadap daerah terdampak kekeringan Boyolali.
Suasana lapangan sekolah berlangsung penuh kekhidmatan hingga akhir rangkaian acara. Para murid mempraktikkan langsung ajaran kepedulian lingkungan yang selama ini hanya mereka pelajari di dalam kelas.
Melalui kegiatan Shalat Istisqa Boyolali ini, sekolah konsisten membentuk generasi muda yang cerdas, mandiri, dan berkarakter religius. Sekolah berharap hujan rahmat segera turun untuk mengakhiri krisis air di wilayah tersebut.
Kontributor: Pujiono
Editor: Akmal



