Tablig Akbar UMS Bahas Peran Masjid dalam Membangun Masyarakat

PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar tablig akbar di Masjid Sudalmiyah Rais, Senin (9/3). Kegiatan ini menyoroti peran masjid dalam membangun masyarakat sebagai bagian dari rangkaian Gema Kampus Ramadan 1447 H.
Tablig akbar tersebut menghadirkan Kusnadi Ikhwani, S.E., M.M., yang dikenal sebagai mentor kebangkitan masjid sebagai pilar kebangkitan masyarakat Islam, khususnya di Indonesia.
Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, mengatakan kegiatan ini diharapkan memberi dorongan dan gagasan bagi civitas academica mengenai peran strategis masjid dalam kehidupan umat.
“Masjid tidak harus selalu megah dan mewah. Masjid yang memakmurkan adalah masjid yang manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh jamaah,” ujar Mutohharun.
Peran Strategis Masjid dalam Kehidupan Umat
Dalam pemaparannya, Kusnadi yang aktif di Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) Muhammadiyah menekankan pentingnya kedekatan umat dengan masjid.
Ia mengajak masyarakat membiasakan diri datang ke masjid dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Kalau ingin hidup dimudahkan, maka sering-seringlah datang ke masjid dan salat berjamaah di masjid. Belajarlah mencintai masjid,” ujarnya.
Menurutnya, masjid memiliki peran penting dalam mencetak kader umat sekaligus membangun karakter masyarakat Islam. Karena itu, pengelolaan masjid tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada upaya memakmurkan masjid melalui berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi jamaah.

Pengelolaan Masjid dan Pemberdayaan Jamaah
Kusnadi juga menyoroti fenomena sejumlah masjid yang tidak dibuka selama 24 jam, padahal saat pembangunan sering melakukan penggalangan dana dari masyarakat.
Menurutnya, penggalangan dana dapat dilakukan secara lebih efektif dan transparan, misalnya dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi kepada masyarakat.
Ia juga menyinggung pemanfaatan dana infak dalam pengelolaan masjid.
“Seharusnya, dana infak dikembalikan kepada masyarakat melalui program-program yang memberi kemaslahatan bagi jamaah,” jelasnya.
Selain itu, Kusnadi mendorong pengelola masjid untuk memaksimalkan publikasi kegiatan agar masjid semakin hidup dan dikenal masyarakat.
“Kegiatan masjid perlu diliput dan disebarkan agar masyarakat mengetahui aktivitas yang dilakukan,” katanya.
Melalui pendekatan tersebut, ia berharap masjid dapat menjadi pusat kegiatan umat yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan masyarakat dan penguatan solidaritas sosial.
Kontributor: Maysali
Editor: Al-Afasy



