Pentas Seni Tari PGSD UMS Pukau Penonton lewat 39 Karya
PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Sebanyak 39 karya tari kreasi baru berhasil memukau ratusan penonton di Gedung Wayang Orang Sriwedari Surakarta. Pagelaran megah bertajuk “Pentas Seni Tari PGSD UMS” 2026 ini menjadi bukti nyata kepedulian generasi muda terhadap isu sosial. Melalui gerakan estetis, para mahasiswa semester enam tersebut sukses mengemas kritik lingkungan hingga isu emansipasi perempuan ke atas panggung pertunjukan.
Acara tahunan garapan Universitas Muhammadiyah Surakarta ini mengusung tema besar “Gelar Rasa ing Cakrawala”. Selain menjadi syarat Ujian Akhir Semester, momentum ini sekaligus melatih kepekaan sosial para calon guru sekolah dasar. Mereka merancang seluruh konsep pertunjukan secara mandiri mulai dari penataan artistik hingga manajemen panggung.
Misi Pelestarian Budaya Indonesia dari Calon Pendidik
Ketua Prodi PGSD FKIP UMS, Dr. Murfiah Dewi Wulandari, menegaskan pentingnya penguasaan seni bagi calon pendidik masa depan. Pihak kampus sengaja membekali mahasiswa dengan keterampilan mengkreasi tari agar mereka siap mengajar secara inovatif. Langkah taktis ini menjadi strategi besar universitas untuk mengawal agenda pelestarian budaya Indonesia di tengah gempuran tren asing.
“Mahasiswa tidak hanya sekadar belajar menari di dalam kelas. Namun, mereka harus mampu menciptakan gerakan edukatif yang menarik bagi anak-anak usia sekolah dasar,” ujar Murfiah pada Senin (22/6/2026). Dengan demikian, para lulusan kelak memiliki modal berharga untuk membentuk karakter siswa yang humanis dan mencintai kebudayaan lokal.
Angkat Isu Lingkungan hingga Perjuangan Perempuan
Selanjutnya, keunikan pagelaran tahun ini terletak pada kedalaman pesan emosional di setiap koreografi mahasiswa. Beberapa judul karya yang sangat menarik perhatian publik antara lain Segoro Tanpo Asil dan Laut yang Terluka. Kedua tarian kontemporer tersebut menyuarakan jeritan ekosistem alam akibat kerusakan lingkungan yang masif terjadi saat ini.
Di sisi lain, terdapat pula tari Emansipasi Perempuan dan Gendhong Panguripan yang mengupas tuntas perjuangan hidup kaum wanita. Kehadiran karya bermakna mendalam tersebut membuktikan bahwa Pentas Seni Tari PGSD UMS mampu menjadi media komunikasi publik yang inklusif. Bahkan, sejumlah penonton mancanegara dan pelajar dari berbagai SMA di Surakarta turut memadati area tribun penonton.
Mengasah Mental dan Kerja Sama Tim Abad Ke-21
Sementara itu, Dwi Wahyudiarto selaku dosen pengampu menjelaskan bahwa proses di balik layar memiliki nilai edukasi yang jauh lebih mahal. Selama satu semester penuh, para mahasiswa harus memeras keringat untuk menyatukan ide dan ego kelompok. Melalui proses berkarya ini, mereka belajar langsung mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama tim, serta kepemimpinan.
Dosen pengampu lainnya, Yulela Nur Imama, menambahkan bahwa penguatan kompetensi abad ke-21 menjadi target utama dari perkuliahan seni ini. Kreativitas tanpa batas yang lahir di atas panggung Sriwedari menjadi modal penting bagi masa depan para calon pendidik. Akhirnya, kesuksesan Pentas Seni Tari PGSD UMS tahun ini mempertegas komitmen kampus dalam mencetak pendidik masa depan yang inovatif, adaptif, dan berwawasan budaya luas.
Kontributor: Fika
Editor: Ayma



