Penanganan ISPA pada Anak: RS UMS A.R. Fachrudin Perkuat Kompetensi Nakes Bersama Dinas kesehatan Kota Surakarta
PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Surakarta (RS UMS) A.R. Fachrudin terus berkomitmen meningkatkan mutu pelayanan kesehatan masyarakat. Komitmen ini terwujud lewat partisipasi aktif dalam pertemuan tatalaksana P2 ISPA yang digelar Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Rabu (21/10/2026).
Acara yang berlangsung di Hotel Amrani Surakarta ini berfokus pada penguatan kapasitas tenaga kesehatan. Dalam kesempatan tersebut, Manajemen RS UMS A.R. Fachrudin mengutus Ninda Puspitasari, A.Md.Kep., untuk mendalami strategi penanganan ISPA pada anak dan balita.
Langkah strategis ini bertujuan mempercepat deteksi dini penyakit saluran pernapasan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Di samping itu, sinergi antar-fasyankes se-Kota Surakarta ini memantapkan standar keselamatan pasien secara berkelanjutan.
Waspadai Komplikasi Pneumonia dan Gejala ISPA Balita
Narasumber kegiatan, dr. Murniati Rahayu, M.Sc., Sp.A., menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap penanganan ISPA pada anak. Infeksi saluran pernapasan bagian atas maupun bawah ini dapat menyerang organ hidung, tenggorokan, hingga paru-paru balita.
Anak-anak memiliki daya tahan tubuh yang sedang berkembang, sehingga mereka lebih rentan terserang penyebab ISPA dari bakteri atau virus. Apabila tenaga medis dan orang tua tidak menangani gejala awal secara tepat, infeksi tersebut berisiko memicu pencegahan pneumonia anak yang membutuhkan penanganan darurat.
Dalam mengendalikan risiko penyakit ini pada balita, tenaga kesehatan berpatokan pada tiga pilar utama pengendalian. Pilar pertama berfokus pada faktor lingkungan, seperti menjaga kualitas udara, kepadatan hunian, dan kecukupan ventilasi rumah.
Sementara itu, pilar kedua menekankan kondisi individu anak melalui pemenuhan gizi seimbang dan kelengkapan status imunisasi. Pilar ketiga melengkapi upaya penanganan lewat pembiasaan perilaku hidup bersih, mulai dari etika batuk hingga kebiasaan rutin mencuci tangan di lingkungan keluarga.
Atas dasar itulah, pemahaman komprehensif mengenai ketiga pilar risiko tersebut menjadi pijakan utama tenaga kesehatan dalam mengedukasi masyarakat.
Ketepatan Diagnosis dan Penggunaan Obat Rasional
Selain pemetaan risiko, pelatihan ini menyoroti tata cara diagnosis klinis secara presisi. Nakes harus mampu membedakan batuk akut, bronkitis, croup, hingga gejala berat gejala ISPA balita.
Penggunaan obat rasional, khususnya antibiotik, juga mendapat perhatian serius. Mayoritas kasus ISPA awal bersumber dari infeksi virus, sehingga tidak memerlukan terapi antibiotik. Dokter maupun perawat wajib memastikan indikasi bakteri sebelum memutuskan pemberian obat keras.
Tenaga kesehatan juga dibekali kemampuan mengenali tanda bahaya darurat pada pasien balita. Gejala krisis tersebut meliputi dada sesak, warna kulit kebiruan, dehidrasi parah, hingga penurunan kesadaran.
Langkah responsif dalam penanganan ISPA pada anak terbukti efektif menekan angka komplikasi fatal di rumah sakit.
Komitmen RS UMS Surakarta dalam Pelayanan Kesehatan
Keikutsertaan perwakilan RS UMS Surakarta menjadi bukti nyata dedikasi rumah sakit dalam penguatan SDM berkelanjutan. Pengetahuan klinis terbaru ini akan langsung diterapkan pada layanan keperawatan harian.
Sinergi kuat bersama Dinkes Surakarta ini memantapkan peran rumah sakit Muhammadiyah dalam mendukung program promosi kesehatan daerah. Pelayanan yang profesional dan humanis senantiasa menjadi landasan utama bagi operasional RS UMS A.R. Fachrudin.
Melalui peningkatan kompetensi berkala, rumah sakit berharap dapat terus memberikan kontribusi nyata. Langkah promotif, preventif, dan kuratif ini siap dioptimalkan demi mewujudkan masyarakat Surakarta yang sehat dan sejahtera.
Kontributor: Sidiq Pramudito | RS UMS A.R. Fachrudin
Editor: Akmal



