Masa Depan Kecerdasan Buatan Harus Dikendalikan, Pakar Dunia Kumpul di Solo Ingatkan Bahaya AI
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Sejumlah pakar teknologi terkemuka dari berbagai belahan dunia mendesak pergeseran arah dalam pengembangan teknologi digital agar tidak mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Isu krusial mengenai masa depan kecerdasan buatan yang wajib dikontrol demi kemaslahatan sosial tersebut mengemuka saat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar konferensi internasional SIML 2026 di Surakarta, Rabu (24/6/2026).
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menegaskan pentingnya arah baru dalam inovasi digital. Menurutnya, perkembangan teknologi masa kini tidak boleh mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan.
“Kita sedang menyaksikan perkembangan luar biasa dalam kecerdasan buatan dan teknologi berbasis data. Namun, kemajuan tersebut harus tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkap Prof. Harun Joko Prayitno saat membuka acara.
Ia menambahkan bahwa institusi pendidikan tinggi memikul tanggung jawab besar dalam mengawal disrupsi ini. UMS berkomitmen untuk memastikan inovasi teknologi mampu meningkatkan kualitas hidup, memperluas inklusi sosial, dan menyelesaikan persoalan nyata global.
Tantangan Global Etika Kecerdasan Buatan
Tantangan senada juga mengemuka dalam International Conference on Smart Computing, Internet of Things, and Machine Learning (SIML) 2026. Forum ilmiah internasional yang berlangsung pada 10-11 Juni 2026 ini mengusung tema “Human-Centered Intelligence: Bridging AI, Data, and Society”.
Ketua Pelaksana SIML 2026, Dr. Eng. Yusuf Sulistyo Nugroho, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa algoritma canggih harus membawa dampak positif bagi kehidupan sosial. Menurut Yusuf, minat para peneliti dunia terhadap teknologi berbasis kecerdasan buatan kini terus melonjak tajam.
“Perkembangan teknologi tidak hanya berfokus pada algoritma dan sistem, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut memberikan dampak yang bermakna bagi masyarakat,” kata Yusuf.

Seleksi Ketat Riset Machine Learning Dunia
Animo global yang tinggi ini terlihat dari ratusan artikel ilmiah yang masuk ke meja panitia. Tren teknologi terkini menunjukkan bahwa bidang machine learning menjadi topik yang paling banyak diminati oleh komunitas akademik internasional.
Panitia mencatat ada 219 artikel dari 11 negara yang memperebutkan slot presentasi. Demi menjaga reputasi ilmiah, tim reviewer dari 18 negara menerapkan proses seleksi ketat menggunakan platform EDAS dengan metode double-blind peer review. Hasilnya, panitia hanya meloloskan 100 artikel dan menolak 119 artikel lainnya.
Sebagai langkah nyata, UMS juga meluncurkan kompetisi pendamping bernama Student Poster and Article Research Competition (SPARK) 2026. Ajang inovasi mahasiswa lintas negara ini bertujuan untuk merancang teknologi masa depan demi mendukung keberlanjutan komunitas global.
Kontributor: Fika
Editor: Alafasy



