Lewat Batik Jumputan, Mahasiswa UMS Jaga Warisan Budaya Indonesia di Malaysia
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Upaya menjaga eksistensi kekayaan Nusantara di ranah global terus bergulir setelah mahasiswa UMS mengenalkan batik jumputan kepada generasi muda Indonesia yang tumbuh besar di Selangor, Malaysia, Kamis (11/06/2026).
Pelatihan di Sanggar Bimbingan (SB) Banting, Selangor, Malaysia ini menjadi jembatan emosional bagi anak-anak pekerja migran. Dalam aksi nyata tersebut, mahasiswa UMS mendampingi para peserta secara personal. Mereka mengajarkan warisan budaya Indonesia ini mulai dari tahap melipat, mengikat kain, hingga proses pewarnaan.
Oleh karena itu, pendekatan edukasi yang menyenangkan membuat anak-anak perantauan tersebut sangat antusias. Mereka juga bebas mengeksplorasi warna untuk menciptakan motif kain pilihan sendiri. Alhasil, pengalaman pertama bersentuhan langsung dengan teknik tradisional ini memicu kegembiraan yang luar biasa dari para peserta.
Eksperimen Warna Anak Perantauan di Malaysia
Sebagai contoh, salah satu murid SB Banting bernama Josua tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Bocah tersebut berulang kali mencoba berbagai kombinasi ikatan karet pada kain putih miliknya. Akhirnya, dia merasa takjub saat melihat hasil akhir kain celupnya yang penuh warna.
“Seru banget. Aku bisa eksperimen banyak warna dan motif biar batiknya cantik. Sebelumnya juga belum pernah mencoba, tapi ternyata asik,” ujar Josua setelah melihat kain hasil karyanya.
Tentu saja, antusiasme yang tinggi tersebut menjadi bukti bahwa seni tradisional mampu melintasi batas negara. Melalui kegiatan KKN Internasional UMS ini, mahasiswa sukses menghidupkan ruang kelas dengan warna-warni budaya Nusantara.
Menumbuhkan Nasionalisme di Negeri Jiran
Selain mengasah aspek motorik, pelatihan ini juga memicu kreativitas anak secara mendalam. Para peserta belajar menghargai proses panjang untuk menghasilkan sebuah karya seni yang bernilai tinggi. Sebab, mahasiswa memang sengaja merancang aktivitas ini sebagai sarana pembelajaran multidimensi yang aplikatif.
Di sisi lain, pihak universitas menyadari pentingnya menanamkan identitas nasional sejak dini. Hal ini karena anak-anak pekerja migran rentan kehilangan kedekatan emosional dengan tanah air mereka. Oleh karena itu, media kain ikat celup ini menjadi sarana diplomasi kebudayaan yang sangat efektif.
“Tapi secara tidak langsung, anak-anak juga ditanamkan rasa bangga dan kecintaan terhadap budaya bangsa Indonesia, meski mereka tumbuh dan besar di perantauan,” ujar Naswa Labibah, salah satu mahasiswa delegasi UMS.
Karakter Unik Kain Ikat Celup
Selanjutnya, teknik pewarnaan ini memiliki keistimewaan tersendiri dibanding jenis batik lainnya. Proses pembuatan motifnya sama sekali tidak menggunakan malam atau lilin batik. Sebaliknya, pembuat hanya mengandalkan ikatan tali atau karet yang kuat untuk menghalangi masuknya warna.
Dengan demikian, efek rembesan zat pewarna pada serat kain justru melahirkan estetika yang abstrak dan menawan. Setiap produk yang dihasilkan juga pasti berbeda satu sama lain. Karakter personal inilah yang membuat proses pembuatannya selalu dinanti oleh anak-anak.
“Proses pengikatan atau jumput inilah yang menghasilkan motif-motif unik, simetris, dan khas yang tidak bisa diulang secara persis, sehingga setiap lembar batik jumputan menjadi karya yang benar-benar satu-satunya,” terang mahasiswa UMS lainnya, Hanifah Herawati.
Melalui program KKN Internasional UMS bertajuk Mangunsari Goes Abroad ini, delegasi mahasiswa berharap pesan pelestarian tersampaikan dengan baik. Kini, anak-anak SB Banting pulang membawa keterampilan baru. Di samping itu, mereka juga mengantongi rasa bangga terhadap kekayaan leluhurnya.
Kontributor: Affiq
Editor: Alafasy



