Mahasiswa PBSI UMS Didorong Jadi Agen SDGs melalui Bahasa Indonesia

PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendorong mahasiswa berperan aktif sebagai agen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) melalui penguatan bahasa Indonesia.
Dorongan itu disampaikan dalam kuliah umum bertema “Dari Kampus untuk Dunia, Mahasiswa PBSI sebagai Aktor Penting dalam Implementasi SDGs” yang digelar pada Kamis, 12 Maret, di Ruang Seminar Gedung Induk Siti Walidah UMS.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menjelaskan bahwa mahasiswa dapat berkontribusi dalam implementasi SDGs melalui berbagai cara, salah satunya dengan mengenalkan budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia kepada dunia internasional.
Menurut Harun, bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi personal, tetapi juga memiliki dimensi komunal yang memperkuat identitas bangsa.
“Siapa lagi yang merawat, mencintai, mempromosikan, dan meninggikan derajat bahasa Indonesia kalau tidak kita semua,” ujar Harun.
Ia juga menyoroti upaya internasionalisasi bahasa Indonesia yang terus berkembang. Namun, masih ada sejumlah tahapan yang perlu dilalui agar bahasa Indonesia dapat diakui sebagai salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurutnya, jumlah pengguna bahasa Indonesia menjadi salah satu faktor penting yang dapat memperkuat posisi bahasa Indonesia di tingkat global.
Belajar Implementasi SDGs dari Jerman
Dalam kuliah umum tersebut, Prodi PBSI UMS menghadirkan Esie Hanstein, dosen Humboldt University Berlin dan Leipzig University, Jerman. Ia juga dikenal sebagai aktivis UNESCO dan pegiat SDGs.
Esie turut terlibat dalam pengalihbahasaan lagu The Seventeen Global Goals Project feat. Esie: Dunia Dalam Bahaya. Dalam paparannya, ia menceritakan bagaimana mahasiswa di Jerman memiliki kesadaran tinggi terhadap penerapan SDGs.
Ia menjelaskan, terdapat berbagai program yang memungkinkan mahasiswa mengikuti kegiatan ekskursi untuk berkontribusi dalam isu-isu yang berkaitan dengan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan, mulai dari kesehatan hingga kesejahteraan masyarakat.
Menurut Esie, mahasiswa PBSI UMS memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang dapat memulai kampanye positif dengan menggunakan bahasa Indonesia secara luas.
Dorongan Praktik Nyata di Lingkungan Kampus
Esie juga mendorong mahasiswa untuk memulai langkah sederhana dalam mendukung keberlanjutan, seperti membawa gelas minum dan wadah makan sendiri guna mengurangi penggunaan plastik.
“Dengan menggunakan kantong sendiri itu jauh lebih membanggakan daripada plastik. Memang tidak langsung mengubah semuanya, tetapi jika dilakukan perlahan, pasti, dan konsisten, itu sangat membantu menyelamatkan lingkungan,” kata Esie.
Selain itu, ia menilai mahasiswa dapat menyusun program bersama teman kuliah maupun komunitas untuk menerapkan nilai-nilai SDGs di lingkungan sekitar. Ia juga membuka peluang ekskursi ke Humboldt University agar mahasiswa dapat mempelajari praktik penerapan SDGs secara langsung dan mengadaptasinya di Indonesia.
“Praktik terbaik adalah mengirim mahasiswa dari sini untuk belajar langsung dari mahasiswa yang berada di sana,” ujarnya.
Kuliah umum tersebut berlangsung dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa. Mereka aktif berdiskusi untuk menggali lebih dalam penerapan SDGs yang dapat dilakukan di kampus maupun di lingkungan masing-masing.
Kontributor: Maysali
Editor: Al-Afasy



