Berita

Kurikulum Berbasis Cinta: Solusi Baru Muhammadiyah Atasi Masalah Kesehatan Mental Siswa

PWMJATENG.COM, JAKARTA – Demi menciptakan lingkungan sekolah yang sehat secara mental dan spiritual, Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah resmi mendorong penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di seluruh madrasah Muhammadiyah mulai tahun 2026.

Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah memperkenalkan pendekatan baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Langkah ini terwujud dalam diskusi daring mengenai implementasi Kurikulum Berbasis Cinta pada Rabu (10/6/2026). Kurikulum ini menempatkan nilai cinta sebagai fondasi utama di sekolah. Pendekatan ini hadir sebagai solusi kesehatan mental siswa yang kini menjadi perhatian serius para orang tua.

“Diskusi ini memberikan manfaat bagi seluruh madrasah Muhammadiyah dalam mengembangkan pendidikan yang berkarakter, humanis, dan berorientasi pada pembentukan generasi unggul,” ujar Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, Ph.D.

Integrasi Nilai Kemanusiaan dalam Kelas

Pendekatan ini mengintegrasikan nilai cinta kepada Allah, sesama manusia, hingga tanah air ke dalam aktivitas belajar. Fokus utamanya bukan hanya penguasaan materi akademis, melainkan pembentukan kesehatan mental dan spiritual yang stabil.

Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi Ditjen Pendis Kemenag RI, Dr. H. Abdul Basit, S.Ag., M.M., menyebutkan bahwa keterlibatan orang tua dan guru sangat krusial. Sinergi ini menjamin tujuan pendidikan yang inklusif dapat tercapai.

“Melalui integrasi nilai-nilai tersebut, Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan mampu membentuk generasi yang berakhlak mulia, toleran, serta memiliki kesehatan mental dan spiritual yang baik,” jelas Abdul Basit.

Peran Guru sebagai Fasilitator

Guru berperan sebagai fasilitator utama dalam menanamkan nilai-nilai tersebut. Mereka menghubungkan materi ajar dengan kehidupan nyata melalui proses perencanaan yang sistematis.

Fasilitator AKMI, Dr. Hj. Erni Susiani, M.Pd., menambahkan bahwa setiap mata pelajaran kini membawa misi pembentukan karakter. Siswa diharapkan berkembang secara utuh dari aspek pengetahuan hingga keterampilan sosial.

“Guru perlu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai cinta dalam setiap aktivitas belajar,” tegas Erni Susiani.

Muhammadiyah berharap model pendidikan ini menjadi standar baru di seluruh madrasah. Dengan basis kasih sayang, sekolah menjadi tempat yang lebih aman dan nyaman bagi tumbuh kembang generasi muda.

Kontributor: Hendra
Editor: Alafasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://middlepassage.dei.uc.pt/https://privacycolab.dei.uc.pt/https://cmd.dei.uc.pt/https://henrique.dei.uc.pt/
https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/
https://simseam.ft.uns.ac.id/https://sipil.ft.uns.ac.id/slot gacorhttps://aku.ac.id/https://jpl.staiku.ac.id/https://jist.publikasiindonesia.id/slot gacorhttps://akperstg.ac.id/https://fisip.uisu.ac.id/https://web.pn-sidrap.go.id/
https://hormon-osteoporosezentrum.de/judi bolahttps://saopaulodeolivenca.am.gov.br/slot gacor